BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 11: Jiwa yang Tersisa



"Astaga, kenapa bisa seperti itu?" tanya Dave pada dirinya sendiri.


Kepulan asap hitam itu berubah menjadi sebuah bayangan manusia yang datang menemui Dave. Samar, tetapi perlahan mulai jelas. Siapa sangka hanya dengan koran bekas. Seseorang bisa muncul, bahkan kini tersenyum menatap Dave.


"Ka-mu si-ap-a ...," tanya Dave tak sanggup menahan rasa takutnya, bahkan tubuh pemuda itu gemetar dengan suara tulang saking gemeretak. "Per-gi! Aku ti-dak ....,"


Bayangan yang kini berubah menjadi seorang pria, tetapi wajah itu begitu mirip dengan wajahnya. Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa datang dan membuat dia takut. Padahal tidak salah apapun. Dave berusaha menjauh dengan berjalan mundur, tetapi semakin melangkahkan kaki ke belakang.


Pria di depannya berjalan lebih cepat dari manusia biasa hingga tiba-tiba sudah mencengkram pakaiannya. Tatapan mata merah yang nyaman dengan garis mata gelap melingkar seperti panda. Ingin berteriak, tapi suaranya telah lenyap. Apa yang mengendalikan tubuh, dan akal sehatnya?


"Aku butuh ragamu." ucap pria itu langsung menerobos masuk ke dalam tubuh Dave. "Patuhlah! Aku tidak akan membuatmu tersiksa lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan."


Reaksi tubuh yang memberontak, membuat Dave kejang-kejang. Pria itu berusaha menguasai raga yang memiliki wajah sama dengannya, tetapi bayangan yang hanya sisa jiwa. Tetap tak mau menyerah. Keduanya melewati pergulatan panas.


Satu penolakan, berganti satu pemaksaan. Dave berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri, namun pria yang mulai menjadi bayangan perlahan merasuk untuk menguasai. Tubuh pemuda itu jatuh terjerembab, lalu terguling ke sana kemari.


Sekali lagi terdengar suara ketukan pintu. Bukannya membukakan pintu, Dave justru mencari jalan keluar lain. Pria itu bergegas membuka jendela, lalu melompat dari arah samping rumah. Raga yang ideal, bahkan bisa diajak untuk berlari cukup kencang. Langkah kaki yang meninggalkan jejak tanah berlumpur.


Siapa dia? Kenapa mengambil tubuh manusia, sedangkan yang diambil alih tidak bisa melakukan pemberontakan selain pasrah mengikuti perintah baru yang selalu datang tanpa diundang.


Selama beberapa waktu hanya terus berlari hingga di perempatan jalan utama. Dave berhenti menyandarkan tangan ke pohon rindang. Tatapan mata yang melihat menyusuri sekelilingnya. Sepi, bahkan tidak ada yang lewat.


"Apa benar membawa tubuh ini keluar dari wilayah yang kumuh? Bagaimana jika Arron justru mudah menemukanku. Tidak. Aku harus melindungi raga ini, setidaknya sampai menemukan raga ku sendiri." gumamnya bermonolog pada diri sendiri.


Setelah memikirkan langkah yang tepat. Dave pergi meninggalkan tempatnya bersandar, tetapi pria itu tidak menyadari jejak tangan yang tertinggal membuat tapak tilas dengan warna hitam. Seakan pohon itu terbakar di satu sisi dengan bentuk telapak tangan.


Dialah jiwa sang pengelana. Setelah sekian lama, takdir membawanya pada raga yang bisa menjadi perantara untuk dirinya kembali. Hanya sementara meminjam, selama ia masih memerlukan waktu untuk menemukan raganya yang asli.


Kebangkitan dari sang pengelana membuat alam. murka. Suara petir yang menggelegar dengan panas yang ekstrim. Banyak suara keluhan dari berbagai arah, tetapi dimanapun jiwa tersisa itu berada. Maka kehancuran akan selalu mengikutinya.