
Setelah makan malam, Ayah Wira dan Bunda Lisa bermain bersama Arash.
Sedangkan Alira, dia duduk santai karena tak di izinkan untuk bergerak terlalu aktif oleh sang mertua.
"Apa kamu tak merasakan muak, Nak?"
Bunda Lisa datang dan langsung duduk di samping sang Putri.
"Tidak Bunda, namun aku merasa Mas Ricard yang akan ngalamin semua nya"
Bunda Lisa, Mommy dan Fani merasa bingung. Lalu mereka saling tatap dan mengalihkan pandangan pada Ricard yang sedang berbincang dengan orangtua Fani serta Daddy.
"Dia itu udah kelihatan sangat manja dan tak mau berbagi dengan siapapun aku ini, bahkan dengan Arash aja dia cemburu"
Sontak saja mereka langsung terkekeh dan tersenyum geli, karena Ricard selalu saja melirik ke arah Alira dan duduk tak tenang.
"Pantas saja, lihat dia duduk bahkan tak tenang begitu"
Fani berucap dengan tergelak kencang.
Hingga pada akhir nya mereka berkumpul kembali dan Ricard duduk tepat di samping Alira.
"Nak, sini sama Mommy dan Daddy"
"Tidakkk, Istriku akan tetap disini dan disampingku"
Fani dan Mommy langsung tertawa dengan terbahak, sedangkan Bunda Lisa hanya terkekeh dengan gelengan kepala saja.
"Nak, Ayah dan Bunda pamit dulu. Insya allah besok kemari lagi dan jaga cucu Ayah yang ada di kandunganmu ya"
Ayah Wira dan yang lainnya langsung berpamitan, karena hari sudah malam dan Alira yang memang harus banyak istirahat.
"Bunda, boleh ikut sana Kakek?"
Arash datang dan langsung merengek ingin ikut bersama dengan mereka.
"Besok lagi aja ya, Nak. Besok juga Nenek dan Kakek akan kembali lagi kesini"
Huh.
"Bawa aja Yah"
Alira mengizinkannya, namun Ayah Wira dan yang lainnya langsung menggelengkan kepala.
"Disana masih ada Bibi Rada dan antek-anteknya"
Alira mengangguk tanda mengerti, dia lalu membujuk Arash dan akhirnya dia mau nunggu esok lagi untuk bermain ke Rumah Kakek dan Nenek nya.
Setelah kepergian keluarga Alira, Mommy dan Daddy nyelonong begitu saja ke arah kamar mereka.
Ricard?
Alira hanya menggelengkan kepala saja dengan tingkah sang Suami.
*
Di kamar Ricard, dia harus merelakan sang Istri yang di kuasai oleh sang Putra.
Dia hanya bisa menghela nafas dalam memeluk Alira dari belakang saja.
Setelah di rasa Arash sudah terlelap, Alira pun berbalik dan memeluk Ricard dengan erat.
Cup.
Cup.
Ricard mengecup Alira dengan terkekeh kecil, lalu dia membalas pelukannya kembali dan terlelap setelah melabuhkan wajah nya di dada empuk sang Istri.
🐼
Ke esokan pagi nya, Ricard merasakan ranjang di sampingnya kosong dan hanya ada Arash yang sudah membuka mata.
"Selamat pagi, Son"
"Pagi Ayah"
Lalu Ayah dan Anak memutuskan untuk kembali terlelap dan saling memeluk.
Karena hari ini adalah weekend jadi mereka akan bermanja dan bermalas-malasan di atas ranjang saja.
Sedangkan Alira, dia sudah berada di dapur bersama sang Mommy, walaupun tidak melakukan hal apapun karena di larang oleh Mommy, tetapi Alira tetap maksa dan berakhir hanya motong sayuran dan nyiapin bumbu saja.
Disana juga ada kepala pelayan yang memang selalu membantu Alira dalam menyiapkan makanan.
"Mom, aku ke atas dulu ya"
Alira izin karena merasa Suami dan Putra nya tidak turun-turun padahal hari sudah masuk jam sarapan pagi.
"Iya Nak, panggil kedua Pria itu yang pasti akan tidur kembali karena weekend"
Mommy terkekeh karena sudah tau kebiasaan Ricard dan sekarang menurun pada Arash yang juga sama persis seperti sang Ayah nya.
.
.
.
.