BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 31: Tahanan



Para anak buah meninggalkan ruangan pertemuan, kedua orang penting itu menunggu selama beberapa saat. Penantian yang tidak akan mengecewakan karena tahanan yang di maksud si pria garang, akan menguncang kenyataan yang selama ini terpendam.


Semilir angin yang menyapa menyusup menggelitik, menghadirkan aroma segar dengan esensial yang sangat familiar. Terasa aliran darah berdesir dengan detak jantung yang berpacu cepat. Kedatangan para anak buah dengan mendorong kotak besar tinggi yang tertutup kain hitam, mengalihkan perhatian kedua pemimpin.


"Tuan, tahanan nomor tiga." lapor si anak buah, lalu menarik kain hitam yang menutup kotak pertama. Tentu setelah melihat isyarat sang tuan yang memintanya untuk menunjukkan isi dari kotak tersebut.


Aset tahanan nomor tiga adalah seorang pengendali elemen api. Pria tua yang dibekukan oleh pengendali air dengan tambahan kalung segel yang dibuat khusus menggunakan kerang putih berbentuk terompet. Pria itu merupakan salah satu tetua yang sengaja diawetkan demi keberlangsungan masa depan.


Bukan untuk niat yang baik karena suatu hari ini akan mendapatkan pekerjaan yang sulit. Selain itu, pria itu memiliki tingkatan elemen teratas, bukan yang tertinggi atau terhebat. Namun cukup menjadi perisai saat waktunya tiba, sedangkan tahanan nomor lima belas. Tak jauh beda nasibnya dengan tahanan nomor tiga.


Penutup hitam dari kotak kedua ikut dilepaskan. Dimana sang tuan rumah menjelaskan dari satu tahanan yang di anggap aset. Kemudian beralih ke tahanan kedua. Dimana kedua tahanan itu, hanya menjadi miliknya seorang. Terdengar egois dalam belenggu keangkuhan dan kesadaran memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Tahanan nomor lima belas. Dimana wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih semua itu, seorang pengendali udara. Tingkat dari kecepatan saat mengendalikan angin. Bisa menghempaskan barisan pertama di medan pertempuran. Sayangnya, ia harus dibekukan sama seperti tahanan nomor tiga dengan kalung segel.


Semua itu hanya ulah satu orang. Dark Shadow, sang pemburu bayangan. Selama hidupnya hanya memiliki ambisi untuk menjadi penguasa. Bukan hanya licik, cerdik, dan bengis. Pria itu selalu melakukan semua taktik dengan sepuluh langkah ke depan. Jika tidak, sudah pasti tidak sekuat sekarang.


Pertemuan antara Dark Shadow bersama sang raja yang merupakan ayah dari Tessa berakhir dengan baik. Dimana kesepakatan sudah ditetapkan. Kini yang tersisa hanya rasa penasaran. Dimana Tessa berada? Apakah gadis itu masih di luar sana atau bersembunyi di sebuah tempat?


"Jaga markas! Aku akan keluar sebentar." Dark Shadow mengibaskan tangan bersama kilatan cahaya yang memudarkan raga nya.


Seberkas cahaya yang mulai datang menerpa rerumputan menghantarkan raga sang pemburu bayangan tepat di tempat pertemuan. Dimana tempat itu, biasanya menjadi waktu kebersamaan antara ia dan Tessa, namun setelah memeriksa hanya dengan satu tarikan nafas. Tidak ada jejak dari si gadis pemilik setengah jiwanya itu.


Sejenak mengingat rasa sakit yang menyesakkan dada beberapa waktu terakhir sebelum pertemuan dengan sang raja. "Tessa Flamboyan. Tessa Flamboyan. Tessa Flamboyan."


Menyebutkan nama tiga kali, menunggu beberapa saat. Menikmati arah angin yang akan menunjukkan arah tujuan, tetapi semilir angin terasa hanya berputar mengelilinginya. Sekali lagi, ia mencoba untuk melakukan telepati. Namun, lagi lagi gagal. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa terputus komunikasinya?


"Jangan pernah lepaskan tanganmu dari genggaman tanganku atau kamu akan terbuang ke dimensi lain. Jiwamu tidak murni."