
Ayah Wira tertunduk di balkon ruang kerja nya, dia lalu membuang nafas beberapa dengan sangat kasar.
'Apa semua ini sudah benar?'
'Apa aku memang keterlaluan?'
Ayah Wira terus saja berpikir, di merenungi setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang Istri.
Ya, dia dan Istri nya debat dengan habis-habisan karena masalah Putri mereka, Alira.
-Flashback.
Setelah Paman Aryo pergi, Ayah Wira mengetuk pintu kamar nya dan ternyata sang Istri tidak ada disana.
Dia lalu mencari nya ke halaman belakang dan dia menemukan Istri nya sedang terduduk dengan menatap kosong ke arah kolam renang.
"Bun, sudah malam ayo masuk"
Sebuah tepukan mendarat tepat di pundak sang Istri dengan lembut.
Namun,
Tepisan tangan sang Istri mampu membuat nya bungkam dan menatap tak percaya.
Bunda Alira melangkah masuk ke dalam Rumah tanpa menghiraukan Suami nya yang ada disana.
"Bun"
Teriak Ayah Wira dengan menggelegar di ruang keluarga, dengan langkah yang tegap dia menyusul sang Istri dan menyentakan tangannya agar berhenti dari langkah nya.
"Kamu ini kenapa? Tak sopan" tegur Ayah Wira dengan keras.
Hening.
Bunda Lisa diam dan menatap sang Suami dengan tajam.
"Apa kamu sudah puas, apa kamu sudah lega dan tak malu? Apa yang ada di pikiran mu, Mas! Alira itu adalah darah daging kita dan kamu dengan tega nya membiarkan dia berjuang sendiri di luaran sana"
"Aku mendiamkan kamu karena menghargai kamu sebagai kepala keluarga, namun apa yang aku dapatkan? Kekecewaan! Aku seorang Ibu yang dulu mengandung, menyusui dan membantu perkembangannya. Namun apa, aku bahkan sama sekali tak percaya pada Putri ku yang sudah aku kenal dan semua itu karena menghargai kamu"
"Mulai saat ini, aku tak akan mengganggu dan akan membiarkan semua yang kamu kerjakan bersama Aryo! Tapi, jika itu menyangkut Putri ku, maka aku yang akan maju duluan melawan mu dan si Aryo"
Bunda Lisa berteriak dengan lantang di hadapan sang Suami, dia merasakan sakit yang amat sakit saat mendengar bahwa Suami nya tidak akan memperdulikan Putri mereka!
Bahkan dengan lugas nya sang Suami menekankan bahwa semua harta nya akan dia sumbangkan dan tak akan di berikan pada Alira.
Plak.
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Bunda Lisa.
"Lancang sekali kamu berteriak di hadapan ku Lisa"
"Kau membela anak itu dengan begitu keras nya, padahal anak itu telah mencoreng nama baik ku"
Ayah Wira membentak serta menunjuk wajah Bunda Lisa dengan penuh emosi.
"Dengarkan ini baik-baik Wira Sensen, kau akan menyesal dan akan sangat amat menyesal. Karena apa? Karena kau telah termakan oleh hasutan Aryo"
"Kebenaran akan datang dan saat itu tiba, kau akan menyesal namun sudah terlambat"
Bunda Lisa pergi dari sana setelah berucap sedemikian, dia menatap Suami nya tanpa takut.
-FlashOff.
Ayah Wira terus saja termenung hingga hampir tengah malam, dia lalu beranjak masuk ke ruang kerja nya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja kerja.
Tut.
Tut.
"Apa kau sudah mencaritahu nya?" tanya Ayah Wira pada seseorang di seberang sana.
"........"
"Baiklah, aku tunggu sampai besok pagi" ucap Ayah Wira tegas.
Tut.
Huh.
"Semoga saja jalan yang aku ambil tak salah, karena aku menyelamatkan nama baik dan juga perusahaan" gumam Ayah Wira dengan lirih.
Ayah Wira memang gila dengan sanjungan dan nama baik, dia akan melakukan apa saja agar nama baik nya tetap aman dan juga bagus.
Namun,
Beberapa tahun belakang, nama dia sedikit buruk karena masalah yang di lakukan Alira semakin menyebar.
Tetapi, Ayah Wira masih bisa mengatasi nya dan membuat oranglain bungkam.
Ceklek.
Ayah Wira masuk ke dalam kamar, dia akan istirahat karena merasa sangat pening dengan beberapa masalah yang datang.
Bahkan, Bunda Lisa pun tak ada di kamar mereka berdua. Dia pindah ke kamar tamu yang ada di bawah.
Huh.
Lagi dan lagi Ayah Wira membuang nafas kasar, dia lalu merebahkan tubuh nya ke atas ranjang size nya.
'Alira'
'Alira'
Ke esokan pagi nya, matahari sudah menyapa penduduk Bumi dengan cahaya yang sangat menghangatkan tubuh.
Bahkan, ada beberapa orang yang masih bergulung dengan selimut tebal nya padahal hari sudah menjelang siang.
Sama hal nya dengan seorang wanita yang masih terlelap karena kelelahan,
Namun, dia kelelahan bukan karena bekerja! Melainkan melayani sang Suami.
Ckckck!
Ya, dia adalah Alira!
Cup.
"Sayang bangun, sudah siang"
Sebuah bisikan halus pun terdengar di telinga Alira, dia mulai menggeliatkan tubuh nya karena merasa terganggu dengan bisikan terus menerus dari sang Suami.
"Mas" rengek Alira karena kesal tidur nya di ganggu.
Tok.
Tok.
"Tuan muda, ada tamu di bawah mencari Nona muda"
Alira membuka mata nya dengan sempurna, dia menatap sang Suami dengan wajah bingung!
'Siapa yang bertamu di jam 7 pagi begini'
Begitulah pikiran Alira saat ini,
"Suruh tunggu sebentar Bi, kami akan segera ke bawah"
Alira membalas nya dengan berteriak, namun dia melupakan bahwa kamar yang mereka tempati kedap suara.
Ricard menggelengkan kepala nya, dia kemudian menggendong sang Istri ke arah kamar mandi.
"Mas, turunin" ucap Alira karena kaget.
"Mandilah dulu, biar aku yang akan menemui tamu itu"
Ricard meninggalkan Alira yang sudah dia turunkan di dalam bathup yang sudah terisi air hangat.
"Terimakasih, Mas"
Alira berucap dengan senyuman di wajah cantik nya, dan Ricard membalas nya pun dengan senyuman kecil.
Hening.
Alira masih berendam dengan berpikir siapa tamu yang ingin menemui nya sepagi ini.
Hampir 30 menit berlalu, Alira sudah menyelesaikan berendam dan mandi nya.
Dia kemudian melangkah ke arah tangga dengan perlahan, dia bisa melihat sang Suami yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita.
'Siapa dia'
Alira terus saja berpikir dan menebak, setiap langkah nya tak lepas dari sang Suami yang sudah menyadari keberadaanya.
"Kemari sayang"
Ricard memanggil nya dengan lembut, dia mengulurkan tangannya dan menyuruh sang Istri duduk bersama dengan dirinya.
Deg.
Deg.
Jantung Alira berpacu dengan sangat hebat nya saat melihat siapa yang ada di hadapan nya saat ini.
"Bunda"
Ricard memegang tangan Alira dengan erat, dia seolah menyalurkan semangat pada sang Istri lewat sentuhan nya.
"Apa kabarmu, Nak?"
Sebuah pertanyaan keluar dari mulut wanita paruh baya yang ada di hadapan Alira dan Ricard.
Ya, dia adalah Bunda Lisa!
"Sehat"
"Dan aku akan selalu sehat meski tanpa kalian"
Deg.
Jawaban Alira begitu sangat menohok di hati sang Bunda, dia menatap Putri nya dengan nanar.
"Maafkan Bunda yang tak kuasa membela mu saat itu, Nak"
.
.
.
.