
terimakasih selalu mendukung novel ini.
selamat membaca!
silahkan nikmati chapter suguhan author pemula ini
*****PREVIOUS***CHAPTER*****!!!!
makanan pembukanya adalah salad buah.
aku memakannya pelan-pelan setelah berdo'a.
Seperti mimpi bisa makan di meja makan yang seperti di rumah.
Nao sedikit menyisihkan makanannya, karena aku selalu makan makanan sisa kakak jadi aku meminta Nao
"Nao kalau ga mau boleh buat aku?" ucapku.
dan seketika yang lainnya menoleh ke padaku.
apa aku melakukan kesalahan? .batinku.
...^_^...
aku pun jadi merasa melakukan hal yang salah.
"Nana mau salad lagi? bisa tambah porsi kok, itu kan bekas Nao jadi Nana kalau mau bisa minta tambah lagi." tanya paman Roni.
"iya atau mau makan bagian ayah, ayah belum memakannya sama sekali kok" sambung paman Alex.
"mm tidak Nana cuma ingin memakan yang disisihkan Nao supaya tidak ada yang mubazir, entah kenapa Nana merasa seperti pernah kesusahan untuk mendapat makanan dan harus makan makanan sisa" jawabku half benar half bohong.
seketika hening.
"o-oh begitu, mungkin itu ingatan Nana dulu, kalau gitu semisal Nana ingin tambah porsi boleh sampai Nana kenyang, tuh Nao jangan disisih-sisihkan ga banyak Lo yang bisa memperoleh makanan enak terus kayak Nao" ucap dokter Effie melepas keheningan sejenak itu.
"emm baik ma" jawab nao lirih.
"a-ah Nana, gimana mau nambah lagi ga? atau mau disuapin ayah?" paman Alex yang nampak berusaha melepas keheningan juga.
"emm tidak, Nana sepertinya cukup makan ini saja, Nana sudah kenyang a- paman" jawabku, ya aku ingin memanggilnya ayah tapi entah kenapa terasa sedikit terganjal begitu.
"o-oh gitu ya… kalau gitu setelah ini kita keliling rumah lalu makan hidangan utamanya oke?" jawab paman.
"Oke " jawabku singkat
"oke kalau gitu habiskan dulu salad nya ayah juga akan menghabiskan dulu punya ayah, setelah itu tunggu beberapa menit baru kita keliling," jelas paman Alex
[di saat yang sama, Patro, Yemi, Roni, dan Effie merasa bangga pada Alex. karena biasanya Alex selalu bercanda dan berbuat onar di rumah bisa menjadi sosok ayah untuk anggota keluarga baru mereka, Nana]
"em, paman apa nao boleh ikut berkeliling juga?" tanya nao yang nampak malu.
"boleh boleh, tapi habiskan ya salad nya." jawab paman Alex.
"nao nao, kenapa harus malu malu dulu di awal baru nanti bisa akrab sampai bikin kesal sih ya" canda paman Roni sambil mengusap rambutnya.
"huh!" nao mendengus pura-pura mengabaikan dengan segera menghabiskan salad.
"Roni, ya namanya juga anak-anak, dulu kamu juga gitu pertama kali ketemu sama anaknya temen papa, em siapa tu namanya Roy?" sahut kakek Patro.
"iya bener, anakmu jadi begitu karena kamu dulu juga begitu, ya itu dari gen mu" jawab dokter Effie.
"ya dan gen itu dari papa, dulu juga gitu malu-malu sama mama terus lama kelamaan malah malu-maluin kayak sekarang" sahut nenek Yemi.
"eh mama" kakek patro.
"eh yang benar?" tanya paman Roni memastikan.
"iya bener gitu, jadi salah kan aja papa mu itu" jawab nenek Yemi puas meledek kakek Patro.
"hei mama kok yang dibelain bukan papa si? padahal papa ini suami mama Lo" jawab kakek patro tidak terima.
"biarin huh" jawab nenek Yemi.
seketika yang lain tertawa, termasuk beberapa pelayan yang ada di sekitar kami meski menahan tawanya karena takut kena omel tuan besar mereka.
selesai itu paman Alex bersama aku dan Nao berkeliling rumah utama Healto.
...…***…...
"nah yang berikutnya kamar Nana yang sedang direnovasi, sebenarnya ini kamar adik ayah yang meninggal, tapi nanti setelah direnovasi akan menjadi kamar milik Nana!" ucap paman Alex
aku merasa sangat resah, karena aku berpikir apa aku pantas menerima ini semua?
"kak Nana, kamarnya deketan sama kamar nao kalau nao tinggal di sini, kalau dah jadi nao mau main bareng di kamar kakak boleh ya?" ucap nao yang sudah hilang malunya meski masih ada sedikit.
"ahh iya" jawabku singkat.
lalu kami lanjut ke ruang di depan ruangan yang penuh alat-alat renovasi.
"oke dan karena masih direnovasi jadi bahaya untuk di sekitar sini, jadi lanjut ya di depan kamar ini," ucap paman Alex
"dan ini dia sengaja aku buat urutan terakhir dan garis finish home tour, ini adalah kamar ayah dan juga ini kamar Nana untuk sementara sebelum kamar Nana jadi eh kalau dah jadi tapi masih ingin sama ayah tidurnya juga boleh kok!" lanjut paman Alex
"dan di dalamnya ada barang-barang yang ayah belikan untuk Nana! ada buku-buku untuk Nana, baju untuk dikenakan Nana, dan ada boneka imut untuk Nana, juga ada beberapa perangkat elektronik untuk Nana gunakan, tapi jangan terlalu sering menggunakan ini ya, ga baik buat kesehatan mata nana!" lanjut penjelasan dari paman Alex.
"ba- banyak sekali, apa Nana boleh menggunakan semua itu?" tanyaku yang merasa tidak pantas untuk mendapatkan, menerima dan memiliki semua itu.
"tentu saja boleh dong!" jawab paman Alex.
"tidurnya satu kasur sama ayah gapapa ya Nana soalnya kalau buat ranjang lagi ga ada tempatnya, juga kalaupun buat lagi ntar ga ada ruang buat Nana bermain atau bersantai dengan buku." ucap paman Alex resah.
"emm harusnya Nana yang tanya begitu, Nana bisa tidur di mana aja kok" jawabku yang memang aku bisa tidur di mana aja,
kasur, lantai, kayu, alas kardus, dan di rumput pun bisa.
"syukurlah kalau begitu home tour selesai, dan bentar lagi jam makan malam jadi kita balik ke ruang makan ya" paman Alex.
"ayo! paman menu makan malamnya apa ya?" tanya nao.
"emm oke" jawab nao.
"kak Nana kak Nana, kakak sudah lapar belum? udah ga sabar buat makan ya kan?!" tiba-tiba nao mengajak ku mengobrol.
"emm iya" jawabku singkat.
"kalau gitu ayo balapan lari sampai ke ruang makan!" ajak Nao semangat.
"eh?" aku bingung karena tiba-tiba diajak balapan dan lagi ini kali pertamaku seperti ini.
"nao! kak Nana baru sembuh dari sakitnya, jangan suruh lari lari, nanti kalau kelelahan bisa sakit lagi, nao mau kak Nana sakit lagi?" ucap paman Alex dengan nada sedikit lebih tinggi.
"emm tidak mau, maaf paman maaf kak Nana" jawab nao.
"Hem, tak apa lagipula kalau lari lari di malam gini nanti mama nya nao bisa marah loo" ledek paman Alex.
nao seketika terdiam.
"emm kalau gitu setelah makan nanti main bentar yaa kak Nana" bujuk nao.
"emm iya" jawabku.
"nah gitu, tapi jangan lama-lama soalnya biar bisa istirahat yang cukup. oke nao, Nana?" Paman Alex.
"oke" jawab nao dan aku bergantian.
"em tapi nao kenapa memanggilku kakak bukan adik? kan ayah nao kakaknya paman Alex bukan adiknya" tanyaku ke nao dan paman Alex.
"karena kak Nana lebih tua dari nao usianya hehehe" jawab nao bangga.
"emm begitu saja?" tanyaku.
"iya!" jawab nao dengan percaya diri.
aku pun mengarahkan pandanganku ke arah paman Alex yang ada di sampingku dan sedang menggandeng tanganku.
"ah ya anggap aja gitu haha" jawab paman Alex yang juga kaget dengan jawaban dari Nao.
...…***…...
selesai makan, sambil menunggu makan penutup datang.
"Nana, kakek mau tanya tentang usia Nana apa boleh?" tanya kakek Patro.
"em boleh " jawabku.
"Nana waktu pertama sadar itu bilang 3 tahun kan? nah kita sudah hampir satu tahun ketemu sekarang Nana umur berapa?" tanya kakek Patro.
"umur Nana sekarang bukan 3 tahun lagi kek" jawabku.
"oh gitu, kalau gitu berapa tahun sekarang?"
aku menjawabnya…
^^^bersambung…^^^
...@!!!!@...
PEMBERITAHUAN!!
INSYAALLAH AKAN TERBIT 2-3 HARI SEKALI.
PUKUL 18:19 Waktu Indonesia Barat.
18 Adalah usiaku sekarang yang menginjak ke usia 19.
terimakasih sudah membaca!
...££££...
hai
pembaca!!
aku author pemula di novel, jadi mohon bantuannya ya!!
bantuan
like 👍,
comment🎤,
favourite💖,
hadiah🎁,
vote🎫🎟️,
and
share 😉
juga
kritik saran 📃📜
first novelku!
maaf kalau banyak kekurangan 😊
tengkyu! sankyu!
see you next! see you 2 - 3 days again!!
INSYAALLAH!