
Alira tak jadi menghampiri Fani dan Ardi, dia malah ngajak Ricard untuk pergi ke butiq langganannya.
Ricard dan Arash dengan setia menemani sang Ibu negara belanja, karena mereka juga tadi di temeni oleh Alira bermain.
Alira membeli beberapa baju hamil yang nyaman, tak lupa juga pakaian Ricard dan juga Arash.
Setelah perbajuan selesai, Alira mengajak kedua pria tersebut ke arah gerai sepatu dan sandal. Dia juga memilih beberapa untuk dirinya dan keluarga kecil nya.
Hingga terakhir yang dia kunjungi adalah gerai tas, dia memilih dua tas yang sangat limited edition yang tentu nya dengan harga sangat fantastic.
"Loh kok dua sih Bun?"
Tanya Arash yang sangat kepo sambil menatap lengan sang Bunda yang menenteng dua tas.
"Ini buat Oma satu sayang, gak mungkin kan ini buat Ayah"
Ehhh.
Hahahah.
Arash tertawa melihat reaksi sang Ayah yang di goda oleh Bunda nya.
Kemudian mereka melanjutkan lagi untuk pulang, namun Ricard membawa sang Istri untuk membeli beberapa perhiasan.
"Mas gak usah, ini juga sudah banyak"
Alira terus saja menolak dengan halus, dia tidak mau mengeluarkan uang sang Suami dengan banyak lagi.
"Tidak ada penolakan sayang, baru pertama kali kamu berbelanja begini dan hanya kali ini saja kamu baru memakai uang yang aku berikan, sayang"
Huh.
Alira menganggukan kepala dengan helaan nafas kasar, dia memberikan semua belanjaannya pada pengawal yang setia menemani mereka.
Sedangkan ketiga nya langsung menuju ke toko perhiasan langganan sang Mommy yang Ricard ketahui.
Ricard memilihkan satu set perhiasan yang sangat indah untuk Alira, dan langsung saja di pakaikan pada Alira oleh Ricard.
"Wow Bunda sangat cantik"
Arash tersenyum menatap Bunda nya yang sangat cantik dan senyum malu-malu tersebut.
Ting.
Ricard menerima pesan dari salah satu pengawal bayangannya, dia menatapnya dengan tatapan tajam penuh horor.
"Mas"
Hah.
Ricard langsung mengalihkan tatapannya dari ponsel, dia tersenyum saat Alira memilih kembali cincin untuk mereka berdua.
"Dan ini pilihan aku, Ayah"
Ricard menatap Putra dan Istri nya bergantian, dan di angguki kepala oleh Alira sebagai tanda jawaban.
"Wah hebat sekali Putra Ayah ini"
Cup.
"Ayo kita pulang, kamu perlu istirahat yang cukup"
Ricard membawa mereka pulang dengan segera, tak ingin mengambil resiko yang terlalu besar dengan terus berada disana.
Sesampai di dalam mobil, Ricard melajukannya dengan segera dan lumayan cepat.
Mata elang nya sangat waspada terlihat begitu mengerikan.
"Ada apa?"
Alira menepuk lengan sang Suami dengan lembut, dia sejak tadi memperhatikan tingkah Ricard yang berbeda dan selalu waspada.
Huh.
"Tidak apa, sayang"
"Kamu tak bisa berbohong, Mas"
Ricard kemudian memberikan ponsel nya pada Alira, dia menyuruh Alira membaca sendiri pesan dari pengawal nya.
Deg.
"Mas, kamu harus menjaga ketat Arash"
Alira langsung saja khawatir, karena pasti Arash akan menjadi target mereka selanjutnya untuk balas dendam.
Ricard langsung mengusap lembut pipi Alira, dia mengerti bagaimana ketakutan dan ke khawatiran nya, karena Ricard juga sama khawatir nya.
"Kamu tenang saja, semuanya akan aman asal tidak ada yang bertingkah gegabah"
"Bahkan orangtua mu juga sudah aku beri perlindungan untuk mengantisipasi semuanya"
Alira menghembuskan nafas kasar, dia sangat berterimakasih karena Ricard sudah lebih dulu waspada dan siaga.
.
.
.
.