ALIRA.

ALIRA.
Bab 18



Paman Idris memeluk Alira dengan erat, dia mengucapkan terimakasih pada keponakannya itu.


Selalu saja, Alira yang membantu keluarga mereka. Bahkan, saat fitnah keji itu keluarga mereka tak ada yang tau karena memang tidak hadir dalam pesta ulangtahun Fila.


"Ehemmm"


Ricard berdehem agar keduanya melepaskan pelukan tersebut.


Cemburu?


Mungkin iya, Ricard tak suka melihat sang Istri di peluk oranglain selain dirinya.


"Maaf Tuan muda" ucap Paman Idris setelah melepaskan Alira.


Kemudian, Alira di tarik untuk duduk di samping Ricard dengan pelan.


Dan, Ricard langsung memeluk nya dengan posesif.


'Ya ampun Tuan muda'


Ardi menepuk jidat nya, dia baru melihat tingkah Ricard yang seperti ini.


"Sekali lagi terimakasih ya, Nak. Kamu bagaikan penolong di kala kami sedang kesusahan dan maafkan kami tidak tau akan peristiwa yang mana dulu menimpa mu" lirih Paman Idris dengan penuh sesal.


"Tidak apa Paman, aku memyayangi Paman sama seperti aku menyayangi Ayah"


Alira tersenyum kecil ke arah sang Paman, lalu setelah nya dia berpamitan karena Ricard yang seperti nya sudah rewel hehe.


🍅


Alira menghela nafas kasar saat masuk ke dalam mobil, dia tak di lepaskan sama sekali oleh Ricard.


Ya, dia terus memeluk nya dengan alasan menghilangkan jejak wangi Paman Idris.


Ckitt.


'Shitt'


Ricard mengumpat dengan kesal karena sang sopir yang mengerem mobil dengan sangat dadakan.


Bahkan Alira nya sampai mau terjatuh kalau Ricard tak segera memeluk nya erat.


"Maaf Tuan, seperti nya mobil itu sengaja menghadang kita" ucap sang sopir ketakutan.


Hah.


Hah.


Alira membuang nafas kasar, dia sangat kaget dan syok dengan kejadian seperti ini.


Tok.


Tok.


"Tuan muda" panggil seorang pengawal dari luar.


Ricard membuka sedikit kaca mobil, lalu dia mendengarkan bisikan dari orang tersebut.


Setelah nya, Ricard langsung menganggukan kepala pada sang pengawal.


"Kamu tak apa kan sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Ricard dengan cemas saat melihat sang Istri yang hanya diam saja sejak tadi.


Alira menggelengkan kepala nya, dia hanya meminta air minum saja untuk meredakan kekagetannya.


"Ikuti mobil itu"


Alira mengerutkan kening nya saat mendengar ucapan sang Suami pada Sopir nya.


"Nanti juga kamu akan mengetahui nya, sayang" bisik Ricard.


Hingga mereka sampai di sebuah Cafe yang tak jauh dari mereka tadi berhenti.


Ricard membawa Alira masuk ke dalam, dia merangkul pinggang sang Istri dengan begitu posesif.


Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, tetapi Ricard mengabaikannya dan cuek saja.


"Silahkan Tuan"


"Hemmmm"


Ricard masuk bersama Alira ke sebuah ruangan di Cafe tersebut, dan Alira langsung memasang wajah datar saat tau siapa yang membuat perjalanan pulang mereka terganggu.


"Selamat datang Tuan muda Dawn"


"Ada keperluan apa Tuan Aryo?"


Ricard langsung saja bertanya dengan tegas, dia tak akan berbasa-basi karena memang sudah bisa menebak nya.


Alira?


Dia hanya diam dengan tatapan dingin ke arah Paman dan juga sepupu nya.


"Saya ingin anda menyetujui perjodohan antara Fila putri saya dengan anda. Dan juga, cabut investasi anda dari Restoran FN itu"


Sontak saja omongan Paman Aryo mendapatkan tawa yang cukup menggelegar namun terkesan sangat menyeramkan.


"Apa anda bilang? Aku harus menerima dia sebagai calon istriku?"


Ricard menunjuk Fila dengan tatapan mencomooh dan juga tatapan sangat enggan.


"Iya Tuan, anda tidak pantas bersama dengan Alira karena dia adalah wanita pembawa sial"


Brak.


"Jaga ucapan anda Tuan Aryo, siapa anda yang berani mengatur dan menjelekan Istri ku, hah? Tau apa kau tentang aku"


Ricard menggebrak meja dengan kekuatan penuh, dia sangat emosi saat sang Istri di jelekan dengan lugas nya.


Dia lalu menatap kedua orang yang ada di hadapannya dengan tatapan nyalang.


"Wanita yang anda agung-agungkan itu adalah wanita menjijikan, dia bahkan dengan gampang nya mengorbankan keluarga hanya demi ambisi nya semata! Dia, buruan istriku untuk di hancurkan"


Setelah mengucapkan hal itu, Ricard membawa Alira pergi dari sana dengan merangkul nya.


Namun,.


Alira menghentikan langkah kaki nya, dia kembali menatap Fila yang sudah berdiri dari duduk nya.


"Ingat ini Fila, sebuah kejutan akan datang untukmu dari ku" ucap Alira penuh tekanan dan tatapan intimidasi.


Heh.


Alira tersenyum miring dan langsung pergi bersama dengan sang Suami, dia mengabaikan tatapan tajam dari sang Paman yang seolah ingin menguliti nya.


'Apa maksud Alira, tidak mungkin dia tau akan sesuatu hal yang aku lakukan dulu'


Pikiran Fila begitu kacau, dia pamit pada sang Ayah untuk pergi menemui Zayn dan membahas hal ini.


Sedangkan Paman Aryo, dia akan pergi ke Rumah dimana Wira berada.


Ya, Paman Aryo akan mengadu domba kembali Alira dan keluarga nya.


*


Dan disinilah Paman Aryo berada, di Rumah sang Abang yang akan dia hasut kembali.


"Ada apa, Yo?" tanya Ayah Wira, Ayah Alira.


Huh.


"Kenapa Alira begitu sombong, dia baru saja pulang dan bahkan gak menyapa kita sama sekali? Barusan aku juga bertemu dengan nya dan dia malah mengancam pada Fila"


Paman Aryo terus saja berbicara dengan menjelekan Alira pada Ayah dan Bunda nya.


Dia juga terus mengompori keduanya agar tak menghiraukan Alira dan bahkan tak menganggap nya Putri mereka.


"Biarkan saja, dia memang anak yang cukup bengal akan di beritahu"


"Aku akan menegur nya saat bertemu nanti, dia sudah membuatku malu dan mencoreng nama baik keluarga ku dengan kelakuannya tempo dulu"


Ayah Wira yang memang sudah termakan bujuk rayu itu pun langsung marah dan emosi.


Apalagi selama Alira pergi, Fila menemani mereka yang seolah-olah menggantikan sosok Putri mereka, Alira.


"Tapi Mas-


" Diam kamu, jangan terus menerus membela anak pembawa sial itu" bentak Ayah Wira pada sang Istri yang memang masih memegang teguh kepercayaan nya pada sang Putri.


Brak.


"Baik, mulai sekarang aku tak akan mencampuri apapun keputusan dan kehidupan mu! Kau akan menyesal , Mas"


Bunda Alira melemparkan majalah yang ada di tangannya dengan wajah penuh emosi, dia selalu mengalah dan tetap diam saat Suami nya memarahi kelakuan Alira dulu.


Setelah itu, Bunda Alira pun pergi ke kamar nya dengan wajah yang penuh kekesalan dan emosi.


"Maaf ya, Bang" lirih Paman Aryo dengan penuh sesal.


Huh.


Ayah Wira membuang nafas kasar, dia kemudian menganggukan kepala nya.


"Biar saja, dia memang sesekali harus di beri pelajaran agar melupakan anak tak tau diri itu" balas Ayah Wira dengan tegas


Kemudian mereka berbincang kembali, namun kali ini Paman Aryo terus saja memprovokasi sang Abang agar membenci Putri nya.


.


.


.


.


.