BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 22: Sama-sama merasakan



Keesokan harinya. Seluruh pelayan sibuk melakukan pekerjaan masing-masing, tapi Tessa yang masih bingung harus apa. Gadis itu terdiam di pojok ruangan dapur. Ia terbiasa dilayani, namun hari ini bingung mau memulai dari mana. Apakah sanggup menjadi seorang pelayan?


Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu, hanya saja kehidupannya tidak sesulit yang dibayangkan. Andai bisa menggunakan kekuatan, sudah pasti akan dilakukan sejak tadi. Akan tetapi, setelah melihat semua pelayan yang bekerja di rumah itu. Ia sadar, tidak seorangpun memiliki kekuatan. Apalagi menguasai elemen.


Walau demikian, kenapa firasatnya mengatakan ada kekuatan yang membuatnya terus bereaksi untuk waspada. Seolah-olah ada yang mengintai, bahkan sejak masuk ke dalam rumah kemarin. Jantungnya berpacu begitu cepat. Ada yang tidak beres, tapi apa?


Mencoba untuk mencari alasan kegelisahan hatinya, namun tak mendapatkan jawaban. "Maaf, Saya harus melakukan apa?"


"Astaga kamu dari tadi diem aja, ya?" tanya pelayan lain yang baru menyadari akan keberadaan Tessa di ruangan dapur. "Lima menit lagi, Tuan Muda harus sarapan. Jadi, naiklah ke lantai dua dan katakan pada Tuan Muda untuk turun karena hidangan sudah disajikan."


Sebagai pelayan baru, Tessa memilih untuk menghindari perdebatan. Setelah menyanggupi pelayan seniornya. Langkah kaki berjalan meninggalkan ruang dapur, sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Pemilik rumah bukan hanya mewajibkan untuk rumah bersih, tapi juga wangi. Beberapa jenis furniture terkesan sederhana untuk orang yang memiliki uang sebagai kuasa.


Suara langkah kaki yang terdengar hingga ke dalam kamar Tuan Muda. Dimana pria yang masih berbaring menikmati rasa malasnya tengah memainkan jari jemarinya membuat tarian dari gelombang air yang awalnya mengisi gelas air di atas naskah. Tidak ada kata, tetapi fokusnya tetap nyata.


Pagi yang indah untuk menyambut hal baru. Iya 'kan? Kini tak perlu meminta bantuan Starla karena di dalam rumahnya sendiri, ada orang yang bisa membantu dengan alibi saling menyimpan rahasia. Sedikit berpura-pura tidak paham akan lebih menguntungkan. Rencana yang sederhana, tetapi mengesankan. Kurang lebih seperti itu.


"Tiga, dua, satu .....,"


Suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring. Tepat sesuai hitungan dan langkahnya tidak akan salah. Dibiarkannya untuk tetap mengetuk hingga beberapa kali. Satu yang ditunggu yaitu suara si pelayan baru yang harus mengatakan tujuannya. Bukan karena tidak tahu siapa di depan pintu, namun suara hanya bentuk konfirmasi saja.


Beberapa saat menunggu, tetapi tetap tidak ada suara yang ingin didengarnya. Lalu, apa pelayan baru itu kurang paham dengan aturan rumahnya? Baru saja ingin beranjak dari tempat tidur. Suara lembut terdengar begitu merdu menyusup ke dalam kalbu. Seketika ia tersentak dengan kesadaran yang tidak bisa diganggu gugat.


Begitu pintu di buka. Hembusan angin yang menerpa menyentuh wajah cantik dengan seulas senyum sang pelayan. Waktu yang berhenti, membuatnya mengubah keadaan. Entah benar atau tidak. Tanpa berpikir panjang, di bawanya gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa mengaktifkan peredam suara.


Satu jentikan jari mengembalikan waktu hingga tubuh Tessa bergoyang karena tak sadar dengan posisinya yang tidak berdiri dengan tegak. Tubuh itu jatuh menimpa pria yang baru saja berbalik ke arahnya. Tak ayal, wajahnya nyungsep mencium dada bidang beraroma maskulin. Menenangkan, tetapi juga memabukkan.


"Hey, apa kakimu lancip? Berdiri yang benar!" gertak Tuan Elang, membuat Tessa kembali menarik diri agar menjauh dari dada bidang sang majikan.


"Tuan, sarapan sudah siap. Mari." ajak Tessa mengulurkan tangannya dengan tatapan mata menunduk tak berani menatap sang majikan. "Kenapa Tuan diam? Apa ingin sarapan di kamar? Jika iya, saya akan antar."


Polos, tetapi aura begitu kuat. Tentu mencurigakan, bahkan alat pendeteksi kekuatan saja diam tak bergeming. Seakan tidak bisa menemukan element disekitar mereka berdua. Kini, keduanya tenggelam dalam penasaran masing-masing. Melepaskan rasa canggung yang tidak bisa terpisahkan.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tuan Elang, tangannya langsung menyambar dagu Tessa, membuat gadis itu sedikit meringis kesakitan. "Aura ini, bukan sembarang entitas. Apa yang kamu inginkan? Katakan?"


Diam tak bergeming, bingung dengan apa yang harus dijawabnya. Mana mungkin jujur, dia seorang putri yang diasingkan dan juga pemilik setengah jiwa dari Dark Shadow. Sungguh tidak bisa dibiarkan, tetapi jika berbalik menggunakan kekuatan untuk menyelamatkan diri. Justru lebih mustahil lagi. Apalagi di luar sana, pasti orang-orang sibuk mencarinya.


"Tuan, Saya Tessa. Gadis yatim piatu yang kelaparan." jawab Tessa menahan nada suaranya agar terdengar meyakinkan.


Namun, sayangnya. Tuan Elang tidak bisa percaya, tatapan matanya semakin tajam menusuk hingga tubuh Tessa tak kuasa menahan aura yang terus berusaha untuk menekannya. Serangan halus tanpa permisi. Ini membuktikan, jika majikannya bukan pria sembarangan. Boleh saja dunia membantah, tapi ia yakin. Pria yang masih memegang dagunya, merupakan seseorang yang penting untuk keberlangsungan masa depan.


Tessa mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan sang majikan. "Tuan, Saya tidak bisa bernafas."