
Hari ini, Alira, Ricard dan para teman Ricard akan terbang ke Surabaya.
Sedangkan untuk Arash, dia akan tinggal bersama dengan Opa dan Oma nya di luar negeri.
Saat ini, mereka semua sudah di dalam jet pribadi milik Ricard, dan dengan cepat nya Alira sudah terlelap kembali di kursi.
"Ck, lo apain no bini nyampe lelah gitu" ledek Ardi dengan terkekeh yang memang duduk bersebrangan dengan Ricard dan Alira.
"Ya nama nya juga pengantin baru" balas Ricard santai.
Ck Ck.
Ardi hanya berdecak dengan menggelengkan kepala saja melihat tingkah santai dari sahabat nya.
"Gue seneng lu ada perubahannya, Card"
"Dulu lu itu sangat kaku dan juga datar, tapi entah kenapa mulai kemarin dan hari ini lu lebih santai dengan kita"
Ricard hanya diam mendengar ucapan Max, dan entah kenapa memang dia merasakan hal berbeda setelah bersama Alira.
"Dan kami yakin, bahwa cinta itu ada di diri lo buat bini lo. Namun, lo belum sadar saja akan hal itu" timpal Ferdi.
Ricard membenarkan ucapan Ferdi, dia tak mungkin berani menyentuh Alira semalam jika memang belum ada cinta. Dan, dia mengakui hal itu sejak saat melakukan hubungan pertama nya.
Alira?
Dia hanya melakukan kewajiban seorang Istri saja, namun Ricard akan membuat dia menjadi mencintai nya dengan tulus.
Selama perjalanan tersebut, mereka habiskan dengan membahas apa yang akan mereka lakukan nanti nya saat tiba di Surabaya.
Ricard juga sudah tau siapa orangtua dari Alira, keluarga nya cukup terkenal di Kota itu karena pemilik perusahaan yang cukup besar.
🍅
Bandara,
Alira sudah bangun karena Ricard memberitahu bahwa mereka sudah sampai.
"Lelah banget ya?" tanya Ricard dengan tersenyum kecil dan hal itu hanya bisa di lihat oleh Alira saja.
"Hmm, kau seperti singan kelaparan" jawab Alira dengan sinis.
Sontak saja Ricard langsung tergelak dengan jawaban sang Istri.
Kemudian dia merangkul bahu Alira dan membawa nya pergi keluar dari jet, karena semua orang sudah menunggu nya di luar.
Mobil jemputan sudah menunggu mereka dengan rapi di depan Bandara.
Ricard akan satu mobil bersama Alira dan Pandi yang akan menjadi sopir mereka berdua.
"Dimana kita akan tinggal, Mas?"
Sebuah pertanyaan Alira lontarkan dengan wajah penasarannya.
"Di perumahan Jaya mekar"
Hah.
Jawaban Ricard membuat Alira sangat kaget, dia tau perumahan itu adalah perumahan terelit di Kota itu dan letak nya bersebrangan dengan perumahan orang tua dia.
"Kenapa? Aku memang sudah punya Rumah disana" jelas Ricard dengan santai.
"Lalu teman Mas?" tanya Alira kembali.
Huh.
"Mereka akan menempati paviliun yang ada di mansion, kita tidak mungkin berjauhan dalam misi ini dan kamu harus tetap berada di sampingku"
Tegas.
Ya, Ricard sangat tegas memperingati Alira.
Karena apa?
Karena Ricard tak mau kalau Zayn kembali lagi dengan dalih pemaksaan akan Alira. Ricard tau kalau sebenarnya Zayn juga terobsesi pada Istri nya ini.
Ah, membayangkan nya saja dia sudah tak rela. Apalagi jiga hal itu datang.
*
Selang setengah jam mereka sampai di Rumah milik Ricard, lebih tepat nya sih mansion.
Ricard kembali memeluk Alira, namun sekarang bukan bahu melainkan pinggang nya.
Nyaman?
Itulah yang Ricard rasakan saat berdekatan ataupun memeluk Alira.
Alira sendiri?
Dia sedang membiasakan diri agar terbiasa dan juga dia merasa aman dan nyaman saat bersama dengan Ricard.
Alira seperti menemukan jati diri nya sendiri bersama dengan sang Suami saat ini.
Para pelayan dan penjaga menyambut mereka dengan wajah yang terbilang tidak ramah bagi Alira.
Kenapa?
Karena mereka menampilkan wajah datar nya.
"Kalian langsung istirahat saja, nanti sore kita akan keluar untuk acara makan malam yang di undang oleh perusahaan Sensen"
Deg.
"Keluarga Paman mu mengundang kami untuk jamuan makan malam, karena dia baru saja memenangkan tender dari perusahaan Aku" jelas Ricard pada Alira
Alira menatap Ricard seolah bertanya 'Apa kita memulai nya sekarang?'
Dan, Ricard mengangguk dengan mengecup kening Alira lembut.
"Yaelah, nyo kita pergi" celetuk Ardi saat melihat kedua nya malah bermesraan.
Alira langsung saja memalingkan wajah nya yang sudah memerah karena malu.
Ricard?
Sang pelaku hanya menatap Alira dengan gemas.
Akhir nya, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat sejenak.
*
Ricard membawa Alira ke kamar yang ada di lantai atas, kamar yang sangat luas dengan segala perabotan yang lengkap.
Alira menatap ke sekeliling dengan takjub, dia begitu di manjakan dengan desain yang sangat menenangkan dan nyaman.
"Ayo" ajak Ricard menyadarkan Alira.
"Aku mandi dulu ya, Mas" ucap Alira mengambil pakaian dalam koper nya.
Tak ada sahutan dari sang Suami, Alira pun lekas menuju ke kamar mandi.
Namun,
Langkah nya terhenti saat dengan gerakan cepat Ricard sudah menggendong tubuh nya.
"Mandi bersama"
Ricard berucap dengan terkekeh dan terus saja melangkah ke arah kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini, sebuah Restoran sudah di pesan khusus untuk keluarga sensen.
Karena malam ini adalah malam yang sangat spesial, dan baru pertama kali dalam sejarah keluarga itu bahwa Aryo bisa memenangkan tender yang di buat oleh Perusahaan Dawn.
Seluruh keluarga Sensen sudah hadir disana, bahkan Wira Sensen pun turut serta bersama dengan Istri nya disana.
Acara memang belum di mulai, dan disana memang khusus acara keluaega dulu dengan berbincang dan juga makan-makanan ringan saja.
Mereka masih menunggu tamu yang memang sangat spesial, maka karena itu mereka rela menunggu.
Semua orang sudah menunggu dengan tak sabar, karena siapa tau saja sang Tuan Muda Dawn tidak bisa hadir dan itu akan membuat Aryo malu serta rugi besar.
"Yakin Yo dia akan hadir?"
"Kamu gak bohong dan ngehalu kan"
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang di lontarkan oleh kerabat keluarga Sensen tersebut.
Namun, Aryo menjawab dengan yakin.
"Tuan muda Dawn akan hadir, tunggu saja 1 jam lagi"
Yakin sekali, walau dalam hati Aryo dan Istri nya sudah ketar-ketir karena takut Tuan muda tidak akan hadir.
Aryo menyuruh para pelayan untuk menghidangkan beberapa menu yang memang sudah di pesan oleh nya.
Berbagai menu olahan seafood dan yang lainnya pun di tata pelayan Restoran.
Lezat dan menggugah selera,
Itulah kesan pertama yang keluarga itu lihat.
"Yo, kamu keluarin budget berapa nih" celetuk sang Kakak dengan menggelengkan kepala.
"Ck, tak apa Bang yang penting nanti kita lancar kerja sama nya" balas Aryo dengan yakin.
Hingga salah satu pelayan membawa Asisten Tuan muda tersebut, dan di belakang nya nampaklah satu pria tanpa ada nya Tuan muda.
"Maaf kami terlambat dan Tuan muda sedang mengantar Istri nya ke kamar kecil terlebih dulu" jelas Pandi dengan wajah tanpa ekspresi.
Ceklek.
"Selamat datang Tuan muda"
Sebuah sapaan hormat Aryo layangkan saat melihat Tuan muda Dawn datang dengan tangan menggandeng seorang wanita.
'Hmmmm'
Dehem nya dengan kentara.
Deg.
"Alira, ngapain kamu kesini pembawa sial"
.
.
.
.