Am I Precious?

Am I Precious?
UnNAmed MIstake



****PREVIOUS ****CHAPTER****!!!


Dalam setiap perkataan dan


perbuatan yang disampaikan pada orang yang sangat berharga bagi orang itu


mengandung rasa khawatir, sayang, perhatian dan perasaan indah lainnya. Ucapan


sederhana perilaku standar yang nampak biasa saja bisa membuat sesuatu yang


luar biasa dalam hati orang itu.


Rasa khawatir karena makan yang terlalu sedikit, perhatian yang dilimpahkan agar tidak merasa sendiri di dunia yang tidak bisa diperkiraan apa yang akan terjadi setiap detik berjalannya, menenangkan dan menghibur seseorang saat menangis agar tidak merasa kesepian agar merasa kalau di sampingnya ada yang membersamainya, memuji dan bahagia saat sesuatu tergapai dan lainnya.


Aku tau itu karena aku selalu memperhatikan dan mendengarkan mereka dari kamarku tapi sayangnya meski otakku bisa merekam dengan cepat dan mencerna dengan baik hanya dari penglihatan dan pendengaran saja bukan berarti hatiku bisa memahami dan merasakan itu. Aku berharap bisa merasakan itu sebelum aku pergi seperti ibu yang pergi saat aku masih sangat kecil jadi hanya sedikit perkataannya yang kuingat hingga sekarang karena itu tidak bisa ku hapus dengan mudah.


“diam, berisik, jangan menangis, jangan tertawa, kalau saja aku tak melahirkan mu dari perutku sendiri semua tidak akan menjadi seperti ini, kamu lebih baik mati saja”. Kalimat-kata itu yang selalu terngiang dalam kepalaku. Katanya perkataan ibu selalu penuh arti yang bisa membuat kita bangkit, teringat akan hal yang terlupakan, perkataan yang terkadang tak terlupakan saat masalah itu terulang kembali. Ya itu benar-benar penuh arti dan tidak bisa ku lupakan sejak saat aku paham apa itu menangis dan tertawa aku pun menghapus semua itu, aku pendam semua aku hapus emosi yang membuat ibu menderita dan meninggal hingga saat ini.


...****...


Namun, ibu ayah kakak


dan paman meskipun kalian tidak pernah terpikir untuk memberikan dan


melimpahkan kasih dan sayang itu padaku meski sedikitpun meski kalian berharap


agar aku lenyap dari dunia ini menghilang dengan bersih dari kalian, apapun itu


aku akan menurutinya dan berharap saat aku pergi nanti kalian bisa lebih


bahagia dari saat sebelum aku lahir dari saat dan setelah aku lahir lebih


bahagia lebih sehat dari sebelumnya.


Meski begitu bukan


berarti aku robot yang diproduksi di Alaxford, aku hanya manusia biasa. Aku


hanya anak kecil yang tidak memiliki siapapun hanya hati retak dan sebongkah


buku juga barang bekas di sekitarnya.


Bukan karena aku sangat


kuat saat aku memendam dan rela berkorban tapi karena aku lemah, aku bodoh aku


tak tau apa yang bisa kulakukan agar kalian tidak bersedih dan stress hanya


karena keberadaan ku di sini. Aku hanya benar-benar ingin melihat dan merasakan


kebahagiaan kalian terpancar karena aku,karena aku yang akan mengabukan


permintaan kalian agar aku pergi dari sini, lenyap, dan menghilang.


...****...


Kenapa? Kenapa seperti ini?


Kenapa aku tak bisa mendapatkan kasih sayang mereka? Sekalipun kasih sayang


bisa di beli aku tak memiliki uang atau harta yang bisa sesuai untuk


membelinya. Tapi jika kasih sayang bisa dibeli bisa ditukar dengan benda


berharga maka aku akan berusaha untuk bekerja agar mendapatkan uang dan bisa


membelinya sebanyak mungkin.


Paket ayah ibu, paket kakak semua akan ku beli. Tapi itu semua tidak mungkin aku tau itu tidak mungkin sekalipun ada tidak akan ada yang mau menjualnya padaku tidak ada karena aku hanya sebuah ‘kesalahan’ karena aku ‘pembunuh’ karena aku hanya benda hanya objek mati di tempat ini. Semua itu hanya keegoisanku semua yang ku inginkan hanya keinginan egois ku .


Aku Unnami, gadis kecil berusia 3 tahun


Unnami adalah nama yang ku buat sendiri, UNNAmedMIstake itulah arti nama buatan ku, ya meski hanya singkatan saja.


panggil aja aku Nana.


Sedari kecil aku tidak pernah merasakan arti sesungguhnya dari kasih sayang aku tidak pernah tau apa itu kehangatan keluarga, karena sejak awal aku adalah kesalahan yang lahir di tengah-tengah mereka.


Kelahiran yang tak dinanti, dengan penganiayaan yang menanti begitu aku lahir, lalu pengucilan yang nanti akan datang begitu sosok penganiaya menghilang.


Kehidupan ini tak akan kusalahkan karena ini semua balasan dari dosa dan kesalahan yang kubuat.


...****...


Diawal pernikahan ayah ibuku tidak pernah menginginkan anak perempuan secantik,berbakat dan sejenius apapun itu nantinya, karena penerus hanya bisa dipegang oleh anak laki-laki saat dewasa nanti.


'ingat ini baik-baik meskipun kamu punya relasi yang baik dengan keluargaku aku akan menceraikan mu begitu kamu melahirkan anak perempuan yang tak akan bisa mewarisi atau memegang saham perusahaan keluarga mau sesempurna apapun anak perempuan itu kelak' begitu kira-kira ucap ayah diawal pernikahan mereka.


'Sungguh persyaratan yang sulit namun baiklah, terserahmu asalkan keluargaku tetap menerima benefit dari keluargamu' itu balasan dari ibu di masa lalu.


Saat ibu hamil kakak pertama ia sangat senang juga takut, anak adalah hal yang diharapkan kehadirannya oleh pasangan suami istri karena itu ia senang namun ia takut bila anak itu perempuan maka hubungan dengan suami dan keluarganya akan berakhir.


Namun begitu hasil USG keluar dan hasilnya adalah laki-laki kebahagiaan yang tiada tara ada pada ibu.


Ia sangat berhati-hati dalam kehamilannya sampai akhirnya datanglah hari kelahiran kakak pertama setelah 1 tahun 2 bulan pernikahan terlewat, dikarenakan untuk menjaga imagenya di dalam ruang bersalin ibu ditemani oleh ayah yang berwajah dingin seperti berharap ini segera selesai.


Namun harapan itu benar-benar meluap didalam diri ayah, ia melihat ibu begitu kesakitan saat melahirkan kakak pertama banyak keringat bercucuran ia memegang tangan ibu dengan erat dan mengelus kepala ibu dengan lembut 'ayo sedikit lagi, berjuanglah kumohon jangan berhenti di sini' ucapnya lirih disela-sela ibu menahan rasa sakit itu, ibu kaget dan kemudian berusaha lebih keras dari sebelumnya, rupanya ucapan itu adalah kata-kata / kalimat ajaib yang membuat ibu bisa berjuang dan bertahan hingga akhirnya.


"Oek oek"


Kakak pertama berhasil lahir dengan selamat dan begitu pula dengan ibu.


Ibu melirik ke arah ayah namun ia dikagetkan dengan air mata yang mengalir diwajah ayah yang biasanya selalu menunjukkan sisi dinginnya.


"Sy-syukurlah kamu selamat, syukurlah a-anak kita lahir dengan se-sehat syukurlah" kalimat dengan beberapa kata yang terpotong-potong karena tangisannya itu menyentuh hati ibu kemudian ibupun ikut menangis dan berpelukan.


"Terimakasih tuhan sudah mendengar dan mengabulkan doa kami" bisik ayah di telinga ibu saat berpelukan. Disitulah awal kisah cinta yang mulai tumbuh dalam pernikahan yang ditentukan oleh orang tua/wali mereka.


Lalu ayah menggendong bayi kakak pertamaku yang baru lahir dengan wajahnya yang sangat berbeda dari wajah yang ditunjukkan pada siapapun itu dimanapun itu.


Pernikahan mereka memang ditentukan oleh orang tua mereka atau kakek nenek ku, namun itu karena ayah yang berpura-pura mencintai ibu diawal jadi kakek dan nenek juga kakek nenek buyutku menikahkan mereka.


Masalah 'benefit' itu adalah permintaan ibu secara khusus ke ayah jadi kakek tidak tau menau tentang itu, yang dia tau hanya senang karena cucu mereka anak mereka sudah menikah.


Yah namun itu sudah tidak lagi semenjak kelahiran kakak pertama.


...££££...


hai


pembaca!!


aku


author pemula


dalam pembuatan novel, emm aku pernah buat komik tapi aku Hiatus karena aku


lebih milih novel untuk sekarang, jadi mohon bantuannya ya!!


bantuan


like,


comment, favourite, hadiah, vote, and share 😉juga kritik saran hehew.


so,


kalian tau


kan karena aku pemula jadi ini first novelku !


tengkyu!


sankyu!


see you next!