
Ricard menghentikan mobil nya tepat di depan loby perusahaan, kemudian dia dan Alira keluar bersamaan dari dalam mobil.
Ya, Alira akan menjadi Sekertaris Ricard disana selama Pandi dia tugaskan bersama dengan Max.
"Selamat datang Tuan muda"
Sapa seluruh karyawan yang ikut serta dalam penyambutan hari ini, Ricard hanya mengangguk dan melangkah menuju ke arah lift khusus untuk sang CEO.
Alira sendiri pun mengekori nya dari belakang tanpa ekspresi apapun di wajah nya, ya dia tidak akan seramah saat di Kota Medan. Karena apa? Ini adalah di Surabaya dan dia takutnya akan ada Feli dan Zayn lainnya.
Cup.
Ricard dengan sengaja mengecup pipi Alira saat mereka sudah berada di dalam lift berdua.
"Mas, jangan macam-macam deh" kesal Alira dengan sinis.
Ricard hanya terkekeh lucu saja, dia memeluk Alira sebentar dan kemudian melepaskannya kembali karena lift sudah akan terbuka.
Ting.
Kedua nya keluar dan langsung ke ruangan dimana Ricard berada.
"Untuk hari ini jangan menerima tamu ataupun rapat di luar, aku cukup lelah karena belum istirahat total" ucap Ricard.
"Memang sudah aku rubah jadwal hari ini dan besok, jadi anda tidak akan keluar dan hanya akan berada di perusahaan saja" balas Alira formal.
Ricard menganggukan kepala nya, dia lalu masuk dan Alira duduk di kursi yang ada di depan ruangan Ricard.
🍅
Restoran FN.
Di restoran yang cukup terkenal itu lumayan ramai dengan pengunjung, dan disinilah Ardi di tugaskan oleh Ricard.
Dia akan menjadi pembeli dan menanyakan ke beberapa orang kenapa tak ada yang berani berinvest disana, padahal dia tau bahwa restoran itu sangat nyaman dan masakannya enak.
Dan tepat sekali, Ardi kesana saat jam makan siang sudah tiba.
"Mau pesan apa, Tuan"
Pelayan menyapa dengan memberikan buku menu nya, kesan pertama yang Ardi dapatkan adalah, sopan dan ramah.
Ardi memesan beberapa makanan yang di bilang sangat best seller banget disana, dan tak lupa juga dengan minuman nya.
"Silahkan tunggu sebentar ya, Tuan"
"Baik"
Ardi kemudian mengedarkan pandangannya, makin lama makin banyak dan hampir penuh restoran tersebut.
Hingga ada seorang karyawan yang menghampiri Ardi dan meminta izin untuk duduk disana dengan nya karena penuh.
"Memang nya selalu penuh ya setiap hari nya?" tanya Ardi pada pria di hadapannya itu.
"Iya Tuan, bahkan saya sering kali memesan di bungkus karena tak ada tempat"
"Apa anda baru mencoba ke sini? "
Ardi menganggukan kepala dengan mata nya terus melirik ke arah setiap sudut restoran.
"Pasti yang investasi disini untung ya, dan mungkin cabang resto nya banyak" celetuk Ardi untuk memancing si Pria di hadapannya.
Huh.
"Anda salah Tuan, ini restoran tak ada cabang nya dan yang mau invest pun pasti di urungkan niatnya" jelas pria itu.
"Loh kenapa?"
Ardi bertanya kembali dengan wajah di buat kaget seketika.
"Karena yang punya restoran ini pernah bangkrut dan rumor yang aku dengar sih uang nya di pake sama dia dan keluarga nya untuk foya-foya"
"Namun, itu salah dan aku gak percaya soalnya yang menyebarkannya adalah masih saudara nya, Pak Aryo Sensen"
'Huh aku tau biduk permasalahannya kali ini'
Hingga obrolan mereka berhenti saat pesanan Ardi dan si pria itu sudah datang.
*
"Pelayan"
Ardi memanggil salah sayu pelayan yang ada disana.
"Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut sopan.
"Apakah pemilik Restoran ini ada? Saya ingin menemui nya" ucap Ardi.
"Mari saya antar, kebetulan beliau ada di ruangannya"
Ardi mengikuti si pelayan tersebut dengan ekor mata yang melirik kasir yang terus menatap dia sejak tadi.
'Ada yang gak beres'
Setelah tiba di ruangan tersebut, Ardi pun langsung di persilahkan masuk oleh sang pemilik Restoran.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria paruh baya di hadapan Ardi.
"Loh bukannya ini adalah saudara Nona Boss ya"
Ardi masih ingat siapa pria yang ada di hadapannya ini, dia yakin bahwa pria ini adalah saudara sang Nona Boss.
"Saya kesini ingin melakukan investasi, karena saya melihat restoran ini sangat ramai dan juga tak ada cabang lain lagi" ucap Ardi.
"Ah iya, perkenalkan nama saya Ardi Juanda"
Ardi mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh pria tersebut.
"Saya Handoko Idris, panggil saja Pak Idris"
"Dan untuk masalah anda yang mau investasi, saya tidak bisa memutuskan sekarang karena takut anda akan memutuskan sepihak esok hari" jelas Idris dengan sendu.
Ardi mengepalkan tangannya, ternyata bukan hanya Putri nya saja yang licik tetapi Ayah nya juga sama licik nya padahal dengan keluarga sendiri.
"Anda tenang saja Pak, saya sudah tau tentang rumor tersebut dan saya gak akan terbawa oleh omongan seorang Aryo"
"Jadi, apa anda berkenan?"
Ardi kembali bertanya dengan penuh keyakinan, dan dia juga meyakinkan Idris akan hal ini.
"Baiklah, karena saya juga sebenarnya ingin membuka cabang agar lebih berkembang kembali usaha ini" balas Idris yakin.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi saya akan kesini lagi dengan membawa beberapa berkas yang di perlukan. Dan untuk membuka cabang, biar itu urusan saya dan anda hanya tinggal menyiapkan saja untuk resep makanan yang baru"
Ardi berdiri setelah mengutarakan keinginannya, lalu dia berpamitan setelah di rasa cukup untuk semua nya.
"Semoga saja kali ini benar-benar ada yang mau berinves" gumam Idris setelah melihat ke pergian Ardi.
*
Saat Ardi keluar dari ruangan Idris , sontak saja dia tersenyum samar saat melihat bayangan yang ada di balik pintu menuju ke area restoran.
Namun dia membiarkan saja dan berlalu dari sana, dia akan ke perusahaan Ricard untuk memberitahu semua ini.
"Ck, ini sih sekeluarga isi nya orang licik dan iri semua" lirih Ardi saat sudah melajukan mobil nya.
Ardi terus saja melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, namun saat di jalan yang cukup sepi dia seperti melihat ada yang mengikuti nya.
Dia mencoba melajukan mobil nya kencang dan dia juga ikut kencang, bahkan Ardi berhenti di supermarket pun dia ikut berhenti dengan jarak aman.
"Ck, salah cari lawan lu" kekeh Ardi.
Dia membiarkan saja hal tersebut, dan dia juga menikmati perjalanan ini karena sudah lama tak ke Kota ini.
Dulu dia dan para sahabat nya lama tinggal di Kota ini, saat itu Ricard baru membuka cabang dan sekarang sudah melesat dan hampir sama dengan yang ada di Medan.
.
.
.
.
.