ALIRA.

ALIRA.
Bab 6



Di weekend yang sama dan hari yang sama, Fila bersama beberapa sahabat nya pun berencana untuk liburan ke Bali.


Mereka akan merayakan karena mereka sudah wisuda semua, bahakn Fila dengan antusias dan memboking Hotel untuk mereka semua.


"Wih, bu Bos kita dah sampai ni"


Celetukan salah satu dari mereka.


Fila hanya terkekeh, dan mereka langsung saja masuk ke dalam pesawat yang sudah siap untuk take off.


Semua duduk dengan tenang, Fila duduk bersama Zayn. Dia pria yang sangat menggilai sepupu Fila, Alira.


"Bagaimana malam itu? Kau menikmati nya ya"


Sebuah ucapan keluar dari mulut Fila penuh dengan kekehan.


Lalu Fila menatap Zayn yang terkesan heran dan bingung.


"Loh, gue gak jadi garap dia karena bokap nelpon nyuruh ke Rs" jelas Zayn.


Deg.


Hah.


Fila kaget bukan kepalang, dia menatap Zayn tak percaya.


'Tidak, lalu siapa?'


Fila masih menatap Zayn dengan penuh tanya dan kaget, dia berpikir bahwa malam itu Zayn menghabiskan malam nya.


"Lalu siapa?"


Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Fila dengan tatapan kosong.


Zayn menggedikan bahu nya tanda tidak tau sama sekali.


*


Selama perjalanan dari Surabaya ke Bali, Fila habiskan dengan bengong dan pikiran yang entah kemana.


Bahkan, saat mereka sudah sampai di Hotel pun Fila masih memikirkan hal tersebut.


'Lalu siapa yang sudah tidur bersama Alira malam itu'


Pikir Fila dengan melanglang buana.


Ya, orang yang telah menjebak Alira adalah Fila dan para antek-antek nya.


Bahkan mereka menyangka bahwa malam itu Alira menghabiskan waktu bersama dengan Zayn, pria yang sudah sangat menggilai Alira sejak lama.


"Guys" teriak Fila.


Ketiga teman wanita nya pun langsung menghentikan kerjaan mereka yang sedang menyusun pakaian.


"Ada apa?" tanya Liora.


Fila duduk di atas ranjang, dia menghela nafas kasar dengan berkali-kali.


Ketiga wanita yang ada disana pun menatap Fila heran, lalu mereka duduk di atas ranjang bersama Fila.


"Malam itu, ternyata bukan Zayn"


Jelas Fila dengan tegas.


Hah.


'Tak mungkin'


'Jangan ngarang lo'


Reaksi ketiga teman nya pun menggambarkan keterkejutan yang begitu kentara dan kaget.


"Lalu siapa?"


Pertanyaan keluar dari mulut ke tiga teman Fila.


Fila sendiri menggelengkan kepala nya tanda tidak tau menahu akan hal itu.


"Gawat, jika dia bukan Zayn maka siapa lelaki itu" timpal yang lainnya dengan ketar-ketir.


"Entahlah"


Fila hanya bisa menggelengkan kepala, dia juga bingung dan buntu.


Dan yang lebih membuat mereka khawatir adalah, rekaman cctv sudah tidak ada.


Huh.


Fila membuang nafas kasar, kemudian dia melangkah ke arah luar kamar.


"Gue ke kamar Zayn dulu"


Teriak Fila dengan berlalu dari kamar yang sudah di pesan.


Ya, Zayn memilih kamar sendiri sedangkan kedua teman pria nya satu kamar di samping kamar milik nya.


Tok.


Tok.


"Masuk"


Teriak Zayn dari dalam.


"Loh Fila, gue kira Rio"


Kaget Zayn yang memang sedang memakai handuk saja karena habis mandi.


Fila hanya cuek saja, dia melangkah ke arah ranjang dan merebahkan diri disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di Bandara, Alira, Arash dan Bi Iyem baru saja tiba setelah melakukan penerbangan yang cukup lama.


Mereka memang tiba lebih awal karena Alira mengambil penerbangan malam hari.


Dan untuk Ricard sendiri, besok pagi dia baru akan terbang ke Bali bersama dengan keluarga nya.


"Bunda, kelen" celoteh Arash dengan menunjuk ke sana kemari yang menurut nya asing di penglihatannya.


Alira hanya tersenyum, dia lalu mengajak Bi Iyem dan Arash masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah tiba.


Selama di perjalan menuju Vila, Arash tak pernah diam dan dia terus saja bertanya tentang yang menurut nya baru.


Bahkan Bi Iyem sampai geleng-geleng kepala oleh tingkah anak majikan nya itu.


"Menggemaskan sekali sih kamu, Den"


Celetukan Bi Iyem sontak saja langsung mendapatkan anggukan dari Arash.


"Alash memang gemas Bi" balas nya dengan santai.


Hahaha.


Sontak saja Alira dan Bi Iyem tertawa karena celetukan bocah tampan itu.


Hingga tak berapa lama mereka sampai juga di Villa yang sudah Ricard janjikan.


Lagi dan lagi mereka hanya berdecak kagum, Villa yang sangat indah dengan view langsung menghadap ke arah Pantai.


"Belenang Bundaaa"


Arash memekik bahagia saat melihat kolam berenang yang ada di depan Villa.


Bahkan, Arash kembali histeris saat melihat ada nya Pantai di belakang Villa yang mereka tempati.


*


Puas berkeliling, Arash akhir nya tumbang dan langsung terlelap bersama dengan sang Bunda.


Sedangkan Bi Iyem sendiri masih membereskan barang milik mereka.


"Andai saja Ibu tak mengalami nasib begini, mungkin anda tidak akan kelelahan karena harus bekerja dan mengurus Den Arash"


"Bahkan dengan tega nya orangtua anda tidak mencari anda, padahal ini sudah mau 5 tahun lebih"


Bi Iyem memang tau semua yang menimpa Alira, karena memang Alira sendiri sempat menceritakan nya pada beliau.


Sejujur nya, Bi Iyem merasa kasihan pada Alira. Bagaimana dia yang menanggung hinaan, caci maki dan bahkan harus rela bekerja hampir seharian untuk kelangsungan hidup dirinya sendiri dan Arash.


"Semoga mereka belum terlambat saat bertemu dengan mu, Bu. Semoga anda dan Den Arash mendapatkan sosok pelindung yang jauh lebih baik lagi"


Do'a tulus Bi Iyem dengan menatap sosok majikan yang sedang terlelap dengan damai bersama Putra nya.


**


Ke esokan pagi nya, Bi Iyem dan Alira sudah bangun.


Kedua nya sudah mulai meracik bumbu, menyiapkan makanan dan memasak bersama.


Karena memang Villa itu Ricard boking untuk keluarga mereka tanpa ada nya pembantu ataupun pelayan. Karena Ricard sendiri pun akan membawa pelayan dari mansion nya.


Alira masak agak banyak pagi ini, karena memang Ricard dan orangtua nya sudah mau sampai ke Bali.


"Bi, aku buat ayam goreng tepung dulu buat Arash ya"


Alira langsung mengambil ayam yang sudah di siapkan dan Bi Iyem sendiri menata masakan yang sudah ke meja makan.


"Iya Bi, Bibi bangunin Den Arash dulu" balas Bi Iyem.


Hingga 1 jam kemudian semua sudah siap,


Bahkan Arash sudah rapi dan wangi, mereka bertiga menunggu Ricard di depan pintu Villa.


"Bunda, kita nunggu Bos Bunda kelja?" kepo Arash dengan penasaran.


"Iya sayang, nanti Arash jangan nakal-nakal ya" balas Alira tersenyum.


Arash langsung mengangguk patuh.


Tak berselang lama, munculah mobil yang membawa keluarga Ricard.


Hingga semua keluar dan Ricard serta keluarga nya mematung saat bertemu dengan Alira dan Arash.


Alira di buat bingung, dia lalu inisiatip melangkah mendekati Ricard.


"Tuan"


Ricard tak bergeming, dia malah merasakan jantung nya di pompa lebih cepat.


Deg.


Deg.