
Mawar sangat kesal karena ia tidak satu bis dengan Elang. Awalnya ia sudah memboking kursi untuk elang di samping dirinya. Awalnya Elang memang berada di bis yang sudah ditetapkan oleh anggota OSIS. Akan tetapi ketika bis mau jalan, tiba - tiba Elang turun setelah membisikkan sesuatu kepada pak Sopir.
Mawar duduk berdiam diri sejak tadi. Hatinya lansung badmood ketika tidak bersama dengan elang.
Semua siswa pelita jaya pergi study wisata. Akan tetapi mereka memiliki tujuan yang berbeda. Kenapa seperti itu karena banyaknya jumlah mereka yang tidak memungkinkan menampung seluruhnya.
Siswa kelas XI IPA pergi ke kantor Pertanian. Setelah mereka mendapatkan ilmu di sana barulah mereka menuju pantai Anyer.
Jika kelas lain memilih keluar kota, akan tetapi perwakilan OSIS kelas IPA menetapkan pergi ke Jabodetabek.
Nadia hanya tersenyum melihat mawar yang nampak kesal. Nadia yang awalnya memilih di belakang, akhirnya memilih maju ke kursi Mawar. Dia meminta yang duduk di sebelah Mawar untuk pindah tempat.
"Sepupu kamu itu ngeselin banget." ucap Mawar ketika menyadari bahwa Nadia yang duduk di sebelahnya.
"Dia udah bucin sama Alin." jawab Nadia.
"Apa sih yang dilihat dari Alin? tampang juga pas-pasan, jauh lebih cantik aku ke mana-mana."
"Iya, tapi bagi anak laki-laki mendapatkan Alin Sebuah tantangan, apa dia ngelonte kali ya, makanya semua laki - laki tergiur dengannya."
"Tapi kan Elang bukan tipe yang seperti itu."
"Emang kamu tahu orang luar dalamnya?" tanya Nadia tersenyum.
"Masa sih."
"Aku sih untungnya Mama Nori nggak menyukai si Alin itu, jas Nori di larang mamanya bertemu dengan Alin, dan Sekarang aku nggak perlu waspada lagi."
"Tapi nggak ada Alin tetap saja Nori mempunyai banyak wanita simpanan, Nori kan suka Makai - Makai wanita gitu." ucap Mawar tersenyum mengejek.
"Sekarang Nori sudah berubah, nah kamu tuh yang harus fokus cari perhatian sama Elang, tapi sepertinya kamu tidak bisa cari perhatian lagi sama Elang."
"Kenapa begitu."
Nadia sambil menatap Mawar dengan pemikiran yang ada di kepalanya.
"Kamu memang cantik tapi bodoh, mana mau Elang dengan wanita bodoh kayak kamu." ujar Nadia di dalam hatinya.
"Kamu kenapa tersenyum begitu?" tanya mawar menatap Nadia dengan penuh selidik.
"Gimana mau cari perhatian, Kamu udah belum kan sudah dari dulu berteman, yang ada kamu harus singkirkan wanita bernama Alin itu."
"Kamu benar juga, nanti aku akan kerjain dia." jawab Mawar dengan penuh kelicikan.
"Tapi jangan sampai Elang tau, karena saat ini Alin dalam perlindungan Elang." ucap Nadia menjelaskan kepada Mawar agar gadis itu tidak ceroboh.
"Bisa - bisanya kamu jadi OSIS, padahal otak hampir sama dengan otak udang, jika mawar mengerjai Alin, maka aku orang yang di untungkan, tanpa berbuat tapi membuat musuh kalah." ucap Nadia tersenyum licik.
Sedangkan di bis dua Elang nampak mengantuk. Dia hanya memejamkan matanya lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Alin.
Alin awalnya selalu mendorong kepala Elang agar menyandar di sandaran kursi. Akan tetapi tidak lama kemudian kepalanya itu kembali mendarat di bahunya.
"Haduw ngapain dia pergi jika hanya tidur." omel Alin yang merasa tidak enak jika di perhatikan oleh teman - teman yang lain. Apalagi di deretan bagian depan ada beberapa guru yang duduk. Bisa kena masalah jika ada yang melihat mereka seperti ini.
Alin memperhatikan wajah Elang dari dekat. Lelaki itu nampak tampan sekali saat sedang tidur.
Elang yang sebenarnya hanya berpura-pura tertidur. Dia sengaja mengambil kesempatan saat duduk bersama Alin.
Tempat tujuan studi wisata mereka adalah pantai Carita. Objek wisata bahari yang satu ini terkenal hingga ke mancanegara, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya turis asing yang mengunjungi pantai dengan nama lain Carita Anyer ini.
Pantai Carita memiliki luas sekitar 2,5 hektar, maka tak heran jika banyak penginapan, cafe atau restoran di sepajang pantainya.
Lokasinya yang tidak jauh dari Ibukota menjadikan Pantai Carita menjadi tujuan ketika berlibur bersama keluarga ataupun acara gathering.
Pantai Carita memiliki garis pantai yang panjang, dihiasi dengan pasir yang lembut. Banyak anak-anak yang terlihat sedang berkreasi dengan pasir tersebut. Sesekali badan mereka basah terkena deburan ombak yang mendekat.
Selain panjang, hamparan pasir di Pantai Carita pun cukup luas sehingga dapat di gunakan untuk bermain voli pantai atau bermain sepak bola.
Alin tersenyum saat melihat Elang sedang bermain sepak bola bersama dengan siswa yang lain. Beraneka ragam permainan telah mereka laksanakan. Anak perempuan lomba Tebak kata, lomba tarik tambang dan lomba mengisi air dalam botol.
Akan tetapi Alin sama sekali tidak ikut lomba apapun. Dia hanya diam menyaksikan pertandingan.
"Kenapa tidak bergabung di sana?" tanya Elang sudah duduk di sebelah Alin.
"Malas aja."
"Tu kamu tau malah tanya."
"Apa perlu aku melakukan sesuatu agar kamu bisa di terima mereka?" tanya Elang.
"Nggak perlu, aku nyaman seperti ini." jawab Alin.
"Naik wahana itu tok." tunjuk Elang ke suatu tempat.
"Wahana apa? banyak begitu." jawab Alin karena tunjuk Elang sudah berpindah - pindah tempat.
"Ini ni yang paling seru dari Pantai Carita, di sini banyak banget wahana air yang dapat kamu coba, Seperti Bermain air menggunakan ban,Banana boat,Bermain Jetski,Surfing,Snorkeling, dan
Memancing." ucap Elang menjelaskan kepada Alin.
"Kamu sudah seperti guide saja." ucap Alin sambil tersenyum.
"Cocok nggak? " tanya Elang mengerdipkan matanya.
"Hahahahahaha." Alin tertawa melihat tingkah Elang yang menurutnya lucu.
Elang tersenyum karena berhasil membuat wanita itu tertawa.
"Selain beberapa keseruan di atas, masih ada satu lagi ragam wisata seru yang dapat kamu lakukan. Yakni mengarungi Selat Sunda, karena memang Pantai Carita berbatasan langsung dengan Selat Sunda." ujar Elang lagi.
"Nanti sepertinya ini tugas yang akan aku buat." ucap Alin mendengar penjelasan Elang.
"Iya, kamu nggak perlu cari pemandu lain, kamu cukup perlu aku sebagai pemandu."
"Lanjut." ucap Alin dengan serius mendengarkan.
"Beberapa lokasi yang dapat kamu tuju diantaranya Taman Laut Kabua (Lost Island),Pulau Burung (Bird Island), dan berlayar mendekati Gunung Anak Krakatau yang tepat berada ditengah-tengah Selat Sunda."
"Mendekati gunung Krakatau?"tanya Alin kaget karena ia memang belum pernah ke sini.
"Iya, kamu mau?"
"Suatu saat aku akan pergi." ucap Alin.
"Sekarang saja, aku yang bayarkan semua tiket." ajak Elang.
Alin menggelengkan kepalanya. Walaupun Elang baik, dia merasa tidak tepat memanfaatkan kebaikannya.
"Kenapa nggak mau? aku serius."
"Kamu baik begini saja udah cukup, aku tidak mau memanfaatkan kebaikan kamu." jawab Elang.
Elang tersenyum senang, di sinilah perbedaan Alin dengan wanita lain. Jika wanita lain senang memanfaatkannya tapi tidak dengan Alin.
"Suatu saat aku akan kesini setelah aku bekerja." ucap Alin.
"Kelamaan." jawab Elang.
"Tidak apa-apa, tidak ada yang instan, sebenarnya bisa aja sih pergi libur ini, tapi nenek lagi punya masalah, jadi aku lebih baik tidak menyusahkan nenek."
"Nanti ketika kamu di sini bawa aku sebagai guide kamu ya." ucap Elang.
"Jangan mahal - mahal."
"Untuk kamu banyak diskon, bahkan hati aku saja aku kasih." ucap Elang tersenyum.
"Lebai."
"Kok lebai sih? ahk kamu memang kurang bisa menyenangkan hati orang lain." ucap Elang.
Alin tertawa melihat Elang berpura-pura mengambek. Dia hanya tersenyum menatap lelaki itu.
"Apapun yang terjadi tetaplah
Menjadi teman aku, jangan jauhi aku karena sesuatu ya." ucap Alin membuat Elang menghentikan akting ngambeknya.
"Kamu ini ngomong apa sih?"
"Nggak apa-apa, aku hanya ingin kamu seperti itu, jangan berubah." ucap Alin yang di jawab dengan sebuah anggukan oleh Elang.