
Rasa takut yang berubah menjadi kegelisahan hati. Ini bukan kali pertamanya. Menjadi yang terbaik, bahkan terkuat diantara para manusia pilihan. Tentu bukan hal mudah. Pada dasarnya harus ada yang dikorbankan. Tidak peduli itu sadis atau jahat.
Kenangan yang menggantung menjadi masa lalu. Tiba-tiba datang menyapa. Sekelebat ingatan yang terus berteriak memekik dalam kesunyian hati. Suara tawa dengan canda tawa yang menyayat emosi. Wajah-wajah tak berdosa dengan seringai yang merendahkannya.
"Hey, buruan. Awas sampai ketinggalan. Bersihkan sampai mengkilap, ingat siapa kamu di asrama ini." Sindir seorang anak dengan wajah tampan, tetapi tubuhnya yang terlihat subur, membuat anak itu cepat tumbuh dewasa.
Tatapan matanya hanya diam nanar tanpa keberanian untuk melawan. Setiap hari harus menerima penghinaan karena dia seorang putra pelayan. Asrama yang dikhususkan untuk para pemilik kekuatan, tetapi ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk membuktikan diri.
Usahanya tidak mudah. Di tengah kemudahan para siswa lain yang memang memiliki kekuatan sejak lahir ke dunia. Ia justru berlari ke kembah terdalam hanya untuk mencari ilham. Keputusasaan yang berujung pada ilham. Hari yang tidak terlupakan. Ketika menemukan sebuah buku kuno.
Buku kuno yang membuka pintu rahasia dan dari sanalah. Ia mulai mendapatkan kekuatan. Namun, semua tidak semudah yang bisa dibayangkan. Syarat untuk mendapatkan kepercayaan penjaga pintu sangatlah berat hingga rela mengorbankan orang-orang yang ada disekitarnya satu per satu.
"Tessa, kapan kamu kembali?" Dark Shadow melepaskan tangan gadisnya, lalu berbalik menatap wajah pucat yang tersenyum manis kepadanya. "Apa yang membawamu kemari? Bukankah bisa mengirimkan surat, jika ingin bertemu denganku."
Tessa Flamboyan. Gadis lemah yang memiliki separuh dari kekuatan Dark Shadow. Dialah satu-satunya orang yang bisa menghapus jarak kegelapan dan cahaya dalam satu kali bacaan mantra. Namun, bukan berarti gadis itu akan menurut perintah setiap insan.
Hatinya bagaikan kuil dengan pintu berlapis baja. Tidak peduli seberapa dekat orang-orang memujanya. Tessa hanya bisa memberi apa yang orang lain pantas dapatkan. Tidak ada kecurangan, apalagi kekeliruan. Dialah sang dewi rembulan.
"Dark Shadow, kedatangan ku bukan tanpa alasan." Tidak ada tatapan yang lebih mematikan dari tatapan matanya, bahkan pria baru saja menghunjam dengan keseriusan harus mengalihkan pandangan agar tidak terbakar dalam kebekuannya. "Dia telah kembali untuk membalaskan dendam. Apa kamu lupa kebenaran itu?"
Sungguh tidak ada niat untuk mengingat, tapi kedatangan Tessa hanya untuk memberi peringatan. Ingin sekali bisa mengendalikan alam. Namun, ia bukan Tuhan. Kekuasaan yang dimilikinya tak seberapa. Meski pada kenyataannya, dia terhebat di antara yang terbaik.
"Tessa," Dark Shadow menghela nafas kasar, "Jangan ikut campur urusan kami. Dia kembali, aku tidak peduli. Selama raganya masih bersamaku. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
Meremehkan. Begitulah sifat Dark Shadow di depan, tetapi jauh di lubuk hati pria itu. Tidak ada kedamaian, selain kegelisahan bertemu keraguan. Bukan hal baru lagi. Jika peringatan hanya dijadikan sebagai lelucon. Tak ingin memperpanjang hal tidak berguna itu, Tessa tersenyum simpul, lalu menghilang.
*Aku tidak akan membiarkan usahaku sia-sia. Apapun yang terjadi, posisiku tidak seorangpun bisa mengubahnya. Apalagi mencoba menyingkirkan keberadaan di muka bumi ini.~ucap hati Dark Shadow*.