
"Bu, apa tidak sebaik nya Ibu beritahu orangtua Ibu kalau besok lusa akan menikah" ucap Bi Iyem setelah mereka merebahkan tubuh nya.
Huh.
Alira membuang nafas kasar, dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Aku ingin Bi, tapi sayang semua akses ku menuju ke mereka sudah di tutup oleh Ayah. Aku hanya bisa berdoa semoga mereka selalu sehat dan bahagia"
Hah.
Bi Iyem sangat kaget mendengar penjelasan dari Alira, dia kira majikan nya masih bisa berkomunikasi dengan keluarga nya dan nyata nya, tidak sama sekali.
"Mereka menutup komunikasi bersama ku setelah aku tercyduk di Hotel kala itu, bahkan tanpa mendengar penjelasan ku sama sekali mereka langsung memaki dan mengusir ku, Bi"
"Bahkan, Ayah ku sendiri langsung tutup telinga dan menganggap ku aib, noda dan kotoran yang ada di dekat nya"
Alira bercerita kembali dengan lirih, dia mengingat semua itu dan dimana dia di usir dengan penuh tatapan kecewa karena gak ada satupun orangpun yang mendengarkan penjelasannya.
Grep.
Bi Iyem langsung saja memeluk tubuh sang majikan, dan disanalah Alira kembali menangis dengan diam.
Rindu?
Ya, dia sangat rindu akan Ayah dan Bunda nya. Namun apa daya, dia sama sekali tak ingin kembali karena akan mendapatkan penolakan yang mentah-mentah oleh keluarga nya kembali.
Dan, dia juga takut Arash akan tidak di terima dan hal itu akan membuat nya sangat sakit.
Karena bagaimana pun, Arash adalah darah dagingnya sendiri dan sosok anak yang Alira sayangi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari belum menampakan cahaya indah nya, karena pagi ini di Kota tersebut sedang di landa hujan cukup deras.
Namun,.
Hal tersebut tidak sampai mengurungkan atupun menyurutkan semangat Mommy dalam mempersiapkan pernikahan dadakan Putra semata wayang nya besok siang.
Mommy, Bi Iyem dan Daddy pagi ini pergi ke pasar tradisional yang menjual berbgai bahan makanan yang segar dan juga banyak pilihan.
Sedangkan sang Asisten Pandi, dia menyiapkan rangkaian perintilan dari dekor, MUA dan yang lainnya.
Untuk pengantin nya, mereka akan menunggu pihak butiq dan juga manager perhiasan yang akan datang ke Villa. Karena semalam, Ricard sudah menghubungi keduanya agar pagi ini datang.
Dan,
Di Villa hanya ada Ricard, Alira dan Arash serta beberapa penjaga yang tidak pergi kemana pun.
Bahkan, Arash tidak mau lepas dari dekapan Ricard.
Mungkin naluri seorang Anak pada Ayah nya yang baru saja tiba.
Dan untuk Alira sendiri, dia sedang membuat sarapan untuk semua orang.
Meski Mommy selalu melarang, namun bukan Alira jika tidak meluluhkan nya.
Hampir 1 jam Alira berkutik di dapur yang luas itu dan akhir nya semua masakan pun selesai dia masak.
"Tinggal manggil Arash dan Ricard saja"
Alira bergumam dengan melangkah ke arah ruang keluarga yang dimana disana ada kedua pria beda usia tersebut tengah menonton televisi.
"Arash, ayo makan dulu dan ajaklah Ayah" ucap Alira dengan senyuman indah nya.
Deg.
Ricard merasakan jantung nya berdetak kencang saat Alira tersenyum dan memanggil nya Ayah.
'Ehemmm'
Ricard berdehem agar menguasai diri nya yang masih saja merasakan detak jantung yang begitu kencang.
"Ayo Ayah" ajak Arash dengan cepat melingkarkan tangan nya ke arah lereh Ricard.
Alira menatap nya tak enak, namun saat akan berbicara dia sudah lebih dulu bungkam akan ucapan Ricard.
"Biarkan saja, mungkin dia ingin bermanja dengan sosok Ayah selama ini"
Deg.
Deg.
'Maafkan Bunda, Nak'
Alira hanya bisa meminta maaf dengan lirih pada Arash, dia juga mengerti karena selama ini Arash selalu diam-diam melihat teman nya yang sering bermain dengan sosok sang Ayah.
Ricard mendudukan Arash di sebelah nya, lalu terlihat Alira yang sudah mengambilkan makanan untuk Arash.
"Santai saja, kamu harus terbiasa dengan situasi ini untuk kedepannya"
Alira mengangguk paham dengan ucapan sang atasan yang akan berubah menjadi Suami nya besok siang.
Setelah semua nya duduk, kemudian ketiga nya memulai sarapan pagi tanpa yang lain.
Karena Mommy dan yang lainnya masih lama berada di luar.
🍅
Tepat jam 10 pagi, manager butiq dan perhiasan pun tiba bersama.
Ricard yang akan memilih cincin serta mahar nya dan untuk seragam serta gaun yang akan di pakai akan Alira yang memilih nya.
Alira dan Ricard memang sepakat untuk dekorasi yang sederhana dengan dresscose gold dan putih.
Sedangkan tema nya, Ricard memilih garden party yang memang akan di adakan di halaman depan.
Beberapa lembar foto Alira lewatkan, hingga manik mata nya menuju ke arah kebaya putih yang sangat elegant dan tidak terlalu terbuka.
"Bagaimana kalau ini" ucap Alira pada Ricard.
Ricard melihat nya dengan anggukan kepala, dia juga menyukai nya karena tak terlalu ribet.
Kemudian Alira memilih kembali untuk gaun yang akan di pakai setelah akad.
Dan pilihan nya jatuh pada gaun yang begitu indah dengan ekor yang menjuntai ke belakang.
Ricard pun sudah selesai dengan pilihan nya, begitupun dengan Alira.
Hingga kedua manager tersebut pun berpamitan pada kedua calon mempelai.
"Maafkan aku"
Alira terdiam serta menatap Ricard heran, kenapa dia meminta maaf?
"Untuk?" tanya Alira.
"Semua ini, maaf karena aku terlambat datang untuk bertanggung jawab dan maafkan aku yang telah meninggalkan mu pagi itu"
Huh.
Alira hanya mampu membuang nafas kasar, mau marah pun tak ada guna nya karena semua telah terjadi dan juga Ricard pun sama-sama korban.
"Bolehkah aku meminta sesuatu pada mu?" tanya Ricard menatap Alira dalam.
Alira menganggukan kepala nya.
"Bolehkah kita berjuang untuk menghadirkan cinta di rumah tangga ini, karena aku hanya ingin menikah satu kali saja dalam hidupku" pinta Ricard dengan yakin dan tatapan tulus.
Tak ada Ricard yang datar, dingin maupun tegas. Yang ada, hanya Ricard yang humble serta menyenangkan di lingkungan keluarga.
"Boleh, aku pun sama. Walaupun kita menikah karena kesalahan, namun aku ingin melakukan dan memerankan nya dengan tulus. Karena apa? Karena kita sudah sama-sama dewas" jelas Alira dengan tersenyum.
Ricard pun langsung tersenyum dan mereka saling menautkan pandangan yang begitu dalam.
Hingga,
Jengkal demi jengkal Ricard kikis dan kini hanya beberapa centi lagi dia menggapai apa yang selalu menggoda nya.
Bibir.
Namun,
"Ehemmmmm"
Sebuah deheman mengagetkan kedua nya dan otomatis langsung berjauhan dengan wajah kikuk nya.
Sedangkan Ricard, dia melongos saat melihat wajah tengil dari Mommy nya
"Sabar ya"
Ledek Mommy dengan terkekeh geli pada sang Putra.
.
.
.
.
.
.