
[√terimakasih selalu mendukung novel ini.
selamat membaca!
silahkan nikmati chapter suguhan author pemula ini✓]
****PREVIOUS***CHAPTER!!!**
aku mengangguk meskipun aku tidak bisa memanggil paman Alex ayah selama ini tapi tetap saja paman Alex adalah ayahku, secara resmi.
"oh begitu, apa pekerjaan ayahmu? kenapa kamu sendirian di sini?" tanya kakek itu.
"dokter, sedang membelikan es krim" jawabku singkat.
"wah keren, apa kamu saat besar ingin menjadi dokter seperti ayahmu?" tanya kakek itu.
aku bingung menjawabnya.
karena aku akui dokter itu hebat, aku ingin tapi cita-cita ku selama ini bukanlah dokter, dan sejujurnya aku pun tidak punya cita-cita, yang aku miliki hanya ambisi, ya ambisi ku sangat besar yaitu…
...^_^...
yaitu hanya ingin orang yang ku sayangi bahagia.
"masih belum tau ya? tak apa besok juga bisa tau mau jadi apa, maaf ya kakek banyak bicara, kakek dulunya guru SD, jadi sering berbicara nah kala-" ucapan kakek terputus karena ada suara dering hp.
"ah ya baiklah" ucapnya dengan suara orang yang ada di hp.
setelah itu kakek itu menutup teleponnya
"maaf ya, kakek sudah ditunggu cucu dan buyut kakek, jadi kakek pergi dulu, semoga apa yang adik kecil inginkan bisa terkabul" kakek itu pun pergi dengan senyumannya sebelum meraih tongkatnya yang membantunya untuk berjalan.
aku hanya membalas anggukan.
sosok kakek itu sudah tidak ada lagi di jangkauan penglihatan ku.
sudah 5 menit terlewat.
aku melihat ke hp milik paman Alex, wallpaper layar kuncinya adalah foto ku bersama dengan paman Alex saat terakhir kali kami ke mall untuk membeli buku dan karena ada photo studio di sana jadi paman Alex ingin mengambil gambar kami tapi aku tidak menyangka kalau foto itu akan dijadikan wallpaper layar kunci miliknya.
paman Alex meski sudah menjadi ayah angkat ku tapi paman Alex tetap saja jomblo, kalau ada perempuan yang suka paman Alex dan melihat foto ini dan dikira aku anak kandungnya kemudian jadi mundur teratur perempuan itu, bagiamana nanti paman Alex akan mendapat istri?
tetap saja di manapun aku hanya sebuah halangan.
untuk kak Shin aku halangan untuknya agar bisa eksis di dunia teknologi, untuk ayah pun tidak hanya dunia teknologi tapi di dunia bisnis miliknya pun bisa terhambat karena ku, untuk paman Harry aku menjadi penghambat dalam hubungan saudara ipar karena hanya kepeduliannya padaku dan ini paman Alex bisa terhambat jodohnya karena aku.
aku hanya penghambat.
aku membuka layar kuncinya meski tidak dikunci sih.
aku membuka aplikasi untuk mendownload aplikasi.
[kalian bisa sebut ap*St*re atau pl*yst*re]
aku mendownload aplikasi coding yang aku buat saat di kediaman Aloxford.
aku membuka aplikasinya dan mulai meng coding, aku berencana membuat aplikasi perpustakaan digital milikku sendiri.
aku membuat aplikasi dari buku-buku yang ku baca dan ku ketik ulang di dalam aplikasi itu, entah aku pernah bilang atau belum, tapi ingatanku sangatlah kuat, semua buku yang pernah ku baca aku mengingatnya sepenuhnya.
tak perlu waktu lama untuk finishing pembuatan aplikasi ini, cukup waktu 15 menit jadi.
meski tidak secepat dan sehebat kak Shin yang 15 menit bisa membuat 2 aplikasi super canggih.
setelah selesai membuat aplikasi itu aku memasukkan data aplikasi dan riwayat pengcodingan ke flashdisk yang menyerupai hp kecil buatan ku.
flashdisk ini ada sistem bluetooth nya, bisa dipilih dan bisa melihat isi di dalamnya tanpa harus dipasangkan ke perangkat lain. tapi tidak bisa untuk menelpon hanya bisa mengirimkan file. besarnya sebesar jempol orang dewasa tapi bisa dilipat setengahnya, dan juga tipis. ini alat satu-satunya di dunia, karena aku lah pembuatnya.
pada awalnya aku ingin menunjukkan alat buatan ku ke ayah dan kakak tapi aku urungkan itu karena dulu aku pernah membuat robot mainan yang lebih canggih dibanding yang ada pun dirusak dan dibilang kalau itu sampah jadi aku urungkan niatku, karena bagaimanapun juga seorang 'kesalahan' tidak pantas menerima pujian dari ayah dan kakak.
setelah file terkirim 100% ke flashdisk milikku, aku pun menghapus jejak penggunaan di hp paman Alex supaya tidak curiga.
sudah 20 menit terlewat.
tiba-tiba
"aku benci ayah! aku benci ibu!" ada anak kecil berteriak, dan karena itu aku terkejut dan berdiri di depan kursi.
kemudian. brak!
kami bertubrukan.
ouch!
"huweeeee" anak kecil itu menangis.
berisik sekali suaranya, kepalaku mulai pusing. tapi kutahan.
"maaf apa kamu baik-baik aja?" tanyaku
"spruutt hiks hiks, hu-huweeee" lah malah nangis lagi.
"Beni! apa ada yang sakit?" sang ibu hendak meraih anaknya.
"hu pergi hu" anak laki-laki itu menepis tangan ibunya yang hendak meraih anaknya itu tadi.
"maaf nak maaf ya sini sama ibu yuk!?" sang ibu meminta maaf dan membujuk anaknya.
aku di sini bingung aku harus apa.
tiba-tiba anak laki-laki bernama Beni ini memelukku dengan erat.
eh!? kenapa ini, aku ga mau ikut campur!!
aku berusaha melepasnya.
kemudian
"kamu!!!"
sang ayah berteriak marah dan mendekat hendak memukul si beni ini.
namun reflek aku menghalanginya.
sang ayah, ibu dan beberapa diantaranya terdiam melihatku.
saat melihat tatapan mereka tiba-tiba aku teringat pada tatapan mata ayah dan kakak kakak di rumah.
aku memejamkan mata.
ugh!
kemudian
"ah maaf aku ga bermaksud memukulmu" ucap ayah Beni.
aku mendongakkan kepalaku dan melihat ayah itu.
"meski bukan memukulku tapi tetap tidak boleh memukul anak anda sendiri! dia hanya anak kecil jangan pukul dia! dia menangis dia marah karena hanya itu yang bisa dia lakukan! anda sebagai orang dewasa lah yang seharusnya bisa menyelesaikan dengan baik!" ucapku dengan masih dalam posisi memeluk si Beni.
si Beni melihat ke wajahku, aku pun melihat kembali, wajah kami bertatapan.
"kamu juga kalau ada salah jangan marah tapi minta maaf kalau ga salah tetap minta maaf dan jelaskan dengan rinci!" ucapku.
seketika keluarga itu terdiam dan melihatku terutama sang ayah yang nampak merasa bersalah.
orang lain yang awalnya melihat kami hanya beberapa sekarang menjadi tambah banyak.
aku melihat keliling ku.
kepala tiba-tiba pusing, dada ku sakit, detak jantungku ga karuan.
selang beberapa detik saja.
"Nana!" teriak bersamaan paman Alex dan dokter Rosie.
aku mendengar mereka tapi karena ini tak tertahankan pandangan ku mulai kabur.
"kakak?" beni heran melihatku.
dua orang tua beni pun mulai panik.
paman Alex menggendong beni dan menyerahkannya ke ibunya.
melihat sekilas beni yang nampak khawatir.
kemudian membaringkan tubuhku.
"Nana sayang, ayah di sini dokter Rosie juga di sini, sekarang tenang ya, atur nafas Nana ya!" ucap paman Alex yang berusaha untuk tetap tenang juga.
dokter Rosie mengambil stetoskop miliknya dan memeriksa ku.
sambil mengecek detak nadiku di pergelangan tangan ku.
"Nana Ayo atur nafas" ucap dokter Rosie.
"anu ini ada apa" tanya ibu beni.
"maaf, ini privasi pasien tapi saya mohon pada yang lainnya untuk tidak berkerumun di sini, dokter Alex mohon berikan arahan pada Nana untuk mengatur nafasnya.
"baik" jawab paman Alex.
"kalian berdua dokter? lalu tadi aku dengar dokter laki-laki adalah ayahnya mana ibunya?" tanya salah satu pengunjung (bukan keluarga beni)
"DIAM!" paman Alex tiba-tiba mengeluarkan suara bernada tinggi.
seketika aku terkejut.
"ah maaf sayang" paman meminta maaf dan lanjut membimbingku untuk mengatur nafas.
setelah aku bisa bernafas normal.
"apa ada yang tidak nyaman sayang?" tanya Dokter Rosie.
^^^bersambung…^^^
...@!!!!@...
terimakasih sudah membaca!
...££££...
hai
pembaca!!
aku author pemula, jadi mohon bantuannya ya!!
bantuan
like 👍,
comment🎤,
favourite💖,
hadiah🎁,
vote🎫🎟️,
share 😉
juga
kritik saran 📃📜
first novelku!
maaf kalau banyak kekurangan 😊
tengkyu! sankyu!
see you next! see you 2 - 3 days again!!
INSYAALLAH!