
Sedangkan di lantai bawah, terjadi keributan yang di lakukan oleh Fila dan Zayn yang datang ke acara tersebut dan entah dari mana mereka tau Villa dimana Alira menginap.
"Ada keperluan apa kalian kemari?"
Pandi bertanya dengan nada yang dingin dan ekspresi wajah yang begitu datar.
Dia dan ketiga sahabat Ricard menjadi garda terdepan saat kedua manusia itu membuat onar.
Apalagi Pandi dan ketiga sahabat nya tau siapa kedua nya tersebut.
"Kami mau mencari Alira, dia itu sepupu saya" lantang Fila dengan yakin.
"Oh sepupu ya"
"Dia sepupu Alira gays"
"Ya, berarti dia yang sudah menjebak Alira 5 tahun silam itu"
Berbagai celetukan dari pria hadapan Fila membuat nya geram dan emosi.
Namun, celetukan terakhir membuat dia tegang dan wajah berubah pucat.
'Bagaimana dia bisa tau'
Itulah yang saat ini ada di pikiran Fila dan Zayn.
"Dan pria ini yang awal nya akan menikmati Nona Alira? Namun malah sama Tuan muda di dahului" celetuk Pandi kembali dengan terkekeh seram.
Deg.
Lagi dan lagi Fila di buat bungkam oleh celetukan Pandi, dia terus berpikir siapa kali ini lawan dirinya, apa dia lebih kaya dan lebih berkuasa dari pada Ayah nya.
"Jangan banyak baco* deh, gue kesini mau jemput Alira karena dia calon istri gue. Dan juga, Ayan serta Bunda nya menunggu dia di Rumah" bentak Zayn tak takut.
Bugh.
Zayn langsung meringis saat bogeman mentah di layangkan oleh Max, sahabat Ricard dan Pandi.
"Lo yang jangan baco*, siapa lo disini hah? Apa lo gak lihat banner itu, disana tertera nama Ricard Lexi dengan Alira. Berarti, mereka yang menikah hari ini dan lo berdua datang membuat onar" lantang Max menunjuk ke wajah Zayn dan Fila.
Dan, tatapan tajam Max mengarah pada Fila.
"Lo bilang lo sepupu Alira? Apa yang namanya sepupu akan tega menjebaknya karena iri? Atau karena lo merasa Alira itu selalu di atas lo lebih jauh"
Max kembali berucap dengan begitu lugas dan terlihat santai saat ini.
Fila mengepalkan tangan nya dengan kuat, dia menatap ke empat Pria di hadapannya dengan tajam.
"Kenapa? Gak terima kamu Fil? Emang kenyataan nya begitu bukan?"
Deg.
'Alira'
Fila kaget saat melihat Alira yang sudah berada di belakang ke empat pria tersebut dengan di gandeng Pria tampan, Ricard.
"Kamu itu selalu saja iri padaku, padahal aku bukan tandingan mu dalam segi apapun. Karena apa? Karena kita berdua berbeda dan punya skill masing-masing"
Alira kembali berucap dengan nada santai, namun tatapan mata yang tajam dan penuh penekanan.
"Apa bukti nya kalau gue yang jebak lo? Gak ada kan, jadi lo dan gig*l* lo semua jangan ngelantur" balas Fila berani.
Ehh.
"Tuh kan lo iri lagi sama Nona Boss"
Hahahaha.
Max dan kedua teman nya sontak langsung tertawa saat mendengar celetukan dari Pandi.
"Bilang aja lo iri kan kalo Alira bisa dekat dengan kita-kita yang jelas lebih kaya, tampan dan juga bukan pria gampangan yang asal celup sana-sini seperti pria di sebelah mu" timpal Ardi, dengan wajah tengil dan tawa yang begitu nyaring.
Zayn mengepalkan tangan, dia menatap tak suka pada Ardi dan Ricard yang selalu memeluk Alira dari samping.
"Diam" bentak Fila kesal.
"Wah takut"
Ardi lagi dan lagi mengeluarkan kata ejekannya dengan tawa yang masih belum reda dari mulut nya.
"Lo harus nya pulang dan lo kasih tau bokap sama nyokap lo kalau lo mau nikah, Alira" bentak Fila menunjuk Alira dengan sengit.
Plak.
"Pelankan suara dan turunkan jari mu dari hadapan Istri ku, kalau tidak maka kau akan kehilangan pita suara mu"
Deg.
Ricard mengeluarkan suara nya dengan tegas, dingin dan jangan lupakan tatapan tajam elang nya begitu kentara saat menatap Fila yang ada di hadapannya.
Zayn, pria tersebut langsung menyeret Fila keluar dari halaman tersebut.
Dan menyisakan Ricard, Alira dan yang lainnya yang ada di halaman tersebut.
"Pak Pandi, apa mereka tak melihat Arash?"
Khawatir.
Alira sangat khawatir Fila akan mengetahui keberadaan Arash, makanya dia melontarkan pertanyaan dengan begitu khawatir.
"Nona tenang saja, Max sudah menyembunyikan identitas Arash sampai dia dewasa nanti. Jadi, orang-orang yang akan mematai kalian tidak akan menemukan dataan Arash" jelas Pandi dengan sopan.
Huh.
Lega?
Ya saat ini begitu lega dan juga merasa bersyukur karena para sahabat sang suami gerak cepat.
"Terimakasih Max" ucap Alira tulus dengan menatap Max.
Max hanya mengangguk dengan senyum kecil,
Kemudian Ricard mengajak mereka masuk ke dalam Villa dan bersantai di sana sebelum nanti malam akan di lanjutkan dengan bbq khusus mereka.
Dan disinilah mereka berkumpul, di ruang santai dengan suasana yang langsung menghadap ke arah Pantai.
Dan dari sana juga Alira bisa melihat Arash yang sedang bermain dengan kedua mertua nya bersama Bi Iyem.
"Alira, boleh gue kasih saran?" tanya Max dengan serius.
"Apa"
Alira menjawab namun dengan tatapan yang tak berpaling dari Arash yang sedang tertawa lepas di bibir Pantai.
"Bagaimana kalau kita pulang ke Kota dimana lo dulu tinggal dengan keluarga lo. Kita disana akan mulai membalas semua nya dan menunjukan pada keluarga lo, bahwa lo mampu tanpa mereka dan bukan aib serta anak pembawa sial"
"Dan kita akan selalu bersama lo dan Arash, apalagi Ricard akan selalu siaga saat ada bahaya menghampiri kalian"
Max mulai mengutarakan pendapat nya dan Ardi pun menimpali dengan serius.
"Apa yang Max dan Ardi ucapkan ada benar nya, bagaimana kalau kita kembali ke Surabaya? Apalagi disana sepupu mu berada dan pasti nya akan lebih gampang membuat dia lebih iri" ucap Ricard lembut.
Hah.
Helaan nafas keluar dari mulut ranum nan mungil tersebut. Lalu Alira menatap suami dan sahabat sang suami dengan bergantian.
"Kalian benar, sudah mau 5 tahun aku pergi dan sampai saat ini tak ada yang mencari. Dan aku juga sudah membiarkan orang-orang itu bahagia setelah apa yang mereka lakukan padaku dulu"
"Jadi, lo nerima usul kita?" tanya Ferdi.
Alira mengangguk mantap, dan dengan gerakan refleks Ricard memeluk nya serta menghujani Alira dengan kecupan lembut di kepala dan pelipis nya.
Ehemm.
"Kita masih disini woy"
Ehh.
Alira langsung memalingkan kembali wajah nya yang sudah memerah, sedangkan Ricard? Dia terkekeh dan masih memeluk Alira yang seolah akan menjadi candu nya.
"Tapi, Nona jangan membawa Tuan Arash kesana. Karena takut mereka curiga serta menjadi sasaran kelemahan kita" jelas Pandi.
"Lalu dengan siapa Arash?" tanya Alira bingung.
"Biarkan dia bersama Oma, Opa dan Bi Iyem di Medan"
Setuju.
Alira setuju akan usul dari Ricard, karena dia akan lebih santai dan fokus jika Arash bersama dengan kedua mertua nya yang sangat menyayangi Arash.
.
.
.
.
.