
Pengakuan Tessa, membuat Tuan Elang melepaskan cengkeraman tangannya. Mencoba untuk bersikap biasa, meski tak mungkin bisa. Keduanya sadar akan kekuatan masing-masing, tetapi masih memilih untuk tetap diam menyembunyikan. Situasi menjadi canggung, hingga suara pelayan lain mengalihkan perhatian.
Tanpa sungkan, dibungkamnya mulut si gadis pelayan agar tidak bersuara, "Pergilah! Aku akan turun lima menit lagi."
Setelah mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Barulah di lepaskannya tangan dari bibir yang sudah mengerucut, "Tuan, itu namanya kdrt, loh."
Kdrt? Kekerasan dalam rumah tangga. Emangnya gadis itu, siapa dirinya? Apa pelayan barunya hobi nonton drama korea, ya? Heran saja, bahasa ampe bawa kdrt segala. Padahal masih umur begitu muda dan pasti terpaut jauh dari usia seorang pria dewasa.
Tak ingin berdebat, langkah kakinya berjalan menjauh, membuat gadis itu sibuk menghentakkan kaki. Ngambek sepertinya, tapi lupa jika ia hanya seorang pelayan. Bukan seorang tuan putri. Begitu pintu dibuka dengan uluran tangan. Barulah paham, jika pemilik kamar mengusir tanpa ucapan.
Ada ya, pria tak berperasaan seperti itu? Panjang kali lebar mengomel di dalam hati. Tessa tidak sadar, setiap umpatan, pertanyaan, pujian, dan kekesalan cukup terdengar begitu jelas oleh Tuan Elang. Namun, gadis itu, tidak bisa membaca pemikiran dari sang majikan.
Setelah memastikan pelayannya berpindah tempat, tatapan mata tak lagi dipusingkan. "Jangan kembali ke kamarku!"
Niat hati apa, dan melakukan apa. Untuk pertama kalinya, ia ragu untuk melakukan intimidasi karena secara sadar mengetahui bahwa Tessa bukan gadis sembarangan. Pada akhirnya, kedua manusia itu berpisah untuk sesaat. Waktu yang berlaku, trus menangkup dalam harapan doa.
Seiring mentari yang terus bersinar terang, bergantikan sang rembulan malam. Hari yang berat untuk tetap bertahan di rumah seharian. Semua itu dia lakukan untuk mengawasi si pelayan baru. Seharian sengaja tidak menggunakan kekuatan apapun. Setidaknya tidak akan memancing kecurigaan.
Namun, ternyata bukan hanya dia yang memiliki pemikiran sama. Tessa juga bersikap sangat waspada, gadis itu rela bersusah payah melakukan semua tanggung jawabnya sebagai seorang pelayan. Tidak ada satu kesempatan yang digunakan untuk mengasah kemampuan. Sulit, tapi tetap dilakukan.
"Tessa, pergilah! Panggil Tuan Muda untuk sarapan." Pinta Bibi memberikan tugas yang sama, hampir seminggu memberikan alasan agar mengganti tugasnya dengan pekerjaan lain. "Jangan menolak. Hari ini adalah hari baik menurut ramalan harian. Jadi, Tuan pasti dalam mood sangat baik."
Andai benar seperti itu, sudah pasti akan lebih baik. Sayangnya tidak. Mood Tuan Muda akan selalu meledak dalam keheningan. Meski dengannya hanya perang mata dengan mulut terbungkam. Tetap saja, tatapan mata tajam dengan aura yang keluar. Sungguh menghanyutkan keberaniannya.
Sekali lagi, setelah satu minggu. Langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar sang majikan. "Pagi, Tuan. Sarapan sudah siap."
Hening, tidak ada jawaban.
"Tuan Muda!" Tessa kembali mengetuk pintu kamar, tetapi tetap tidak ada jawaban. Bagaimana mungkin seperti itu?
Rasanya mustahil, jika majikannya tidak ada di rumah. Namun, sekuat tenaga mencoba untuk menahan diri agar tidak trus jatuh ke dalam rasa penasaran. Satu menit, lima menit, sepuluh menit. Panggilan tidak mendapatkan jawaban, apalagi reaksi dari dalam kamar. Perasaannya semakin tidak terkendali.
Tanpa pikir panjang. Gadis itu menggunakan kekuatannya hanya untuk membuka pintu kamar yang terkunci dari dalam, namun begitu melihat isi kamar. Bola matanya hampir keluar melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Bibirnya tidak bisa berkata apapun, selain langkah kaki yang berlari menghampiri tempat sang majikan terduduk.
"Tuan, apa yang terjadi padamu?" Tessa bertanya dengan wajah pucat yang kebingungan, tetapi yang ditanya hanya menunjuk ke arah deretan laci yang ada di depan mata. "Tunggu, akan ku ambilkan.''