
Setelah selesai makan malam, Arash kembali pulang ke Villa bersama Mommy dan Daddy Ricard.
Sedangkan Ricard sendiri dia akan membawa Alira berjalan-jalan di sekitaran Pantai yang masih ramai.
"Dadah Bunda"
"Nanti bawa ecklim ya"
Arash berteriak pada Alira dengan lambaian tangan mungil nya, dia merasa aman dan bahagia dengan kedua orang yang di panggil nya dengan sebutan Oma dan Opa.
Jadi, Arahs memilih untuk pulang dan meninggalkan sang Bunda bersama dengan Ricard.
*
Disini lah Alira dan Ricard berada, keduanya berjalan-jalan santai di pinggir pantai yang ramai dengan anak muda.
"Jadi, apa jawaban atas permintaan Daddy?"
"Maaf, aku menemukan kalian terlambat dan aku meminta mu lewat Daddy karena aku takut akan penolakan mu"
Huh.
Alira membuang nafas perlahan, dia menatap ke arah hamparan pantai yang cukup indah untuk malam ini.
"Aku menerima ajakan untuk menikah, namun aku juga menginginkan acara sederhana saja dan tanpa ada siapapun yang tau"
"Aku juga butuh seorang figur Suami, dan Arash membutuhkan figur seorang Ayah. Karena, sudah sejak lama dia di hina, caci maki bahkan tak mempunyai teman karena dia tak punya Ayah"
Deg.
Ricard tersentil dengan penjelasan dari Alira, dia merasa bersalah dan sangat lalai akan tanggung jawab.
"Maaf"
Hanya kata itulah yang akan selalu Ricard ucapkan pada Alira dan Arash.
"Tidak apa, disini bukan kita yang salah tetapi mereka"
"Mari kita bahagia agar musuh sesungguh nya lebih terbakar melihat kebahagian kita yang dulu pernah dia hancurkan"
Tega, menggebu dan juga penuh tekanan. Alira memang bukan orang yang gampang menerima seseorang, namun dia memang melihat ketulusan Ricard dan pembuktian bahwa malam itu memang dia menghabiskan waktu nya bersama dengan dia.
Ricard langsung memeluk Alira, dia tau bagaimana Alira melewati semua ini dengan ssndirian.
Tanpa ada keluarga, teman maupun orang tempat berbagi dan lebih parah nya lagi Ricard merasa sangat bersalah karena dia datang terlambat.
Alira menangis dalam diam di pelukan Ricard, dia merasakan damai dan sosok nyaman dalam diri pria yang menjadi Boss nya itu.
Canggung.
Ya, Alira sangat canggung saat Ricard melepaskan pelukannya.
"Aliraa"
Sebuah sapaan mampu membuat Alira mengeraskan rahang nya dan air muka yang sangat penuh emosi saat mengenali siapa pemilik suara itu.
Ricard pun sama kaget nya saat melihat seseorang yang sudah membuat Alira hancur ada di hadapan nya.
"Lo kemana aja? Kenapa lo gak balik-balik? Malu ya karena hamil, ehh mana anak lo?"
"Tuan tampan, jangan dekat-dekat dengan dia. Kata Ayah nya saja dia itu aib dan pembawa sial"
Wanita tersebut terus saja berbicara tanpa malu, bahkan dia menatap Alira penuh dengan ejekan dan hinaan.
"Terserah saya, dia juga Istri saya jadi tak apa kalau kami dekat-dekat" celetuk Ricard sambil merangkul pinggang Alira.
Deg.
Bukan hanya wanita di depan Alira saja terkejut, namun Alira sendiri juga terkejut dan bahkan jantung nya berdetak kencang.
"Apaaa, istri"
Teriak seorang pria yang baru tiba di sana.
"Jangan bohong deh Ra, kalau lo nikah mana mungkin nyokap dan bokap lo gak tau" ketus wanita tersebut.
"Lalu apa masalah nya dengan kamu, Fila? Yang terpenting saya bahagia, toh mereka juga udah ngusir gue dan gak mau anggep gue lagi" celetuk Alira dengan santai dan membalas pelukan Ricard.
Ya, wanita tersebut adalah sepupu Alira sendiri, Fila.
Dia kaget saat melihat Alira sedang berdiri berdampingan dengan pria tampan di pinggir pantai dan akhir nya Fila menghampiri mereka.
"Ck, dia itu bekas gue dan pasti dia sudah punya anak bersama gue karena 5 tahun yang lalu dia menghabiskan malam dengan gue"
Zayn bersuara dengan bangga dan menatap Alira begitu memuja.
Ricard hanya menatap nya tajam, lalu dia terkekeh kecil dengan seringai di bibir nya.
"Yakin dengan anda? Bukannya malam itu anda pergi karena ada panggilan mendesak" celetuk Ricard santai.
Muak.
Itulah yang Alira rasakan saat ini, hingga kemudian dia mengajak Ricard pergi dari sana.
*
Setelah kepergian Alira dan Ricard, Fila mendengus dengan tatapan kembali tajam pada Alira.
"Awas aja lo, Alira"
Fila nampak geram dan langsung mengambil ponsel di dalam tas nya.
Zayn?
Dia tak kalah geram dengan Fila, karena apa? Karena dia kalah telak untuk mendapatkan Alira.
"Siapa pria itu? Apa dia memang suami Alira?" sebuah pertanyaan muncul dari Zayn.
'Entalah'
Fila hanya mendelik dan kembali ke Hotel dimana mereka menginap selama di Bali.
'Seperti nya dia bukan pria biasa, dari tampilan dan aura nya saja sudah beda. Kenapa sih Alira selalu saja unggul segala-gala nya di banding gue'
'Gue akan bilang sama Paman dan Bibi, agar Alira kembali di benci'
Fila terus saja menggerutu dan memikirkan bagaimana cara nya untuk menjatuhkan Alira kembali.
Ya, lagi dan lagi dia kalah saing dengan Alira, dia bahkan kehilangan pria yang dulu pernah dia rebut dari Alira.
Dan sekarang, Alira mendapatkan pria yang jauh lebih dari dulu.
🍅
Sedangkan di Villa,
Ricard langsung berdiskusi dengan Alira dan orangtua nya untuk acara pernikahan.
Ya, Ricard memilih untuk segera menikahi Alira dalam waktu dekat ini dan akan di adakan di Bali.
Karena Alira dapat jatah liburan selama 4 hari dan dalam waktu sempit itu Ricard manfaatkan untuk menikahi Alir dan memperdekat diri dengan Alira dan Arash.
Bi Iyem sangat terharu mendengar jika sang majikan akan menikah,
Dia berharap kebahagian akan menyeliputi Alira dan Arash nanti nya.
"Bunda, antuk"
Arash merengek karena memang sudah agak malam dari biasa dia tertidur.
"Ayo sama Bibi" ajak Bi Iyem yang seolah mengerti.
Namun, Arash menggelengkan kepala nya dan tetap merengek pada Alira.
"Ayo sama Ayah"
Deg.
Celetukan Ricard mampu membuat Alira kembali merasakan detak jantung nya dengan cepat.
Dan,
Arash langsung menganggukan kepala dengan cepat,
Ricard membawa Arash ke dalam kamar pribadi nya atas persetujuan dari Alira.
Dia akan tidur bersama Putra nya malam ini dan malam berikut nya.
"Kamu juga tidur Nak, besok kita akan menyiapkan pernikahan dadakan ini" ucap Mommy dengan lembut pada Alira.
"Iya Mom, selamat istirahat" balas Alira lembut.
Kemudian mereka bangkit dari duduk nya dan menuju ke kamar masing-masing.
Sedangkan Alira meminta Bi Iyem untuk tidur bersama nya malam ini.
Dan dengan senang hati Bi Iyem pun menerima ajakan sang majikan yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
.
.
.
.
.