ALIRA.

ALIRA.
Bab 17



Ardi menghentikan laju mobil nya di halaman perusahaan, dia langsung saja melangkah masuk ke dalam karena memang buru-buru mau bertemu dengan Ricard.


Ting.


Pintu lift khusus pun terbuka, Ardi segera masuk dan masih sempat melihat seseorang yang sejak tadi mengikuti nya.


"Ck, pantas saja rezeki mu seret ya orang kerjaannya hanya buat orang emosi saja" gerutu Ardi dengan geram akan tingkah Paman dari Istri teman nya itu.


Hingga tanpa terasa Ardi pun sampai di lantai dimana ruangan Ricard berada.


Ting.


Ardi keluar dan menghampiri Alira yang sedang fokus bekerja.


"Nona Boss, ada Boss di dalam?"


Ehh.


Alira langsung terperanjat kaget atas pertanyaan dari Ardi yang tiba-tiba muncul.


"Maaf maaf kaget ya" kekeh Ardi dengan tak enak.


Huh.


"Gak apa, Bos ada kok di dalam masuk saja" ucap Alira dengan ramah.


Ardi mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan Ricard, dia langsung saja mendapatkan hadiah tatapan tajam dari teman sekaligus Boss nya.


"Ada apa nih, kenapa datang-datang udah melotot aja" ucap Ardi meringis.


Ricard tetap diam namun masih menatap Ardi dengan tajam.


"Kenapa lo buat istri gue terkejut? Bagaimana kalau dia kenapa-napa"


Hah.


Ardi yakin bahwa dia mendapatakan tatapan tajam karena hal tersebut, dan ternyata benar kan ada nya begitu.


Tanpa berbasa-basi, Ricard langsung mengutarakan apa yang dia ketahui dan dapatkan akan penyelidikan nya hari ini.


Dia cukup geram akan tingkah seseorang itu yang seakan menutup rezeki orang lain.


Ricard diam mendengarkan, dia juga sama kaget nya akan cerita dari Ardi tersebut.


Namun, dia ingat pesan istri nya semalam.


'Meskipun kamu di atas jauh dari keluarga ku, namun aku tetap akan bilang tetap waspada. Karena mereka licik dan licin, hanya Paman Idris saja yang selalu aku percayai dan bahkan Ayah serta Bunda ku pun sudah terlihat kemakan omongan Paman Aryo'


Itulah kata-kata yang Alira pesankan semalam pada Ricard, dan dia begitu senang karena Alira akhir nya sedikit demi sedikit luluh pada nya.


🍅


Jam kantor pun berakhir, beberapa karyawan sudah membereskan barang nya dan bersiap untuk pulang.


Begitupun dengan Alira, dia juga sudah siap untuk pulang dan langsung masuk ke ruangan sang Suami.


"Ayo kita pulang, Mas" ajak Alira.


Ricard menganggukan kepala, kemudian keduanya berlalu dari sana setelah memastikan bahwa semua nya sudah aman.


Ting.


Lift terbuka dan kedua nya pun masuk ke dalam.


Grep.


"Aku lelah sekali"


Ricard berkata lirih dengan memeluk tubuh Alira dengan erat, dia menghirup aroma sang Istri dengan dalam-dalam.


Sedangkan Alira hanya bisa diam dengan detak jantung yang sangat berdebar.


***


Paman Idris,


Dia adalah pria yang baik dan berhati lembut, dan hal itu yang membuat Aryo sangat membenci nya karena dia begitu baik dan juga selalu menolong orang.


Dan, hanya Paman Idris saja yang gagal Aryo pengaruhi dan juga ajak bekerja sama.


Bahkan setelah dia menjebak dan meruntuhkan usaha nya pun dia tetap berdiri kokoh dengan bantuan Istri dan Putri nya.


Paman Idris melajukan mobil nya ke arah Rumah, dia memang selalu pulang sore hari walaupun Restoran akan tutup nanti jam 09 malam.


"Kenapa Ayah berseri-seri?"


Sebuah pertanyaan dari sang Putri mampu membuat Paman Idris semakin melebarkan senyuman nya.


"Ayo masuk dulu, orang yang sama mengikuti Ayah sejak tadi dari Restoran"


Lirih, ya Paman Idris berbicara dengan lirih karena takut akan ada yang mendengarkannya.


Huh,


Fani dan sang Ibu mengikuti langkah sang Ayah, dan memang sempat melihat orang yang selalu mengawasi Ayah nya pergi begitu saja setelah melihat mereka masuk.


"Kenapa anak buah Paman Aryo ngikutin Ayah lagi? Bukannya sudah lama ya dia tidak pernah?"


Akhir nya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Fani yang memang sejak tadi penasaran.


"Karena tadi di Restoran ada orang yang ingin berinvestasi pada Restoran kita, sudah Ayah tolak namun dia tetap bersikeras menginginkan hal itu dan dia juga tau bahwa akan ada orang yang menghalangi nya nanti" tutur Paman Idris menatap Istri serta Putri nya.


"Mudah-mudahan ini jalan usaha kita ya Ayah, semoga saja orang itu jauh lebih kuasa di bandingkan Paman Aryo yang selalu menekan orang-orang agar menjauhi kita"


Ungkapan tulus sang Istri mampu membuat Paman Idris terharu, dia juga sudah berusaha akan tetapi Paman Aryo selalu membuat jalan nya buntung tak berbekas.


Fani memeluk Ayah nya, dia juga mendoakan hal yang sama seperti sang Ibu, dia ingin akan ikut terjun setelah pulang kuliah nanti. Agar sang Ayah bisa istirahat dan dia juga akan berusaha merubah ekonomi keluarga nya.


*


Dan matahari pun sudah menampakan kembali cahaya nya, hari ini Paman Idris begitu semangat akan menyambut hari ini.


Apalagi, semalam Fani menyebutkan bahwa hari ini dia juga akan ikut serta membantu sang Ayah untuk menjalankan Restoran.


Usai sarapan, Fani dan sang Ayah langsung meluncur ke Restoran karena orang yang kemarin ingin inves pun sudah memberi kabar akan hal ini.


"Selamat pagi, Bos"


Sapa beberapa karyawan disana, Fani melihat tatapan tak suka dari arah kasir saat dia ikut masuk.


"Maya, kamu bantu yang lainnya mulai saat ini. Karena Fani yang akan mengurus kasir beserta laporan keuangan"


Deg.


'Bagaimana ini'


Maya hanya bisa pasrah saja, dia lalu meninggalkan meja kasir dan berlalu ke arah belakang.


Karyawan lain yang memang tak suka pada Maya pun langsung terkekeh puas.


'Aku tau bahwa kehadiran Kak Alira pasti akan membawa berkah bagi keluarga ku. Karena dia memang selalu menjadi penolong bagi kami'


Fani menatap beberapa pengunjung yang mulai berdatangan, ada yang mau nongkrong saja dan ada juga yang memang mau makan.


Hingga tepat jam 10 pagi, Ardi kembali ke sana dan langsung saja menuju ke ruangan dimana Paman Idris berada.


Fani pun turut melihat nya, dia tau pasti dia orang yang akan berinves kepada sang Ayah.


Pada jam makan siang, Fani benar-benar sibuk karena pengunjung yang selalu banyak dan memenuhi Restoran sederhana ini.


"Fani"


Tegur seorang wanita dengan begitu merdu nya.


"Kak Alira" pekik Fani dengan bahagia saat melihat Kakak sepupu nya sedang berdiri bersama Suami nya.


"Ayo ikut ke ruangan Ayah mu, disini biar salah satu orang Suami Kakak yang jaga" bisik Alira.


Fani mengangguk patuh, kemudian dia berjalan di depan karena memang Alira tak tau letak ruangan Ayah nya.


Disana Paman Idris sedang bersama dengan Ardi, mereka berdua terlihat berbincang dengan hangat.


"Alira"


.


.


.


.


.