
"Jangan menangisi hal yang tak penting"
Ricard memeluk Alira dengan erat, dia terus saja mengecup pucuk kepala Alira dengan lembut.
Bahkan Ricard terus saja membisikan kata-kata yang membuat sang Istri tenang.
"Mas, ayo kita pulang"
"Baiklah sayang"
Alira memutuskan untuk mengajak Ricard pulang saja, dia rasanya ingin istirahat dan menenangkan diri dari semua ini.
'Sabar, sebentar lagi mereka akan menyesali semua nya'
Ricard menatap Alira yang sedang memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.
Hingga Ricard memutuskan untuk memeluk Alira dengan erat.
"Apa semua bukti sudah lengkap?" tanya Alira dengan lirih.
"Sudah, semua akan tiba saat nya. Paman mu akan menggelar acara pengangkatan Fila sebagai Direktur" jelas Ricard.
Alira langsung melepaskan pelukannya dari sang Suami, lalu dia menatap Suami nya dengan mata yang begitu berbinar.
Cup.
"Terimakasih, Mas"
Tanpa sadar Alira mengecup bibir Ricard dan hal itu mampu membuat Ricard menegang.
Klik.
Ricard langsung menekan tombol pembatas antara dirinya dan sang sopir.
Dan , kalian pasti bisa menebak kejadian selanjut nya.
🐼
Sedangkan di Rumah, Ayah Wira uring-uringan karena Istri nya belum kembali juga.
Dia merasa kesal, dia juga sudah menelpon nya beberapa kali namun sayang nya tak di angkat.
"Kau akan menyesal Lisa, dia itu anak yang sudah membuat kita hampir bangkrut"
Ayah Wira terus saja menggerutu, hingga dia mendapat laporan kalau sang Istri sudah kembali.
Tap.
Tap.
Bunda Lisa langsung tersentak dan menghentikan langkah nya, dia menatap Suami nya yang sedang menghampiri dirinya dengan wajah penuh amarah.
Plak.
"Kau keterlaluan Lisa, kau mengabaikan ucapan ku" bentak Ayah Wira kembali.
Bunda Lisa hanya diam dengan lengan yang memegang pipi nya yang terasa sangat sakit.
"Apa aku salah jika ingin mengetahui kabar Putri ku? Putri ku yang selama 9 bulan aku kandung, aku jaga dan aku juga mempertaruhkan nyawa nya untuk melahirkan dia, Mas?"
"Apa kesalahan Alira sangat patal hingga kamu membenci nya? Apa kamu tau alasan kenapa Alira terjebak di kamar Hotel waktu itu?"
Bunda Lisa mencecar Ayah Wira dengan banyak pertanyaan, bahkan dia sudah menangis terisak karena bukan hanya hati nya saja yang sakit, melainkan wajah nya juga sakit atas tamparan sang Suami.
"Tetapi dia anak tak tau diri, dia sudah mencoreng nama baik ku serta hampir membuat perusahaan ku hancur"
Ayah Wira kembali berteriak dengan nada tinggi pada sang Istri, bahkan Bunda Lisa memejamkan mata nya sejenak karena terkejut.
"Bukan nama baik mu, tetapi nama baik Sensen yang kau jaga! Aku muak dengan semua ini Mas, kau melupakan anak kita dan malah memperhatikan Fila yang jelas-jelas sudah membuat Alira menderita"
Bunda Lisa berteriak dengan lantang, dia sudah tak tahan dengan semua ini.
"Apa maksud Bibi, aku tidak membuat Kak Alira menderita" ucap Fila dengan air mata yang sudah menetes.
"Diam"
"Diam kau, aku sudah tau dan kau akan mendapatkan karma nya! Lihat saja" bentak Bunda Lisa kembali dengan penuh amarah.
Plak.
Lagi dan lagi Ayah Wira menampar Bunda Lisa dengan keras, bahkan sudut bibir nya mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Kau yang harus diam Lisa, Fila ini anak baik-baik dan tak mungkin akan mencelakai Alira"
"Cukup! "
"Mulai sekarang aku akan pergi, aku tak akan mengurusi urusan dan segala apapun yang menyangkut dirimu Wira Sensen"
Deg.
.
.
.
.