
[√terimakasih selalu mendukung novel ini.
selamat membaca!
silahkan nikmati chapter suguhan author pemula ini✓]
****PREVIOUS***CHAPTER!!!****
gelangnya sangat cantik rangkaiannya berbentuk bunga dan hati dengan hiasan batu warna biru berlian yang dilapisi logam silver.
setelahnya paman Alex turun dan menyerahkan kunci mobil pada Joshua, lalu mengajakku turun dari mobil, pada awalnya aku mau turun terus jalan sendiri tapi malah paman Alex kekeh mau menggendongku sampai di tempat duduk sebelah air mancur.
"Nana, Nana mau dibelikan apa?" tanya paman Alex.
"Nana sekarang aku akan pergi dari sini dan memantau Nana dari jauh, dan Nana akan ditinggal bentar sama ayah, jadi Nana akan sendirian sebentar, coba ditahan sebentar sampai ayah kembali kalau benar-benar ga kuat nanti aku langsung datang kok." jelas dokter Rosie.
...^_^...
aku emang sedikit takut, tapi aku tetap mencoba supaya aku bisa bersekolah.
aku mengangguk menjawab dokter Rosie
"oke kalau Nana sudah faham dan setuju, sekarang aku akan pergi dari sini, Alex tolong temani Nana sebentar lalu pergilah membeli sesuatu sampai waktu yang udah kita bahas tadi,oke Lex?, dan apa Nana sudah siap?" dokter Rosie
"oke" jawab paman Alex
dan aku pun
aku mengangguk.
"oke kalau gitu aku pergi dulu ya…!" seru dokter Rosie
setelah mengucapkan itu dokter Rosie memelukku, mengelus kepalaku dan pergi sebelum terlalu jauh dia melambaikan tangan ke aku.
setelah sudah tidak terlihat lagi dokter Rosie nya, kemudian aku menatap paman Alex.
"emm? ada apa sayang?" tanya paman Alex yang menyadari kalau aku menatapnya.
aku pun menggelengkan kepala.
"haha, oh ya Nana, mau ayah belikan es krim?" tanya paman Alex.
aku hanya diam
"tenang aja Nana, pasti Nana bisa kok melalui final therapy Nana, setelah ini selesai gimana kalau ayah belikan hadiah buku?, kalau hari ini ga capek kita langsung beli buku, kalau capek kita beli buku besok setelah ayah selesai kerja" ucap paman Alex.
aku yang dari dulu selalu menyukai buku pun terpancing oleh paman Alex.
aku mengangguk cepat.
"baiklah, Nana ini ada handphone pribadi milik ayah, kalau Nana udh takut banget bisa kok telepon ke nomor handphone kerja ayah kalau semisal kelamaan menunggu dokter Rosie datang, ayah ga akan jauh-jauh jadi jangan takut ya, di mana pun ayah sejauh apapun jarak kita, ayah akan tetap ada untuk Nana " ucap paman Alex sambil memberikan handphone ke tangan ku, dan setelah mendengar ucapan paman Alex itu rasanya aku merasa seperti sedikit lebih tenang dari yang tadi meski aku ga tau kenapa bisa gini.
"oke ayah tinggal membeli es krim, camilan dan mainan untuk Nana ya" paman Alex.
"emm, hati-hati a-a paman" jawabku yang masih saja belum bisa memanggil ayah.
paman Alex mengelus kepala ku sambil tersenyum.
"iya sayang, ayah pergi dulu ya" jawabnya.
lalu memelukku dan melambaikan tangan lalu pergi.
setelah aku tidak bisa melihat paman Alex yang sudah semakin jauh, aku pun awalnya merasa takut.
yang awalnya aku menghiraukan keramaian di sekitar karena ada dokter Rosie dan paman Alex, tapi setelah mereka pergi, aku mulai menyadari keramaian di sekitar ku, aku pun melipat kakiku, lutut di dada dan memeluk kaki ku, melihat ke bawah, dan badan ku gemetar.
aku merasa takut benar-benar takut. ini lebih ramai dari sewaktu di perbelanjaan, di taman rumah sakit dan lebih ramai dari saat perkumpulan ibu-ibu terakhir kali.
aku gemetar aku takut aku ingin menangis tapi jika begini aku akan gagal dan tidak bisa sekolah, kemudian aku perlahan melihat ke depan, ada air mancur dan ada anak-anak kecil seperti ku di sekelilingnya yang bermain di sana, ada ayah ibu atau wali yang menjaga mereka supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan supaya bisa menjaga mereka dari bahaya yang tidak tau kapan akan datang.
aku merasa campur aduk, perasaanku campur aduk...
perasaan senang karena mereka juga senang dan terlindungi
perasaan sedih karena iri akan itu, karena selama aku di kediaman Aloxford aku tidak pernah mendapat perlindungan seperti itu.
tapi apa yang akan terjadi bila aku memanggil paman Alex 'ayah'? apa aku akan mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah seperti yang selalu ku dambakan selama ini? apa aku akan merasa sakit bila paman Alex dan yang lainnya mengetahui kebohonganku dan tidak boleh memanggil mereka ayah, paman, bibi, kakek dan nenek? tapi jika diingat kembali selama ini aku selalu menahan rasa sakit, pasti aku tidak akan apa-apa bila memang itu terjadi, kalau gitu apa aku harus berusaha keras supaya bisa memanggil paman Alex 'ayah'?
a-ayah, a-yah. berlatih mengucapkan ayah dalam hati.
kalau cuma dalam hati apa aku akan bisa memanggil paman Alex ayah?
aku harus coba.
"a-"
"ayaaahh!!"
eh apa itu tadi? aku pun menoleh ke sumber suara yang memecahkan fokusku dalam berlatih.
ternyata ada anak kecil yang berlari girang menuju ayahnya yang mengenakan baju militer.
"sayang! sini" sahut ayah anak tadi.
hup!
mereka sudah berpelukan dan sang ayah menggendongnya tanpa melepas pelukan itu, ia mencium kepala anaknya, seperti perasaan rindu yang sudah tak bisa terbendung baik bagi sang ayah maupun anak itu mereka menangis dalam pelukan mereka satu sama lain.
kemudian ada beberapa yang bertepuk tangan ada beberapa yang merekam momen haru tersebut.
seketika rasa iri dalam hati ku bergejolak.
kenapa bukan aku yang menjadi anak itu, kenapa bukan aku yang dipeluk dan dicium oleh ayah, kenapa aku tidak bisa mendapatkan itu semua dari ayah ku, kenapa hanya aku?. batinku sedih.
ayah apa memang jika aku terlahir sebagai laki-laki aku akan mendapatkan kasih sayang mu ayah? ayah kenapa aku tidak bisa memilih jenis kelaminku, kenapa aku tidak bisa memilih untuk tidak dilahirkan kenapa ayah?
pertanyaan yang selalu ku pertanyakan dalam otakku dalam hatiku.
atau aku memang dilahirkan untuk ini? untuk selalu menjadi 'salah' untuk selalu menderita?
Tuhan, sebenarnya kenapa aku dilahirkan? apa alasan aku hidup di sini? ayah, kenapa aku tidak pernah membuatmu bahagia walau sedikitpun?
tanpa sadar aku menangis. dalam keadaan menatap ayah dan anak tadi yang berpelukan.
"ini sapu tangan, untuk lap air matamu" tiba-tiba ada suara dari belakang ku.
aku menoleh ke belakang.
ada anak laki-laki kira-kira seumuran dengan Kak Shin.
anak laki-laki tersebut menarik tanganku dan meletakkan sapu tangan di tanganku.
kemudian ia mengelus kepala ku dan pergi.
aku belum sempat berterimakasih padanya, kenapa ia bisa memberikan sapu tangan miliknya ke orang asing yang baru saja ia temui?.
anak laki-laki itu menjadi sosok yang misterius bagiku.
dia berpenampilan keren, dengan Hoodie biru Dongker, celana training hitam biru, masker hidung mulut, kaca mata hitam, dan topi biru bertuliskan Ocean Flo. 🌊.
kemudian aku mengelap air mataku menggunakan sapu tangan itu.
"hai nak! kamu sendirian?" tiba-tiba ada kakek tua datang menghampiri ku.
aku menggeleng.
"oh begitu. mata mu merah apa baru saja menangis karena momen haru tadi?"
aku terkejut sesaat.
lalu mengangguk.
"haha, memang sangat mengharukan, apalagi ayahnya bekerja dengan pertaruhan nyawa setiap detiknya"
aku mendengarkannya.
"apa kamu kesini bersama ayahmu juga?" tanya kakek itu.
aku mengangguk meskipun aku tidak bisa memanggil paman Alex ayah selama ini tapi tetap saja paman Alex adalah ayahku, secara resmi.
"oh begitu, apa pekerjaan ayahmu? kenapa kamu sendirian di sini?" tanya kakek itu.
"dokter, sedang membelikan es krim" jawabku singkat.
"wah keren, apa kamu saat besar ingin menjadi dokter seperti ayahmu?" tanya kakek itu.
aku bingung menjawabnya.
karena aku akui dokter itu hebat, aku ingin tapi cita-cita ku selama ini bukanlah dokter, dan sejujurnya aku pun tidak punya cita-cita, yang aku miliki hanya ambisi, ya ambisi ku sangat besar yaitu…
^^^bersambung…^^^
...@!!!!@...
PEMBERITAHUAN!!
INSYAALLAH AKAN TERBIT 2-3 HARI SEKALI.
PUKUL 18:19 Waktu Indonesia Barat.
18 Adalah usiaku sekarang yang menginjak ke usia 19.
terimakasih sudah membaca!
...££££...
hai
pembaca!!
aku author pemula di novel, jadi mohon bantuannya ya!!
bantuan
like 👍,
comment🎤,
favourite💖,
hadiah🎁,
vote🎫🎟️,
n
share 😉
juga
kritik saran 📃📜
first novelku!
maaf kalau banyak kekurangan 😊
tengkyu! sankyu!
see you next! see you 2 - 3 days again!!
INSYAALLAH!