ALIRA.

ALIRA.
Bab 25 Kekecewaan Alira



Alira terus melangkah bersama Ricard yang memeluk nya dengan sangat erat.


Bahkan kedua mertua nya ikut serta pulang, keduanya sudah berada di dekat mobil.


'Alira'


Langkah Alira berhenti tepat setelah seseorang memanggil nya dengan lirih.


Dia memutar tubuh nya dan melihat sang Ayah yang berdiri di belakang nya bersama dengan Keluarga Fani.


"Ya, ada apa?" tanya Alira tanpa ekspresi.


Ricard membiarkannya dengan terus memeluk sang Istri, begitupun dengan kedua mertua nya yang berada di samping Alira.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah salah dan mengecewakan kamu"


Huh.


Alira menatap sang Ayah dengan tatapan begitu dalam, namun tak ada kehangatan di tatapan itu.


"Aku sudah memaafkan Ayah jauh sebelum Ayah meminta maaf! Namun, aku sangat kecewa pada Ayah karena bersikeras menuduh ku salah tanpa mendengarkan penjelasanku sama sekali"


"Ayah tau, aku terlunta-lunta di Kota orang, bahkan aku jadi buah bibir semua orang! Apa aku kuat, aku mampu dan aku mampu melawan semua keras nya dunia, karena apa? Karena aku akan membuktikan pada Ayah bahwa aku bukan anak sial"


"Rindu, emosi dan putus asa aku rasakan selama hampir 5 tahun. Bukan waktu sedikit, namun aku selalu mengatakan bahwa aku bisa dan aku yakin bisa"


"Hingga aku berada di posisi ini, dimana semua terkuak dengan sendiri nya dan aku sudah lebih lega! Karena apa? Karena aku sudah membuktikan bahwa aku tidak salah"


Tegas.


Alira berkata dengan sangat tegas, walaupun gemetar tubuh nya bisa di rasakan oleh Ricard.


Dia menatap sang Ayah dengan penuh kekecewaan dan mata yang sudah berembun.


"Hanya saja aku kecewa pada Ayah, Ayah seolah menutup mata dan membiarkan masalah ini berlarut hingga Bunda pun menjadi korbannya"


"Aku sangat kecewa pada Ayah"


Setelah mengatakan hal itu, tubuh Alira melemas dan dengan sigap Ricard membawa nya ke dalam gendongan.


"Alira"


Mommy begitu panik, dia menyuruh Ricard membawa nya ke dalam mobil dan langsung menuju ke Rumah sakit.


Fani, Ayah Wira dan Keluarga Fani pun ikut serta ke Rumah sakit, namun mereka berbeda mobil dan mengikuti dari belakang.


"Semoga saja Alira tidak apa-apa" gumam Ayah Wira penuh ke khawatiran.


"Mas tenang saja, Alira adalah wanita kuat" balas Ibu Fani dengan lembut.


Mobil Ricard terus melaju dengan sangat kencang, Pandu memilih Rumah sakit terdekat agar Nona muda nya segera mendapatkan penanganan.


Brak.


Ricard membuka pintu dengan kasar, lalu dia berlari ke arah Rumah sakit dengan menggendong tubuh lemah Alira.


Di belakangnya, Mommy, Daddy dan keluarga lainnya pun ikut serta masuk dengan raut wajah panik.


"Dok, tolong selamatkan Istri saya"


Ricard memohon dengan tatapan penuh iba, dia takut kalau Alira sampai kenapa-napa.


Apalagi di mansion, dia sudah menyiapkan kejutan untuk sang Istri.


"Baik Tuan, anda tunggu disini dan jangan lupa berdoa" balas Dokter wanita paruh baya tersebut.


Ricard mengangguk dan membiarkan Dokter masuk dengan segera ke dalam ruangan pemeriksaan.


"Nak, tenanglah" bisik Mommy memeluk tubuh Ricard dengan erat.


"Aku takut Alira kenapa-napa, Mom" lirih Ricard dengan membalas pelukan sang Mommy dengan erat.


Ricard terus saja memeluk sang Mommy, dia merasa sangat takut kehilangan Alira.


Hingga pintu terbuka dan keluarlah Dokter.


"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Daddy cepat.


Ricard melepaskan pelukannya dan menatap Dokter yang sedang tersenyum.


"Kenapa anda malah tersenyum? Bagaimana keadaan istri saya" bentak Ricard dengan penuh emosi.


Huh.


"Istri anda baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan stress. Saya harap anda bisa menjaga nya karena beliau sedang hamil muda"


Deg.


"Ha hamil" lirih Ricard memastikan.


Dan Dokter langsung saja menganggukan kepala nya dengan segera.


.


.


.


.


.