
Alira langsung pamit izin untuk ke belakang, dia sudah sangat malu dan juga kikuk dengan kejadian barusan.
Arash?
Dia anteng saja bermain di ruang keluarga dengan berbagai mainan yang sangat banyak dari Ricard dan Opa nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Persiapan demi persiapan sudah hampir selesai di kerjakan oleh tim dan juga beberapa penjaga yang membantu.
Dekorasi yang sederhana, namun tak meninggalkan kesan mewah nya.
Alira menatap semua itu dari atas balkon kamar Villa, dia menatap nanar semua nya dengan perasaan tak tentu.
"Maafkan Lira, Ayah, Bunda. Lira akan menikah tanpa kalian, karena Lira juga tak tau harus mengabari kalian kemana? Semoga kalian terus saja sehat di sana"
Alira menatap kosong langit malam yang terbilang cerah, dia meneteskan kembali air mata nya karena satu kata, Rindu.
Alira menyerahkan hak wali nya pada penghulu besok siang, bukannya tak mau memberitahu lantaran akses semua sudah dia tak menemukan celah untuk memberitahu pada pihak keluarga.
"Bu"
Sebuah teguran terdengar di belakang tubuh Alira, kemudian dia membalikan tubuh nya dan terlihat Bi Iyem datang dengan segelas coklat hangat.
"Duduklah, ini coklat hangat dari Tuan Ricard untuk anda" ucap Bi Iyem.
Alira tersenyum kecil, dia kemudian ikut duduk dan menghela nafas kasar kembali.
"Tidak apa, masih ada Bibi dan calon mertua Ibu yang sangat baik. Jangan banyak pikiran, nanti kesehatan anda drop kembali dan itu pasti akan membuat kami sedih" jelas Bi Iyem dengan lembut.
"Bi, terimakasih untuk semuanya ya. Dan, Bibi akan tetap ikut bersamaku kemanapun aku pergi" ucap Alira menatap Bi Iyem lembut.
Bi Iyem menganggukan kepala nya, dia kemudian memeluk Alira agar lebih tenang.
Hingga pada akhir nya, malam itu Alira habiskan dengan berbincang dengan Bi Iyem di balkon kamar.
🍅
Hari bahagia itu pun tiba, dimana hari pernikahan antara Alira dan Ricard.
Sejak pagi tadi, semua para pelayan dan bebera team Wo dan yang lainnya pun sudah berkumpul di Villa tersebut.
Ada yang mengurua catering, dekorasi dan yang lainnya juga.
Sedangkan untuk Alira, dia tidak di perbolehkan keluar kamar oleh sang calon mertua.
Karena, Mommy sudah memanggil orang salon untuk melakukan spa maupun rangkaian lainnya agar Alira lebih rileks.
Untuk Arash, dia bermain bersama dengan sang Ayah di kamar Ayah nya.
"Ayah, kenapa Ayah balu menemui Alash sekalang? Padahal Alash suka sedih kalena olang-olang bilang aku anak halam dan tak punya Ayah"
Deg.
Ricard tersentak dengan ucapan dari Arash, dia memeluk Putra nya dengan hangat.
"Mulai saat ini, Ayah akan selalu bersama Arash dan Bunda" ucap Ricard lembut.
Arash mengangguk dan melepaskan pelukan Ricard dengan pelan.
"Dan adik, Alash ingin punya adik"
Hah.
Ricard langsung tersenyum canggung dan kikuk, dia hanya mengangguk agar Arash senang saja.
'Ck, entahlah untuk hal itu'
*
Tepat jam 12 siang, semua persiapan sudah selesai dan Alira pun sudah mulai di hias oleh MUA.
Tak ada tamu spesial ataupun tamu undangan lainnya, hanya ada para pelayan dan juga sahabat Ricard saja yang ada di acara sakral tersebut.
Dan untuk keluarga Alira sendiri, hanya ada Arash dan Bi Iyem saja.
Hingga akhir nya acara pun di mulai dengan khidmat dan juga penuh haru.
Alira datang dengan di apit oleh Mommy dan Bi Iyem, dia mengulas senyum dengan tipis pada orang-orang yang ada disana.
Hingga pada akhir nya, dia sampai dan duduk bersanding bersama dengan Ricard di hadapan penghulu.
Acara yang di tunggu-tunggu pun tiba, dimana Ricard akan melakukan ijab qobul agar pernikahan tersebut sah.
'*Ya Allah, aku menerima semua ini dengan ikhlas dan tulus. Maka dari itu, tolong ridoi setiap langkah keluarga baru hamba dan berikan hamba serta Putra hamba kebahagian lewat sang Suami'
'Dan, maafkan hamba yang tak bisa memberitahu orangtua hamba. Serta menggunakan wali hakim sebagai wali nikah hamba*'
Setelah Alira memanjatkan doa dengan tulus, dan saat itu juga terdengar kata 'SAH' dari semua yang ada disana.
Air mata Alira menetes dengan senyuman kecil tersemat di bibir nya.
Hingga dia menyalami Ricard dengan takzim dan penuh dengan rasa ikhlas dan tulus.
"Aku tau ini pernikahan mendadak dan karena kesalahan, namun aku ingin pernikahan ini langgeng dan kita sama-sama terbuka agar kenyamanan, sayang dan saling mencintai itu timbul" bisik Ricard dengan tulus.
"Aku pun sama, Mas" balas Alira lirih.
Dan acara pun di lanjutkan dengan masang cincin pernikahan serta berfoto dengan buku nikah.
Setelah itu baru di lanjutkan dengan ucapan dari para tamu kepada pengantin baru.
Ricard menggandeng tangan Alira untuk naik ke atas pelaminan, dia dengan sabar membantu Alira karena kebaya nya cukup merepotkan dalam berjalan.
Sedangkan Arash sendiri?
Dia terlihat bahagia karena mempunyai Ayah, Oma dan Opa yang sangat menyayangi dirinya.
Bahkan dia sekarang sedang bersama dengan Opa nya dengan aneka makana di meja.
Mommy ikut bahagia dengan pernikahan ini, dia yakin bahwa Alira adalah anak yang baik, namun dia hanyalah korban pengkhianatan dari sepupu nya sendiri karena merasa iri.
Hingga acara demi acara pun terlewati dengan sempurna, terlihat Alira yang sudah kelelahan dan dengan setia Ricard memberikan air minum untuk nya.
"Ayo kita ke kamar saja, kamu terlihat begitu" ajak Ricard lirih.
"Ya, aku juga sudah tak sabar ingin mengganti pakaian. Namun, izin dulu sama Mommy dan Daddy" balas Alira.
Ricard kemudian memanggil Pandi, dia membisikan sesuatu dan setelah nya membawa Alira pergi.
Namun,
Langkah kedua nya terhenti saat mendengar celetukan salah satu sahabat Ricard.
"Hei bro, ini masih siang kenapa sudah mau ngamar saja"
Hahaha.
Sontak saja kedua temannya yang lain pun tertawa dengan celetukan tersebut.
"Ck, makannya nikah agar kalian tau bagaimana tak sabar nya untuk unboxing" balas Ricard dengan menggendong Alira ala bridestyle.
Ehh.
"Wah belagu lu, Card"
Mereka menggelengkan kepala melihat tingkah Ricard yang sedikit berubah dari biasanya.
Sedangkan Alira merasakan jantung nya berdetak kencang karena Ricard yang tiba-tiba menggendong nya.
"Turunin Mas"
"Malu"
Cicit Alira dengan lirih, dia risih karena yang lain pun ikut memperhatikan ke arah dirinya.
"Ck, biarkan saja" ucap Ricard santai.
Ricard tetap menggendong Alira sampai ke kamar yang sudah di sediakan sang Mommy.
Ceklek.
Ricard kemudian menurunkan Alira setelah mereka sampai di kamar tersebut.
Ehemm.
Alira berdehem untuk mengurangi canggung, apalagi kamar tersebut di hias dengan indah dan juga begitu kental akan malam pertama.
"Aku mandi duluan ya, Mas".
" Bagaimana kalau bareng saja?" tawar Ricard dengan santai.
Ehh.
'Tidak'
.
.
.
.
.