
Sore hari nya, Alira sudah di nyatakan boleh pulang dan dia juga sudah bersiap, hanya tinggal menunggu sang Suami yang masih mengurus administrasi nya.
Tok.
Tok.
'Siapa'
Alira berpikir kalau itu Ricard tidak mungkin akan mengetuk pintu.
"Masuk"
Ceklek.
Deg.
Deg.
"Ayah"
Alira memejamkan mata sejenak dan menatap Pria yang merupakan Ayah nya.
Namun, dia bisa melihat disana juga ada Fani dan keluarga nya.
"Kalian sudah tiba?"
Ricard langsung menyapa nya dengan pertanyaan, dia kemudian menghampiri sang Istri dan merangkul bahu nya lembut.
"Ada apa?"
Sebuah pertanyaan yang terkesan sangat datar dan dingin, Ayah Wira menatap Putri nya dengan pandangan nanar dan sendu.
"Bolehkah Ayah bicara?"
"Untuk apa? Untuk menanyakan semua nya? Sudah terlambat"
Tegas.
Ya, Alira berkata dengan sangat tegas dan seolah menolak ajakan sang Ayah.
"Bicaralah, tidak baik masih memendam amarah pada orangtua"
"Tapi-"
Alira menghentikan protes nya dan langsung menganggukan kepalanya asal di temani Ricard.
Kemudian Ricard membantu Alira agar duduk di sofa, begitupun dengan Ayah Wira yang menuju ke sofa di hadapan Alira.
Sedangkan kedua orangtua Fani duduk di dekat ranjang pasien di belakang mereka.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah seharusnya mendengarkan penjelasan kamu lebih dulu"
Huh.
Alira hanya mampu membuang nafas kasar, bagaimana pun Pria yang ada di hadapannya sekarang adalah cinta pertamanya dan Alira tak bisa marah lama.
"Aku sudah memaafkannya"
"Namun aku masih kecewa, Ayah seolah tutup mata dan angkat tangan atas apa yang menimpa ku! Apa Ayah pernah mendengarkan atau melihat aku yang tak pernah berulah? Apa Ayah mencaritahu bagaimana sebenarnya?"
Alira meluapkan kekecewaan dalam hati nya dan unek-unek yang selama ini mengganggu pikirannya.
Dia menatap sang Ayah dengan tatapan yang sulit di mengerti, sedangkan Ricard memegang erat tangan sang Istri agar tak emosi.
Ayah Wira?
Dia menunduk malu dengan atas apa yang dia perbuat selama ini pada Putri nya.
Bukannya mencari keadilan untuk sang Putri, dia malah melupakannya dan mengabaikannya.
"Alira sudah memaafkan Ayah, hanya Alira belum bisa melupakan semua ini, karena semuanya terlalu memyakitkan untuk Alira"
Alira kembali berucap dengan tatapan yang masih menatap sang Ayah dengan dalam.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah tau pasti kamu kecewa, tidak apa jika kamu membenci Ayah! Hanya, Ayah meminta maaf yang se dalam dalam nya padamu, Nak"
"Perbuatan Ayah sudah sangat keterlaluan dan juga pasti nya membuatmu terluka. Ayah mohon, maafkan Ayah dengan tulus"
Ayah Wira terus meminta maaf dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca, bahkan dia sudah bersimpuh di hadapan Alira.
"Ayah"
Alira langsung berteriak dan memeluk sang Ayah, dia tak mau kalau sang Ayah sampai merendahkan tubuh nya hanya untuk masalah ini.
Kedua nya berpelukan dengan derai air mata, Alira meluapkan semuanya dengan memeluk sang Putri dengan erat.
Begitupun dengan Alira, dia memeluk Ayah nya dengan erat serta air mata yang sudah menetes.
Hangat.
Itulah yang Alira rasakan, sudah lama dia sangat merindukan hal ini dari sang Ayah.
Dan,
Tiba-tiba ada seseorang yang ikut berpelukan dengan tangis yang begitu terisak.
"Bunda"
"Maafkan kami ya, Nak"
Dan, Sore itu ketiga nya meluapkan semua dengan pelukan serta air mata yang menjadi saksi nya.
Fani dan kedua orangtua nya meneteskan air mata, namun senyuman tetap indah di bibir mereka.
Begitupun dengan Ricard, dia tersenyum kecil karena Istri nya tidak mementingkan ego dengan terus membenci pada Ayah maupun sang Bunda.
.
.
.
.
.