ALIRA.

ALIRA.
Bab 7



"Bunda"


Arash memanggil sang Bunda dengan lirih, karena dia cukup risih dengan pandagan ke empat orang yang sekarang sedang memandangi nya dalam.


Dan,


Hal tersebut langsung saja membuat ke empat orang dewasa yang ada di hadapan Alira sadar.


"Maaf ya tampan, Oma tersihir karena melihat wajah tampan kamu"


Celetuk Mommy Ricard dengan menghampiri Arash, lalu sang Mommy jongkok dan mengusap lembut pipi gembul Arash.


"Iya Oma, Alash hanya lisih saja kalena kalian tatap Alash holol" balas Arash dengan tersenyum kecil.


Alira hanya menunduk malu karena Arash yang seperti nya sudah biasa dengan keluarga sang atasan.


Hingga pada akhir nya, Alira dan yang lainnya masuk ke dalam Villa.


*


Disinilah mereka berada, di ruang keluarga yang ada di Villa.


Arash di bawa bermain lebih dulu oleh Bi Iyem dan juga Art yang Ricard bawa.


Alira menatap Ricard dan kedua orangtua nya dengan pandangan bingung.


"Ehemm, sebelum nya saya minta maaf karena harus membawa kamu kesini hanya untuk meluruskan sesuatu hal penting"


Dan pada akhir nya Ricard membuka suara juga setelah sekian lama bungkam dan mereka di liputi keheningan.


"Kalau boleh saya tau, hal apakah itu dan apa sepenting ini sampai harus benar-benar privasi?" Alira melontarkan pertanyaan, dia memang sangat penasaran dan juga bingung.


Hal yang tak lebih masuk akal itu adalah, ada apa dan kenapa harus pergi ke Bali kalau hanya untuk urusan pribadi?


Itulah yang Alira benar-benar pikirkan sekarang.


Huh.


Ricard membuang nafas perlahan, dia lalu menatap kedua orangtua nya yang sudah mengangguk.


"Arash, adalah Putraku"


Deg.


'Tidak mungkin'


Alira langsung bereaksi kaget, tegang dan menatap Ricard saat pria yang berstatus Bos besar di perusahaan tempat bekerja nya menyebutkan bahwa Putra nya adalah Putra dia.


"Apa maksud anda?" tanya Alira dengan bergetar.


Dan dari sana Ricard menjelaskan semua nya tanpa ada yang di tutupi ataupun di lebihkan.


Bahkan Asisten nya pun menunjukan rekaman cctv yang ada di Hotel waktu itu.


Pancaran mata Alira langsung dalam saat mendengar serta melihat apa yang ada di laptop tersebut.


Deg.


Deg.


Jantung Alira berdetak dengan kencang, dia menatap Ricard yang sedang menarik nafas lega setelah menjelaskan semua nya.


"Ja jadi, saat itu aku bermalam dengan a anda, Tuan?"


Pertanyaan Alira dengan segala kemelutan hati dan pikirannya.


Dan disini, Alira pun tak bisa menyalahkan Ricard karena dia juga korban dari orang yang menjebak nya.


Hangat.


Itulah yang Alira rasakan saat pelukan wanita paruh baya yang ada di samping nya saat ini.


Hiks.


Akhir nya pecah juga tangis Alira yang sejak tadi dia tahan, dia hanya bisa meluapkan sekarang dan terlebih lagi saat tau siapa orang yang mendalangi semua ini.


Marah?


Benci?


Itulah yang Alira rasakan saat ini.


"Menangislah, Nak. Namun, setelah ini kau harus kuat kembali seperti kemarin dan bangkitlah untuk membalas mereka yang sudah mempermainkan kamu"


Ucapan Mommy seperti angin segar pada Alira,


Dukungan.


Itulah yang Alira butuhkan sejak pertama kemelut itu ada.


"Alira"


Sebuah panggilan yang begitu tegas, berat dan juga berwibawa Alira dengar.


Dia lalu melepaskan pelukan hangat itu dan menatap Suami dari wanita yang memeluk nya.


"Menikahlah dengan Ricard dan kalian berjuang untuk keadilan yang sudah di lewati kemarin" pinta Daddy dengan tegas.


Hah.


"Beri saya waktu, Paman" hanya itu yang Alira jawab.


Kemudian Alira pergi ke kamar nya, dia ingin sendiri dulu agar bisa berpikir jernih.


Sedangkan Ricard?


Dia memang berniat akan menikahi Alira, meski tidak mencintai nya namun dia yakin lambat laun akan ada cinta di antara mereka.


Ah, Ricard jadi rindu bocah kecil itu.


Kemudian Ricard ke halaman belakang, dia menghampiri Arash yang sedang bermain dengan Bi Iyem.


"Hai anak tampan" sapa Ricard.


"Hai Paman" balas Arash tersenyum.


Bi Iyem lalu berpamitan karena akan memasak untuk makan siang mereka.


"Arash jangan nakal ya main sama Paman"


Bi Iyem memberi pesan agar Arash tidak menjahili ataupun membuat Ricard pusing.


🥝


Sedangkan di dalam kamar, Alira menatap ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Tuan Ricard akan mengambil Arash dari ku'


'Atau, aku terima saja untuk menikah dengan Tuan Ricard'


Alira terus memikirkan masalah yang datang tersebut, entah apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Ayah, Bunda, apa kalian tidak rindu pada ku?"


Hiks.


Hiks.


"Apa aku terlalu hina ya"


Alira terus saja bergumam dengan air mata yang menetes.


Ceklek.


Pintu terbuka, Mommy Ricard langsung menghampiri Alira yang masih belum sadar akan keberadaan diri nya.


"Nak"


Sebuah panggilan dan usapan hangat di pundak Alira yang masih bergetar karena nangis.


"Apa kamu bingung?"


Alira beranjak dari tiduran nya, dia memeluk Mommy kembali tanpa canggung.


"Aku mau Mom, tapi hanya pernikahan sederhana saja dan tanpa ada yang tau" lirih Alira yang masih memeluk Mommy.


Mommy mengangguk bahagia, dia lalu membalas pelukan Alira dengan tambah erat.


Mereka memeluk satu sama lainnya dalam hening dan juga meresapi pelukan hangat itu.


"Untuk cinta, itu akan hadir dengan sendiri nya sayang" jelas Mommy.


Alira mengangguk.


......................


Tepat jam makan malam, Ricard membawa semua keluarga termasuk Alira dan Arash ke Restoran.


Mereka akan makan malam di sana dengan nuansa Pantai yang menjadi view nya langsung.


"Bunda, kita kemana?" tanya Arash saat mobil sudah melaju.


Alira tersenyum kecil, lalu dia mengusap lembut kepala Arash.


"Kita akan makan di Restoran, Nak"


'Yeay'


Arash langsung terpekik bahagia saat mendapat jawaban dari sang Bunda.


"Arash senang?" tanya Ricard.


Dengan gerakan semangat Arash langsung menganggukan kepala nya,


Hingga akhir nya mereka sampai juga di Restoran yang sudah Ricard pilih.


Ricard langsung menggendong Arash dengan bahagia, sedangkan Alira berjalan bersama dengan Mommy dan Daddy di belakang Ayah dan Anak tersebut.


"Nah, Arash duduk disini dulu ya" ucap Ricard dengan menurunkan Arash di kursi.


Kemudian mereka memesan berbagai makanan yang ada disana,


Alira merasa dia bukan oranglain di keluarga itu, dia merasa bahwa dia sudah di anggap anak oleh Mommy maupun Daddy.


'Benar kata Mommy, aku tak boleh down maupun menangis. Karena itu akan membuat sang musuh bahagia dan menganggap kita kalah.


Aku harus bangkit dan melawan semua nya, jangan terus menerus menjadi wanita lemah'


Alira terus saja berpikir hal seperti itu, dia tidak ingin hanya menangis dan meraung.


Karena hal itu akan membuat musuh nya bahagia, dia harus kuat dan menunjukan wajah bahagia agar dia terbakar.


.


.


.


.


.


.