Am I Precious?

Am I Precious?
AMNESIA?



****PREVIOUS ****CHAPTER****!!!


Anak kecil itu kaget dan takut tapi ketakutanya ia sembunyikan dengan gelengan kepala.


“hmm? Kami tidak boleh tau namamu? Kalau gitu umurmu berapa sayang?” tanya Roni lagi.


“umur ku 3 tahun, bukan tidak boleh tau tapi..” dia menjawab lirih dan ragu. Karena itu Healto bersaudara bingung.


“oh jadi usia mu 3 tahun” alih Alex untuk memberikan waktu anak kecil itu. Anak kecil itu menganggukkan kepalanya lagi.


“kalau bukan tidak boleh tau nama adik kecil lalu kenapa sayang?” Roni ingin memastikannya sekali lagi untuk menghapus dugaan buruk yang ada dipikirannya. Tidak hanya Roni tapi Alex dan dokter magang Ian yang dari awal mendampingi Healto bersaudara yang mana adalah gurunya pun merasakan hal yang sama. 3 dokter laki-laki itu mulai gelisah.


“a-aku tidak ingat dan tidak tau namaku siapa” ucapnya lirih.


Mata dan wajah dari 3 dokter yang ada di dalam ruangan itu nampak kaget.


“maaf, kamu tidak ingat dan tidak tau namamu?” tanya Ian memastikan. Dan akan kecil itu pun menganggukkan kepalanya sekali lagi.


“maafkan aku” ucap anak kecil itu lirih.


“tidak apa, aku tidak menyalahkan mu, lalu apa kamu


ingat wajahku?” Alex mencoba menenangkan.


“emm sedikit ingat tapi di ingatanku wajah anda terlihat kabur..aduh!” sambil mengingat kembali namun kepalanya terasa sakit secara tiba-tiba.


“ah ada apa?!” 3 laki-laki tampan itu pun mulai panik seketika.


...-°_°-...


setelah itu si anak kecil memegang kepala dan perut yang tiba-tiba terasa sakit.


"ke-kepala saya terasa sakit sekali dan juga peru-"


Hoek!


belum selesai anak kecil itu berbicara di sudah muntah duluan, lalu Alex, Roni, dan Ian kaget karena yang keluar dari muntahan itu adalah darah!


"d-dok" ingin bertanya kenapa ada yang keluar dari mulutnya karena shock dengan muntah tapi belum menyadari kalau dia muntah darah.


Hoek!


muntah lagi, dan anak kecil itu melihat tangannya yang penuh darah lalu memegang kepala dengan kedua tangannya dan


"Aarrggghhh jangan! jangan!" tiba-tiba dia teriak yang membuat ke tiga dokter itu yang kaget karena muntah darah itu dibuat kaget kembali karena anak kecil yang tiba-tiba teriak dengan raut muka ketakutan.


"sayang ada apa?!" Alex yang sigap dengan teriakan itu, ia memegangi kedua pundak anak kecil itu lalu memegang pipi dan mendongakkan nya ke atas sedikit agar wajah anak itu terlihat namun yang terlihat adalah wajah anak yang sedang ketakutan dan semakin pucat juga mata yang menandakan kalau dia ketakutan dalam keadaan setengah sadar.


"aargghhh jangan kumohon, maafkan aku!"


teriakan anak itu masih berlanjut. ke dua tangan yang ada di kepalanya mulai menarik ataupun menjambak rambutnya sendiri, Alex yang kaget karena anak kecil itu berteriak, tambah kaget dan merasa cemas karena kata-kata yang keluar dari mulutnya dan tangan anak kecil itu yang mulai sekuat tenaga menarik atau menjambak rambutnya itu sendiri.


"sayang tenang ya, di sini tidak ada siapapun yang mau menyakiti kamu ataupun menyalahkan kamu, tenang ya?" Alex yang sadar kalau anak itu terkena amnesia tapi saat melihat darah tiba-tiba mengingat sesuatu yang buruk dan psikologisnya terpengaruhi itu pun menenangkan anak itu sambil mengelap wajah dan tangan anak kecil yang ada darahnya. meski ia bingung kok dia tau dia berumur 3 tahun padahal amnesia namun dia tidak bisa menanyakan hal itu sekarang.


Alex yang sedang menenangkan anak kecil itu suaranya lembut dan terpancar sedikit kehangatan, layaknya ayah ke anaknya.


"Ian panggilkan Dokter Rosie spesialis psikolog dan istriku Effie dokter anak! kemudian panggil ayah di ruangannya tanpa ketahuan ibu!"


"baik dok!"


Roni dan Ian yang juga menyadari hal itu langsung sigap dan melakukan hal yang harus dilakukan.


tak lama kemudian Ian dengan 3 orang yang diperintahkan untuk dipanggil itu datang.


"ada apa Roni?" tanya Ayah.


"eh, anakku Alex kok bisa lembut ke anak kecil?" Ayah yang kaget dan heran saat masuk dan melihat Alex sedang menenangkan anak kecil itu.


"diam kau pak tua!" jengkel dibilang gitu dia ngegas.


"yang sopan dong!" melempar bola tisu ke anaknya.


tuk!


"ga sakit wekk" ledek Alex sambil menjulurkan sedikit lidahnya 😋.


karena balasan (diam kau pak tua) dari Alex dan lemparan bola tisu tadi membuat anak kecil itu ikut melihat ke arah ayah Healto bersaudara itu.


"uuh-uhh" anak itu nampak takut melihat tuan besar Healto yang tinggi besar itu sambil bersembunyi dan menarik baju lengan Alex.


"eh?" Alex yang kaget dan bingung.


"hai adik, kakek ini terlihat menakutkan ya?" Rosie.


"uh huh" menganggukkan kepalanya dengan keadaan tetap bersembunyi dan semakin menarik baju bagian lengan Alex.


"hemm baiklah, adik kecil apa masih merasa takut sama kakek tua ini?" tanya tuan besar Healto sambil senyum biar ga kelihatan menakutkan bagi si adik kecil.


anak kecil itu menggelengkan kepalanya. dan mulai berani memunculkan badannya.


"baiklah itu hal bagus kau tidak takut dengan kakek tua ini, kenalkan namaku Kakek Patro Healto, ayah dari Roni dan Alex juga ayah mertua dari dokter Effie istri Roni dan calon ayah mertua dari dokter Rosie calon Alex" senyum Patro (sambil menunjuk satu persatu) yang lain tersenyum kecuali Rosie yang kaget, dan..


"he-hei pak tua!" ya benar Alex yang tidak terima tapi wajahnya nge blush dan jantungnya berdegup sedikit kencang.


(author [ lain mulut lain hati 🤭] )


"jadi Roni, ada apa, kenapa memanggilku dan tidak boleh ibu tau?" kakek Patro mengalihkan pembicaraan.


"H-hoii!" Alex yg tidak terima dialihkan padahal sudah membuat jantungnya berdebar dan telinga merah.


"emm jadi gini~" Roni yang juga mengalihkan pembicaraan dan menjelaskan semau yang terjadi ke ayah, istri dan Rosie secara lirih.


sementara itu Alex yang masih kesal karena dipermainkan dan dicuekin bersungut-sungut sambil berjalan ikut mendengar dan menjelaskan ke pada mereka.


"ohh jadi begitu oke-oke" ucap kakek Patro.


lalu Patro berbalik ke arah anak kecil dan bertanya.


"adik kecil, apa tadi kamu merasa pusing dan perut sakit? apa ada hal lain yang kamu rasakan seperti dada yang juga sakit misalnya?" tanya Patro.


Anak kecil itu mengangguk sebagai jawaban kalau dia merasa pusing dan sakit perut dan dia memegang dadanya, dalam arti memang ada yang dirasakan sakit dan itu di bagian dada seperti yang dibilang Patro tadi.


"hmm begitu ya, kalau begitu apa kamu mau berbaring dan kakek dokter ini periksa?" tanyanya lagi sambil menunjukkan stetoskopnya dan juga Patro selalu menunjukkan senyumnya agar anak kecil itu tidak takut.


tanpa mengangguk anak kecil itu kemudian berbaring dan melihat ke kakek dokter yang wajahnya nampak senang karena ketakutan anak kecil itu sudah mulai berkurang pada Patro.


Lalu Patro memeriksanya.


setelah selesai memeriksa si anak kecil itu Patro pun mengumpulkan hasil dan menarik beberapa kesimpulan yang disampaikan ke dokter Ian dengan suara yang lirih agar tidak terdengar si anak kecil itu.


lalu dilanjut dokter anak yaitu dokter Effie, yang mana ia adalah istri dari dokter Roni yang usia pernikahannya sudah ke 4 tahun dan memiliki 1 anak laki-laki berusia 2 tahun. Dia hanya memenuhi panggilan suaminya, saat ditanya untuk apa dia dipanggil ke ruangan ini sementara sudah ada dokter psikolog yang datang juga ke ruangan ini, Roni menjawabnya 'karena kamu yang selalu mengurus anak kita juga kamu dokter anak di sini jadi aku pikir kamu juga lebih baik ada di sini, tehe~, mohon bantuannya dokter sayang' yah pada akhirnya Effie hanya memperkenalkan dirinya pada anak kecil itu.


"halo adik kecil, nama ku Effie,dokter anak. jadi, kalau adik takut diperiksa sama kakek dokter yang menakutkan ini kamu bisa kok aku periksa" ucapnya sambil tersenyum.


"hmm" jawab anak kecil sambil mengangguk kecil dengan wajahnya yang menggemaskan.


namun, "kakek dokter yang menakutkan yah." tanya Patro pada Effie dengan senyuman palsunya.


"hehe maaf ayah" Effie hanya bisa menjawab itu sambil mengelus kepala bagian belakang dan meringis.


"hai adik kecil, nama ku Rosie. aku mau lihat wajahmu yang menggemaskan boleh?" anak kecil pun mengangkat kepalanya dan melihat dokter Rosie.


"syukurlah dibolehkan, kalau gitu dokter mau bertanya, kamu tidak harus menjawab sekarang tidak apa kok, pertama tadi kamu berteriak karena kamu melihat warna merah cair atau darah di tanganmu? lalu apa saat kamu melihat darah di tanganmu tiba-tiba terlihat bayangan yang membuatmu takut? Okey kalau ga mau di jawab sekarang gapapa kok, nanti besok atau kapanpun kamu boleh kok bilang ke dokter. terimakasih sudah didengarkan dan diperhatikan dengan seksama ya sayang!" ucap Rosie dokter psikologi dia tak langsung bertanya tanpa jeda, dia bertanya dengan selang 10-15 detik sambil melihat ekspresi/raut wajah anak kecil itu karena masih kecil jadi ekspresi dan raut wajahnya saja bisa menampakkan jawaban yang sebenarnya hanya saja Rosie juga ingin agar anak ini berani berbicara kepada orang asing dengan bercerita.


kemudian saat dokter Rosie selesai memberikan 2 point hasil dari itu ke Ian, semua dokter yang ada di ruangan itu sudah akan menyuruh anak kecil istirahat dan meninggalkan ruangan guna merembug dari pemeriksaan tadi. namun Alex


"adik kecil, kamu ga ingat namamu dan keluargamu tapi kamu kenapa ingat umurmu? Dan ingat wajahku?" Alex yang penasaran dengan hal itu. Patro dan yang lainya pun berbalik badan juga karena mereka pun penasaran dan lupa menanyakan akan hal itu juga.


"emm sebelum aku tidur di jalan aku sempat membuka tas dan melihat tulisan 3 tahun, juga sepertinya ada namaku di kertas dalam tas itu, saat ditanya aku mengingatnya sekilas juga saat melihat wajah paman di kepalaku ada wajah yang mirip tapi sedikit kabur saat mau mengingatnya lagi nama, keluarga dan wajah paman kepala ku tiba-tiba sakit sekali terus diikuti perut dan dada yang tiba-tiba sakit."


jawaban yang lebih panjang daripada saat dokter lain bertanya jawabannya hanya menganggap berdehem atau jawaban singkat saja itu membuat dokter lain heran kenapa saat sama Alex bisa banyak jawabannya.


"ohh jadi begitu, maaf ya. kalau gitu kamu istirahat saja, sebentar lagi jam makan. kami pergi dulu sampai bertemu besok." jawab Alex yang sudah berkurang sedikit rasa penasarannya.


akhirnya setelah semua pamit dan pergi sambil senyum dan melambaikan tangan selesai, mereka meninggalkan ruangan itu tersisa anak kecil itu sendiri di ruangan bersama benda-benda seperti kasur kursi meja dan lainnya.


saat ruangan kosong anak kecil itu bukannya tidur atau bebaring berusaha tidur namun dia malah duduk dan berbicara sendiri di atas kasurnya sambil menatap pintu kamar inapnya yang tertutup setelah para dokter meninggalkan kamar itu.


...****...


"hmmm mereka baik sekali, padahal mereka tidak mengenaliku tapi mereka benar - benar baik sekali sangat baik, namun apa mereka akan tetap baik padaku kalau mereka tau aku membohongi mereka? apa mereka akan benci padaku saat tau kalau aku anak yang nakal? saat tau kalau aku hanya bisa berbohong kepada semua orang, berpura-pura dan semua hal buruk yang aku lakukan apa mereka akan tetap baik kepadaku?"


"untung saja tadi aku sudah menyiapkan jawaban saat ada pertanyaan kenapa aku bisa tau umurku dan kenapa aku ingat paman Alex, kalau tidak kusiapkan, mungkin aku akan diusir dari sini karena sudah berbohong kalau aku amnesia ya"


"maafkan aku semuanya aku hanya ingin bisa bertahan hidup dan mencapai tujuanku yang sebenarnya maaf akan kebohonganku"


...££££...


hai pembaca!!


aku author pemula dalam pembuatan novel, emm aku pernah buat komik tapi aku Hiatus karena aku lebih milih novel untuk sekarang, jadi mohon bantuannya ya!!


bantuan like, comment, favourite, hadiah, vote, and share 😉 juga kritik saran hehew.


so, kalian tau kan karena aku pemula jadi ini first novelku !


tengkyu! sankyu! see you next!