ALIRA.

ALIRA.
Bab 15



Di kediaman Fani, dia saat ini duduk berhadapan dengan Paman dan Bibi nya.


Ya, Bunda Alira merengek ingin menemui Fani dan sang Suami pun mau tak mau harus menuruti nya.


"Ada hal penting apa sampai Paman dan Bibi datang kesini? Bahkan ini sudah hampir tengah malam?"


Fani bertanya dengan tenang, bahkan orangtua nya pun tak ikut campur karena selama ini Fani selalu bersikap pada orang sopan, namun tergantung orang tersebut pernah bermasalah dengan nya atau tidak.


"Maaf Fani, Bibi datang kesini ingin menanyakan tentang Alira"


Heh.


Fani langsung terkekeh kecil dengan bibir mencebik kala sang Bibi ingin bertanya tentang Alira? Padahal dia itu Bunda nya dan tadi ada di depan mata nya.


"Apa aku tak salah dengar? Bukan kah tadi Alira ada di hadapan Bibi, kenapa Bibi tidak histeris dan memeluk nya. Alira kan anak Bibi satu-satu nya" celetuk Fani dengan santai.


"Apa yang di katakan oleh Fani benar adanya, kenapa tadi Mbak tak menyapa Alira? Apa kalian masih tetap sama seperti 5 tahun yang silam, belum juga melihat kebenaran yang ada?"


Ibu Fani ikut menimpali, dia selaku Adik dari Suami Bunda Alira pun merasa geram karena kelakuan Abang dan Mbak ipar nya.


"Kebenaran apa? Kebenaran bahwa dia sudah tidur dengan pria yang kala itu meninggalkan dia sendirian? Ck, itu sangat memalukan dan aku masih ingat betul dia begitu seperti menikmati nya karena terbukti dengan adanya bekas ke*upan di seluruh tubuh nya itu" tegas Ayah Alira dengan wajah memerah.


Hah.


"Lebih baik kalian pulang saja, aku tidak akan terima jika kalian terus saja menjelekan Alira, karena apa? Karena dia sudah seperti Putri kandungku sendiri. Jika memang saat ini kalian masih buta, maka tunggu saat kebenaran terungkap dan kalian akan menyesal"


Ibu Fani berkata dengan lantang dan berdiri dari duduk nya, bahkan dia menunjuk langsung pintu keluar agar Abang nya pergi bersama dengan sang Mbak Ipar.


"Kalau Mbak penasaran dengan keadaan Alira, temui saja dia dan jangan keluarga kami" timpal Ayah Fani.


Hah.


Bunda Alira membuang nafas kasar, lalu dia beranjak mengikuti langkah sang Suami yang sudah pergi duluan tanpa berpamitan.


"Mereka ternyata masih belum sadar, Aryo benar-benar sudah merocoki pikiran Abang mu, sayang" ucap Ayah Fani sambil menggelengkan kepala.


"Biarkan saja, biarkan mereka mendapatkan akibat nya dan menyesal setelah apa yang mereka lakukan pada Kak Alira" balas Fani kesal.


Ibu Fani pun menyuruh sang Putri untuk masuk ke dalam kamar nya, begitupun dengan diri nya dan sang Suami yang akan istirahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ke esokan pagi nya, Fani sudah bersiap karena akan berangkat kuliah. Ya, dia memang masih kuliah dan baru semester 1.


"Hati-hati di jalan nya sayang"


Teriakan sang Ibu hanya di balas anggukan dan senyuman saja oleh Fani, lalu dia melajukan motor kesayangan nya ke arah kampus yang jarak nya lumayan jauh dari Rumah.


Setelah kepergian sang Putri, Bu Diah masuk kembali dan menghampiri sang Suami yang baru saja turun dari lantai atas.


"Mas, ini bekal dan tas nya"


"Terimakasih sayang, Mas pergi kerja dulu ya"


Ayah Fani berangkat menggunakan mobil satu-satu nya milik mereka. Ya, usaha kedua nya memang sempat gulung tikar karena kelicikan Aryo, namun Ayah Fani hanya bisa sabar dan merintis kembali usaha di bidang Restoran bersama dengan Putri dan sang Istri.


🍅


Mansion Dawn,


Berbeda dengan di mansion megah ini, kali ini Alira berkutat di bantu oleh maid yang memang khusus untuk di area perdapuran saja.


Ya, dia sekarang hanya membantu saja dan selebih nya yang memasak adalah Alira karena Ricard sendiri ingin masakan sang Istri.


"Bi, semua tata di meja ya dan tolong buatkan bekal di wadah yang sudah saya siapkan itu" ucap Alira dengan ramah.


"Baik Nona" balas nya patuh.


Kemudian Alira pergi ke lantai atas, dia akan bersiap untuk bekerja bersama dengan sang Suami.


Ceklek.


"Loh, kok belum mandi?"


Alira menatap heran ke arah Ricard yang masih betah duduk santai di atas ranjang.


"Ck, nungguin kamu lah" jawab Ricard beranjak dari duduk nya.


Ehh.


Alira kaget karena Ricard sudah memeluk nya dengan erat dari belakang.


"Kamu punya sihir ya" celetuk Ricard.


Hah.


"Ya enggak lah"


Huh.


"Entahlah Mas, tapi aku pun sama. Aku merasa nyaman dan aman saat berada di dekat mu" balas Alira tulus.


Cup.


"Fix, harus mandi bareng"


"Masssss"


Alira berteriak karena Ricard yang menggendong nya dengan cepat, dan kemudian mereka tenggelam di dalam kamar mandi.


*


Sedangkan di lantai bawah, tepat nya di ruang makan Ardi, Pandi dan Max sudah menunggu kedatangan pasutri tersebut.


"Yaelah nih si Ricard masa terus di gas sih udah mau siang gini juga" keluh Ardi dengan kesal.


"Yasudah makan saja duluan kalian"


Celetuk Ricard yang baru tiba bersama dengan Alira,


Hehe.


Ardi hanya tertawa kecil dan langsung mengikuti Max yang sudah mengambil makanan.


Sedangkan Ricard, dia menunggu karena Alira yang sedang mengambilkannya untuk diri nya.


Kemudian mereka sarapan dengan hening, dan tanpa bincangan apapun.


Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah selesai, dan hari ini Ricard akan berangkat bersama dengan Alira.


Sedangkan Pandi dan Max akan bertugas dengan perintah sang Tuan muda dan untuk Ardi, dia akan menemui pemilik Restoran yang cukup baik namun para pengusaha tak berminat kesana.


Mereka berangkat dengan mobil masing-masing,


Ricard melirik sang Istri yang masih terlihat manyun saja.


"Kenapa sih manyun aja" kekeh Ricard tanpa dosa.


Ck.


"Pake nanya lagi"


Ehh.


"Masss aku lupa" pekik Alira dengan kaget.


Ckitt.


Ricard mengerem dadakan dan untung saja di belakang nya tak ada mobil lain.


"Ada apa, sayang?" tanya Ricard khawatir.


"Ehemm, aku gak minum pil kontrasepsi setelah menikah dan sampai sekarang aku melupakan hal itu"


'Ya ampun'


Ricard sontak saja langsung terkekeh dan melanjutkan kembali perjalanannya.


"Tak apa, aku memang ingin punya Anak kembali dan Arash pun sudah meminta Adik bukan" celetuk Ricard santai.


Huh.


"Yasudah kalau begitu, kalau rezeki kita mungkin aku cepat akan hamil tapi kalau belum ada rezeki nya ya-


" Lebih sering dan berusaha dengan keras lagi dong, kalau bisa setiap ada kesempatan"


Alira melototkan mata nya pada sang Suami, dia belum juga selesai berbicara ini sudah di potong dan ucapan sang Suami sangat absurd sekali.


"Mesummm"


"Tak apa, mesum sama Istri sendiri"


.


.


.


.


.


.