Alinshy

Alinshy
Bab 9



"Elang Maheswara." terdengar panggilan mamanya.


Elang berhenti lalu menoleh ke belakang saat mamanya memanggilnya. Dia paling benci kepada wanita itu. Namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu berhenti di sana."


"Apa gak anda mengatur saya?"


"Kenapa kamu sulit banget di atur? coba kamu seperti adik kamu yang gampang di atur."


"Karena anda memang tidak pantas untuk di hargai."


"Saya ini mama kamu, walau bagaimanapun kamu tetap anak saya."


"Mama saya sudah mati sejak dia memilih meninggalkan saya demi selingkuhannya." ucap Elang dengan wajah datar.


plakkkkkk


Mama Elang yang bernama Giska menampar wajah Elang. Dia tidak terima di rendahkan oleh Elang seperti itu.


"Kenapa anda menampar saya? apakah anda baru menyadari betapa hinanya anda?"


"Kenapa mulut kamu tidak bisa berkata yang baik? kamu tidak akan mengerti apa-apa, seharusnya kamu tidak bisa ikut campur masa lalu mama."


"Hahahaha anda lucu sekali, kenapa anda sibuk mencari saya, toh selama ini anda kemana saja? sibuk dengan brondong anda?"


Mama Elang nampak terdiam saat mendengar ucapan anaknya. Dia baru menyadari bahwa anak pertamanya sangat membencinya. Bahkan dia bisa melihat bagaimana Elang menatapnya dengan jijik.


"Jika anda bosan dengan suami anda sekarang, anda bisa hubungi saya, saya akan bantu saya mencarikan lelaki yang jauh lebih muda, anda tidak perlu membayarnya, gratis untuk anda." ucap Elang lag dengan senyum mengejek.


Elang meninggalkan Giska dengan wajah merah. Nampak bahwa lelaki itu sangat membenci wanita yang melahirkannya.


Sedangkan Giska mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia paham perasaan Elang karena ia tinggalkan saat kecil. Namun ia tidak terima saat anak tertuanya merendahkan serendah itu.


"Kamu kenapa?" tanya seorang lelaki menghampiri Giska.


"Aku nggak apa-apa." jawab Giska mencoba menutupi apa yang dia rasakan.


"Kamu bertemu anak kamu yang kurang ajar itu lagi?" tanya Dedy kepada istrinya.


Sang istri hanya mengangguk sambil memeluk suaminya.


"Sekali - kali itu anak harus di kasih pelajaran, nggak bisa menghargai orang yang lebih tua, jika dia nggak bisa menghargai kamu sebagai ibunya setidaknya dia menghargai kamu sebagai orang yang lebih tua." ucap Dedy kesal.


Dia tau ketika bertemu dengan anaknya dari mantannya terdahulu, Giska selalu menangis.


"Aku nggak apa-apa, kamu jangan pernah apa - apain Elang, bagaimanapun dia anakku." Giska tidak terima jika Dedy suaminya memberi pelajaran kepada anaknya.


"Kamu menganggap dia anak, tapi dia apa?"


"Dia hanya butuh waktu sampai dia paham, Sekarang dia masih remaja dan dia masih bergejolak." ucap Giska menenangkan suaminya.


"Itu hasil didikan mantan kamu, begitulah hasilnya." ucap Dedy kesal.


"Ayok jemput Ellen, dia pasti sedang menunggu kitam" ajak Giska mengajak suaminya menjemput anaknya yang ia tinggal bermain di arena permainan yang ada di pusat pembelanjaan bersama pengasuhnya.


Giska melihat Ellen sedang bermain bersama dengan adiknya Eijas. Mereka nampak happy sekali.


Sedangkan Elang Maheswara berjalan menuju mobilnya dengan kesal. Dia tidak menyangka akan bertemu wanita itu ketika sedang mengunjungi pusat pembelanjaan.


Elang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Elang tidak bisa melupakan penghianatan yang dilakukan oleh mamanya terhadap papanya.


Elang masih ingat bagaimana mamanya selalu membawa gonta - ganti pasangan kerumahnya. Bahkan dia dan adiknya sering memergoki mamanya membawa lelaki yang terjadi suaminya itu di saat papanya sedang keluar kota.


Elang merasa malu mempunyai seorang mama seperti itu. Dia malu mempunyai mama yang sangat murahan.


Bayangan Elang tertuju ke masa silam. Dia masih ingat ketika duduk di bangku kelas 5 SD.


Flashback


Elang dan adiknya Eidlan baru saja pulang dari sekolah. Jika Elang Maheswara duduk di bangku kelas 5 SD, maka adiknya Eidlan Maheswara duduk di bangku kelas 2 SD.


Mereka tau bahwa papanya sedang di luar kota. Mereka yakin bahwa mamanya membawa seorang lelaki. Namun selama ini mereka tidak pernah sampai harus mengintip seperti ini.


"Papa harus tau dek, kita harus intip kali ini." ucap Elang berbisik.


Walaupun baru duduk di kelas 5 SD, dia cukup tau apa yang di lakukan oleh wanita dan pria berada dalam satu ruangan.


Elang membuka pintu kamar kedua orang tuanya dengan pelan. Sedangkan adiknya Eidlan hanya dia mengikuti sang kakak.


Elang kaget saat melihat apa yang terjadi dalam kamar tersebut. Dia dengan cepat menutup mata adiknya. Lalu mengajak adiknya meninggalkan kamar tersebut.


Elang merasa marah saat melihat apa yang terjadi. Dia sangat membenci mamanya mulai saat ini. Dia akan menceritakan kepada papanya.


"Ada apa kak?" tanya Eidlan.


"Tidak ada apa-apa, kamu kembali ke kamar, kakak masih ada yang mau kakak kerjakan." ucap Elang.


Elang benar - benar terluka melihat penghianatan mamanya. Kali ini dia merasa mamanya juga menghianati dirinya dengan berselingkuh.


Dia semakin marah pada dirinya sendiri karena semua yang di lihatnya benar apa adanya seperti pemikirannya selama ini.


"Kamu jahat mama." ucap Elang berbicara dengan dirinya sendiri.


Elang menggempalkan kepala tinjunya. Dia tidak tahan melihat papanya yang pasti akan hancur sehancurnya.


"Kamu tidak layak di panggil mama." ucap Elang dengan emosi.


Flashback end


Elang sedang berdiri di gedung paling tinggi di kantor milik papanya. Semenjak SMP dia selalu datang ke sini untuk menenangkan diri.


Dia atas gedung dia bisa menenangkan dirinya. Di sana ia bisa melihat betapa indahnya pemandangan sekitarnya.


Elang hanya diam memperhatikan sekitarnya. Tiba-tiba bayangan mamanya datang kembali di benaknya. Lalu setelah itu berganti dengan bayangan Alin yang pergi bersama dengan Nori.


Kedua bayangan tersebut membuat kepalanya sakit. Dia tidak bisa melupakan kenangan pahit di masa lalu.


"Alin kamu tidak ubahnya seperti mama, aku yakin bahwa kamu tidak layak di perjuangkan." ucap Elang kesal ketika mengingat Alin bersama dengan Nori.


"Kamu pasti juga wanita brengsek yang murahan seperti wanita itu, saya berjanji tidak akan mendekati wanita murahan seperti kalian." ucap Elang marah semarahnya.


Nada dering ponsel Elang berbunyi. Dia mengeluarkan ponselnya dari sakunya.Dia melihat nama Mawar yang menghubunginya.


Entah kenapa Elang sangat malas untuk mengangkat telpon dari wanita itu. Akan tetapi dia ingat bahwa wanita itu baik kepadanya sejak dulu.


Dan Elang juga ingat bagaimana setianya wanita itu kepadanya sejak dulu. Walaupun dia mengabaikan perasaan wanita itu namun wanita itu tetap menunggunya dengan setia.


Apalagi keluarga Mawar selalu baik kepadanya. Papa Mawar dan Elang adalah mitra bisnis yang saling menguntungkan. Mereka berteman sejak merintis bisnis bersama.


Setelah keluarganya hancur, Elang lebih sering bermain bersama dengan keluarganya Mawar. Mereka memang sering berkunjung karena mereka juga tetangga sejak dulu.


Papa Elang dan Mawar membeli rumah berbarengan saat masih lajang. Mereka memang sengaja membeli rumah bersebelahan agar menjadi tetangga.


Selain papa Mawar masih ada papa Langit. Papa Langit juga temannya papa Elang. Papa Langit membeli rumah berhadapan dengan rumah Mawar. Mereka bertiga memang sudah akrab sejak kecil.


Namun karena cinta segitiga yang mereka ketahui sewaktu SMP, akhirnya Langit memilih beda sekolah dengan Elang dan Mawar.


Dan Semenjak itu Langit menjauhkan diri dari Elang maupun Mawar. Dia jarang berkumpul bersama. Kalaupun ada acara makan bersama keluarga, Langit sering tidak ikut dengan berbagai alasan.


Langit tidak pernah mau menegur Elang lagi. Elang bahkan pernah menegur lelaki itu saat bertemu, akan tetapi Langit malah membuang muka.


Elang akhirnya memutuskan tidak menjawab telpon Mawar. Sejak dulu dia memang sengaja membuang cintanya kepada Mawar karena menjaga perasaan Langit. Setelah itu Langit mulai berbaur dengan Elang lagi.


Namun Langit berubah semakin marah karena tau bahwa Mawar akan di jodohkan dengan Elang. Semenjak itu Langit dan Elang benar - benar perang dingin.


"Mawar mungkin untuk saat ini kamu masih setia sama aku, akan tetapi aku tidak mau di anggap penghianat oleh Langit, aku janji akan menjauh dari kamu, tapi kita selalu bersama sehingga dia marah." ucap Elang menyadari kekeliruannya.


"Jika aku memilih bersama kamu, sama saja aku penghianat seperti wanita itu." ucap Elang lagi.


Elang akhirnya mematikan ponselnya agar Mawar tidak bisa menghubungi dirinya lagi.