BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 19: Takdir



Ketika satu kisah berakhir, maka kisah baru dimulai. Takdir tidak akan tertukar karena garis itu telah ditetapkan. Itulah Kenyataan Dalam Dunia ini hukum alam akan selalu berlaku Begitu juga dengan Hukum Karma.


Kenangan masa lalu pergi menyerah menghilang dalam angan. Inilah yang selalu terjadi ketika ia terdiam merenungkan segala sesuatu, tetapi kenapa ia tak pernah mendapatkan jawaban atas apa yang menimpa kedua orang tuanya. Selain rasa sakit dan sesak mengingat jeritan dan tatapan yang begitu menyedihkan menyayat hatinya.


"Tetap tetang karena semua akan sesuai dengan keinginan alam. Jika memang ini jalan kehidupan ku, maka sudah pasti semua akan mudah meski harus bertarung melawan badai kegelapan." ucapnya bermonolog pada dirinya sendiri.


Sebagai manusia biasa. Kasih sayang orang tua adalah hal terbaik sepanjang masa, tapi ketika kehangatan itu terenggut darinya. Tidak ada lagi tempat untuk berlindung, ketika merasa kesepian. Tidak ada tempat berbagi kegundahan hati, ketika tenggelamkan dalam kesendirian.


Kekuatan yang dimilikinya bukan hanya berawal dari tragedi yang merenggut kedua orang tuanya, tetapi semua bersambut dengan penderitanya selama ini. Siapa yang akan sanggup, bersembunyi dari dunia selama sepuluh tahun agar bisa menunggu perubahan wajah dan bentuk tubuh, seperti dirinya?


Tentu tidak ada. Apalagi, demi mencapai seluruh rencananya. Ia harus bermain petak umpet dan terkadang menjadi buroban karena melakukan kenakalan umum sebagai bentuk protes yang menjadi pelampiasan rasa sakit di hatinya.


Kini semua berubah, ia bukan anak kecil yang bersembunyi dibalik lemari. Akan tetapi, seorang pria dengan banyak keahlian yang tidak terbayangkan. Meskipun begitu, tingkat pelatihannya semakin berkurang. Semua itu karena ia terlalu sibuk mencari sisa jejak masa lalunya. Di hidupnya, tidak seorangpun mendukung, apalagi memberikan tempat untuk berpulang.


Satu hembusan angin memudarkan pandangan di sekitarnya. Fokus yang tinggi meninggalkan sisa rasa yang tak terkendali. Ia kembali ke ruang kerjanya dengan duduk di kursi kebesarannya. Suara detak jarum jam kembali terdengar menyambut kedatangannya.


Untuk apa sibuk mengurusnya? Selama ini, semua siap tanpa diminta. Sontak saja, ia memilih untuk membiarkan sang pengetuk pintu untuk pergi meninggalkan depan pintu ruang kerjanya. Lalu, ia bisa kembali memeriksa dokumen file lain agar mendapatkan informasi yang mungkin akan membantu.


"File Belenggu." Tuan Elang mengernyitkan dahi, kenapa nama dari file tersebut begitu aneh? Belenggu bukankah nama lain dari jeratan. Jadi kenapa ada orang yang mengirimkan misi untuk hal yang mungkin tidak berkaitan dengan para pengendali elemen.


Dibukanya file tersebut, satu halaman mulai dibaca dengan serius. Setiap kata yang tertulis menjelaskan sebuah kisah mitologi kuno, tapi ia tidak pernah mendengarkan mitologi seperti yang ada di file belenggu. Rasa penasaran semakin membawa tatapan cepat berganti dari satu paragraf ke paragraf lainnya.


Selama sepuluh menit. Akhirnya selesai membaca keseluruhan file. Tidak berkaitan dengan masa lalunya, tapi ia ingin tahu. Apakah mitologi yang diceritakan benar adanya? Jika iya, bisakah mencoba metode yang sama untuk menemukan titik terang pencariannya? Entahlah.


"Jika aku ingin tahu, apakah ini bekerja atau hanya omong kosong. Siapa yang bisa membantuku? Seseorang yang akan menerima permintaanku tanpa syarat. Satu persatu nama dipikirkan, tetapi hingga nama ke dua puluh. Tetap tidak ada alasan yang tepat untuk menerima tawarannya.


Tiga puluh menit berlalu, hitungan sudah memasuki nomor ke lima puluh. Di antara semua nama dan wajah yang melintasi ke dalam kepalanya. Satu nama tertera begitu jelas dengan sisa harapan terakhir. Seperti mengharapkan sebuah lilin yang bersinar di tengah kegelapan.


"Starla!"