BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 28: Lembayung putri Kepala Desa



Bagaimana memberikan saran? Jika raganya saja dikuasai Sebastian. Ingin sekali berteriak. Terserah mau bagaimana, asalkan gadis itu bisa tertolong. Namun, nyali nya tak sebesar itu. Ia sadar diri hanya manusia biasa, sedangkan Sebastian memiliki kelebihan yang masih menjadi di luar nalar.


Kisah yang paling membuatnya gentar adalah Sebastian tidak akan membiarkan dirinya lepas begitu saja. Raga itu bisa dikuasai dengan mudah. Lalu, apa sulitnya membebaskan jiwa yang diam duduk dipojokkan relung terdalam? Tentu seperti menggilas semut.


"Tuan, bukankah Anda yang mengendalikan tubuhku." Dave berusaha untuk bersikap baik, "Bertarung saja, bukankah Anda ahli menjatuhkan lawan? Aku hanya bisa diam menjadi penonton yang tidak mungkin untuk ikut campur."


"Hmmm. Benar juga," Sebastian manggut-manggut sepemikiran dengan Dave, tetapi melihat para anak laki-laki yang masih berusia sekitar enam belas tahunan. Apakah harus menggunakan kekerasan? Sepertinya tidak diperlukan. "Katakan satu hal. Apa kamu mengenal gadis itu?"


Gadis yang duduk dengan terpaksa berteman linangan air mata yang membasahi pipi. Mulutnya sengaja dibungkam menggunakan kain. Apakah benar perbuatan para remaja itu? Terlalu sadis dan frontal. Sepertinya menggunakan kekerasan tidak akan dipermasalahkan. Itu pemikiran Sebastian, tetapi tidak dengan Dave.


"Tuan, namanya Lembayung. Putri dari kepala desa. Anaknya pendiam, tetapi sangat pintar di sekolah dan juga angkuh saat menghadapi para pria yang mengidolakannya. Jika bisa menyelamatkan, kepala desa pasti menawarkan hadiah. Silahkan bernegosiasi untuk mendapatkan izin masuk ke perpustakaan desa."


"Ada apa di perpustakaan desa?" tanya Sebastian tak memahami manfaat, jika mendapatkan akses untuk menuju ruangan yang pasti penuh buku berderet dan berjajar rapi di rak-rak kayu.


Sepertinya, sang pengendali raga tidak tahu tentang desanya. Maka dari itu, mempertanyakan saran yang akan menguntungkan keduanya. Terutama bagi Sebastian yang ingin mencari informasi tentang beberapa tempat yang harus dikunjungi dalam waktu singkat.


"Lakukan saja, Tuan. Aku janji akan menjelaskan nanti." Jawab Dave, membuat Sebastian penasaran. "Selamat bekerja, Tuan. Semoga berhasil tanpa meninggalkan jejak keributan."


Apa harus mengeluh? Tidak. Lagi pula, jika Dave yang bertindak. Bisa jadi hanya akan ada kekacauan. Melihat situasi yang tidak begitu sulit. Sebastian bergerak perlahan. Melipir dari satu pohon ke pohon lainnya hingga mencapai pohon dibelakang si gadis yang katanya putri kepala desa. Suara isakan tangis teredam suara cekikikan para anak remaja lain.


Sesekali memperhatikan situasi. Setelah dirasa aman, barulah ia keluar dari persembunyian. Bukan tubuh, tetapi hanya uluran tangan yang mencoba melepaskan tali. Ternyata tubuh gadis itu, juga diikat ke pohon yang menjadi tempat persembunyiannya. Mungkin para remaja berpikir. Silahkan lari, tapi tidak akan bisa kemana-mana tanpa izin mereka.


Disaat bersamaan. Ia berhasil menarik paksa putri kepala desa. Lalu melambungkan tubuh gadis itu agar jatuh dalam gendongannya. Gerakan yang begitu cepat hingga tak seorangpun melihat kepergiannya bersama si gadis. Tidak peduli dengan tatapan mata tercengang yang tertuju padanya.


Langkah kaki terus berlari seraya menggendong beban yang tidak begitu berat. "Tunjukkan arah rumahmu!"


Hening tanpa jawaban. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? Tentu saja, Sebastian tidak tahu. Jika Dave sangat mengenal Lembayung. Keduanya adalah sepasang kekasih. Satu sisi Dave tersenyum bahagia melihat gadisnya selamat, sisi lain Lembayung semakin terpesona akan karisma dari sang kekasih.


"Apa aku harus menunjukkan dimana rumahku? Seorang kekasih bertanya dengan penuh cinta." Lembayung mengeratkan kedua tangannya yang melingkari leher Sebastian. "Rumah dengan nama Kepala Desa Syamsir Patil, sisi selatan dari arah larimu."


Seketika langkah kakinya terhenti. Pernyataan dari Lembayung benar-benar mengejutkan Sebastian, nama dari Syamsir Patil. Terasa begitu familiar. Apakah gadis itu, tidak sedang bercanda? Jika sampai .....


"Tuan, jangan berpikir macam-macam." Dave memperingatkan, "Lembayung putri angkat yang memiliki kehidupan diberkati dengan keberuntungan. Gadis pemberani yang bisa menolak seratus pemuda agar tetap mencintaiku. Aku tidak mau, siapapun berpikir tidak-tidak tentang kekasih ku."


Lanjutan penjelasan dari Dave. Hampir menghilangkan kesabarannya. Siapa yang tidak marah, jika merasa dimanfaatkan? Sejenak menghirup udara malam yang semakin dingin. Menjernihkan seluruh kemelut di dalam otaknya. Jika memang Lembayung kekasih Dave. Apapun rahasia yang ada di desa, pasti bisa didapatkan dengan mudah.


"Gadis pemberani ku, bisa tunjukkan rumahmu. Kali ini, Aku tidak akan melupakannya. Meski wajahmu terus terbayang di pelupuk mata." Rayu Sebastian mengubah arah emosinya, demi kebaikan bersama.


Sekali saja, ia akan mengalah dari Dave. Apapun yang akan terjadi, biarlah menjadi urusan belakangan. Bagaimanapun harus bertemu dengan kepala desa yang semakin menyulut rasa penasarannya. Jika tidak salah. Samsir Patil adalah nama dari salah satu pendiri perguruan element yang ada di bawah kaki gunung.