ALIRA.

ALIRA.
Bab 20



Disinilah Alira berada, di halaman belakang Mansion Ricard yang penuh dengan bunga dan tanaman buah-buahan.


Ya, Ricard memberikan Bunda Lisa dan Alira berbicara berdua dengan tenang.


Tak ada yang bisa Alira lakukan selain mendengarkan dan diam saja saat ini.


Bunda Lisa terus saja bercerita dengan air mata yang terus saja menetes, dia menatap ke arah hamparan bunga yang indah di depan nya.


"Nak, sekali lagi maafkan Bunda"


Bunda Lisa sangat ingin memeluk sang Putri, dia begitu merindukan kehangatan dan tawa ceria nya yang selama ini menghiasi Rumah dan hari-hari nya.


Huh.


Alira menghela nafas dalam, dia menyeka air mata nya dengan tangan.


"Kau tau Bun, aku di luaran sana berjuang sendirian. Entah itu hujan, panas atau angin kencang menerpa pun aku lalui dengan semangat! Aku tau kalian kecewa, namun aku juga lebih kecewa karena tragedi itu bu bukan kehendakku"


Roboh.


Ya, pertahanan Alira pun roboh! Dia menangis terisak dengan bibir yang terus bercerita masa lalu dimana dia selama 5 tahun ini bertahan hidup dengan kemelut Dunia.


"Hiks, aku sangat rindu pada kalian. Tapi Ayah, dia menutup jalan akses apapun untuk aku mengutarakan rindu"


"Aku menyerah, aku mulai menata kembali hidupku di Kota orang, berbagai hinaan dan cemoohan aku terima dengan lapang dada. Hanya satu yang aku tak terima, tidak percaya nya kalian padaku"


Grep.


Bunda Lisa yang sudah tak tahan pun langsung memeluk Alira dengan erat, dia menangis dan terisak dengn pelukan yang hangat itu.


Begitupun dengan Alira, dia juga menangis di pelukan sang Bunda yang selama ini amat dia rindukan.


Melebur dengan sendiri nya, kata demi kata sudah Alira lontarkan sebagai bentuk kekecewaannya selama ini.


"Maaf"


"Maafkan Bunda"


*


Sedangkan di ruang keluarga, Ricard baru saja selesai menelpon sang Putra.


Dia harus mencari alasan yang tepat pada Arash saat menanyakan sang Bunda.


"Ahh dia semakin lucu dan cerewet saja"


"Apa kata nya tadi, aku minta Adik yang lucu. Ya ampun, bocah itu pasti sudah di racuni oleh Mommy dan Daddy"


Ricard terus saja bergumam dengan celotehan Putra nya yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Mas"


Alira menegur nya dengan suara yang cukup serak.


"Loh kamu kenapa sayang hmm? Apa kamu menangis?"


"Tidak Apa, Mas"


Alira tersenyum melihat ke khawatiran di wajah Suami nya, dia lalu memeluk Ricard dengan erat.


Sedangkan di belakang Alira , Bunda Lisa menatap kedua nya dengan penuh haru dan bahagia.


Huh.


Setelah puas memeluk Suami nya, Alira menghela nafas kasar dan menyuruh sang Bunda untuk sarapan lebih dulu sebelum pulang.


Kemudian mereka ke arah ruang makan, disana kembali hening karena memang Ricard kurang suka ada orang yang berbicara di meja makan.


🍅


Berbeda dengan yang di rasakan di Rumah Ayah Wira, dia langsung saja pergi ke Perusahaan dengan perasaan kesal dan penuh amarah.


Pagi ini, dia tidak mendapati sang Istri yang biasa nya akan selalu ada di dapur.


Namun,


Kali ini, dia mendapati laporan bahwa Istri nya pergi keluar sejak pagi-pagi sekali.


Sesampainya di perusahaan, Ayah Wira langsung saja masuk ke dalam dan menuju ke ruangan nya langsung.


"Tuan, hari ini anda ada pertemuan dengan Dawn Group" lapor sang Asisten.


"Baik, nanti kita pergi kesana" balas Ayah Wira dengan tegas.


Hah.


Ayah Wira membuang nafas kasar, dia begitu geram akan kelakuan sang Istri yang semakin semena-mena pada nya.


"Apa guna nya dia menghampiri anak itu, dia sudah sangat membuatku kecewa dan juga memberikan kotoran dalam wajah ku ini"


"Sampai kapanpun aku sangat malas mengakui dia sebagai Putri ku, karena dia hampir saja membuat perusahaan bangkrut"


Ayah Wira terus saja menggerugu dengan wajah kesal nya, dia mengabaikan beberapa panggilan dari sang Adik, Aryo.


*


Hingga jam makan siang pun datang, Ayah Wira bersiap bersama dengan Asistennya.


Mereka berdua akan menuju ke Restoran dimana sang klien meminta nya bertemu.


"Di Restoran mana kita bertemu?" tanya Ayah Wira yang sudah duduk di kursi belakang.


"Di Restoran FN, Tuan" jawab sang Asisten.


Hah.


Ayah Wira menghela nafas, dia sebenarnya malas namun apa boleh buat.


Hingga beberapa saat kemudian dia sampai di Restoran tersebut,


Asistennya langsung menuju ke ruangan yang sudah di tunjukan oleh pelayan disana.


Ceklek.


Ternyata disana sudah ada Tuan muda Dawn dan Istri nya.


"Maaf kami terlambat Tuan muda" ucap Asisten Ayah Wira.


'Hmmmm'


Ricard menatap mertua nya dengan datar, dia lalu memegang tangan sang Istri dengan lembut.


Mereka langsung saja membahas kerja sama yang memang sudah lama di jalin.


Namun, tak ada orang yang mengetahui akan hal itu karena memang Ayah Wira tak seperti Aryo.


Alira mendengarkan dengan seksama, dia juga beberapa melirik sang Ayah yang sama sekali acuh akan dirinya.


Sampai pertemuan berakhir, Alira maupun sang Ayah tak bertegur sapa layak nya Ayah dan Anak.


"Apa anda ingin berbincang dulu bersama Putri anda, Tuan?" tanya Asisten nya pada Ayah Wira yang memang masih duduk disana.


"Tidak, pekerjaan saya jauh lebih penting di bandingkan omong kosong ini"


Deg.


Alira menggenggam tangan Ricard dengan sangat erat, dia merasakan dada nya lebih sakit dari biasanya.


"Silahkan pergi"


Tegas Ricard pada kedua klien nya itu.


Cih,


Ayah Wira pergi dengan berdecih, meninggalkan kedua orang yang menatap nya dengan berbeda.


'Sebegitu hinakah aku ini di mata Ayah'


.


.


.