ALIRA.

ALIRA.
Bab 28 Bertemu Arash.



Pada akhirnya Ricard membawa keluarga Fani dan mertua nya ke mansion, tak lupa dia juga memberitahu pada sang Mommy agar menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga sang Istri.


Selama di perjalanan, Alira terus memeluk sang Bunda dan tangan yang di pegang erat oleh Ayah nya.


"Tak baik jika terus memendam amarah dan kecewa terlalu lama, apalagi pada orangtua kita sendiri Nak. Kamu boleh kecewa pada mereka, namun mereka juga bukan tak percaya padamu tetapi mereka juga sudah termakan hasutan oranglain. Berdamai dan maafkanlah agar kamu lebih lega dan juga tenang, Nak"


Alira masih memingat pesan sang mertua, dia juga merasakan hal itu sekarang.


Nyata nya dia sudah lega dan terasa beban nya hilang setelah saling meluapkan emosi, amarah dan kekecewaannya.


Namun,


Pada akhir nya yang Alira dapatkan ketenangan setelah saling merangkul dan memaafkan.


🐼


Mobil yang membawa mereka tiba di mansion Ricard, mereka melangkah masuk bersama dengan Ricard yang merangkul Alira dengan posesif.


"Bunda, Ayahhhhh"


Deg.


Ayah Wira dan yang lainnya menghentikan langkah nya, mereka menatap anak kecil yang menghampiri Alira dan memeluknya dengan manja.


Apalagi wajah anak tersebut sangat mirip sekali dengan Ricard, dan pikiran mereka sama-sama satu tujuan.


"Bunda udah gak sakit lagi? Nanti bobo sama Alash dan Ayah lagi"


"Yeyeye"


Arash terus saja berceloteh dan berjingkrak bahagia karena Bunda dan Ayah nya akan memeluk dia saat tidur.


"Ayo kita ke ruang keluarga dulu"


Ucapan Ricard hanya di respon oleh anggukan saja, sedangkan mereka masih menatap Arash yang belum menyadari ada tamu yang datang


Mereka di sambut hangat oleh Mommy dan Daddy yang sudah berada disana.


"Loh ada olang lagi, kok Abang gak tau"


Arash yang baru ngeh pun menatap keluarga Alira dengan tatapan polos nya.


"Kamu nya aja hanya fokus pada Bunda. Ayo salim dulu sama Nenek dan Kakek, tak lupa itu juga Aunty dan keluarga nya"


Ricard menuntun Arash ke hadapan mertua dan keluarga Fani, sedangkan Alira sudah duduk bersama Mommy dan Daddy.


Arash menyalami keluarga Alira dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Ayah Wira dan Bunda Lisa meneteskan air mata nya, keduanya memeluk Arash dengan hangat.


"Aku memang tampan Aunty"


Arash menjawab ucapan Fani dengan narsis nya dan senyum dengan menggemaskan.


Kemudian mereka duduk di sofa, Alira memanggil Arash untuk mendekat ke arah nya.


"Ayah, Bunda dan Paman serta Bibi, ini adalah Arash Putra Dawn. Dia Putra ku dan Ricard yang pertama, dan dia juga hasil dari malam kelam itu"


"Alira sangat menyayangi dan tidak menganggap dia sebuah bencana. Karena dia, anugerah terindah bagi Alira"


Alira menjelaskan dengan aura yang sangat tenang dan juga damai, Ricard terus saja menggenggam tangan Alira agar lebih tenang.


"Jadi dia cucuku, ya allah dia sangat tampan dan juga menggemaskan"


"Umur berapa, Nakk?"


Ayah dan Bunda Alira begitu bahagia, tidak ada wajah marah maupun benci dengan Arash.


Dan hal itulah yang membuat Alira sangat lega.


"Kami tidak akan membenci anak itu, karena dia tidak bersalah"


Ayah Wira mengucapkannya dengan tegas, dia juga menatap Arash dengan lembut.


"Ck, aku sangat ingin menguyel-uyel nya Kak, gemes banget sih"


"Aku udah besal Aunty, jadi jangan belkata seperti itu"


Arash menjawab ucapan Fani dengan wajah kesal dan tatapan tajam yang menggemaskan.


Hahaha.


Sontak saja para orang dewasa tertawa dengan ekspresi Arash,


Hingga pada akhirnya mereka berbincang dengan ringan dan hangat.


.


.


.


.


.