
Elang nampak sibuk mengabsen anak - anak sebelum pulang. Setiap pagi dan pulang anggota OSIS selalu mengabsen siswa-siswi dengan membariskan di lapangan.
Elang dari tadi hanya fokus melihat ke arah barisan kelas XI IPA 2. Dia tidak melihat ada Alin di barisan mereka.
"Kemana anak itu?" tanya Elang mendekati barisan kelas XI IPA 2.
"Apakah jumlah kalian sudah lengkap?" tanya Elang.
"Belum Lang, Ini teman - teman lagi cari Alin." ucap ketua kelas.
"Oke." jawab Elang meninggalkan barisan.
Elang berjalan menuju perpustakaan. Sejak tadi yang Elang tau bahwa wanita itu menghabiskan waktu di perpustakaan.
Elang berpapasan dengan anggota OSIS yang lain.
"La nanti jika sudah absen di pulangkan aja semua, untuk kelas XI IPA 2 nggak masalah, Alin ada keperluan, udah izin tadi." ucapnya memberikan perintah.
"Baik kak." jawab anggota OSIS yang kebetulan kelas 10.
Elang masuk ke perpustakaan sambil mengedarkan pandangannya.Dia tau bahwa wanita ini selalu mengambil duduk di bagian pojok.
Elang berjalan ke sana dan benar dugaannya. Wanita itu tengah tertidur di sana.
Bibir Elang melengkung melihat wanita itu tidur dengan tumpukan buku.
"Bisa - bisanya dia tidur di tempat umum." jawab Elang berdiri di sisi kanan Alin.
Elang mengarahkan tangan ke arah kepala Alin.Elang mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kenapa kamu selalu buat aku kesal haa? coba kamu dengerin aku untuk jauhi Nori." ucap Elang memandang wajah cantik Alin.
"Elang, kamu di sana?" Elang dengan cepat menarik tangannya dari kepala Alin setelah mendengar suara penjaga perpustakaan.
"Iya Bu."
"Apa ada Alin di sana? dari tadi dia nggak ada nampak keluar." ucap penjaga perpustakaan mendekati mereka.
"Iya Bu, ini lagi tidur." jawab Elang.
"Ya sudah bangunkan saja, takutnya ibu kelupaan, nanti terkunci pula di sini."
"Baik Bu." jawab Elang.
"Alinshy bangun." ucap Elang menggoyangkan tangan Alin.
Alin lansung terbangun karena mendengar namanya di panggil. Alin yang belum sadar sepenuhnya tidak sadar bahwa namanya di panggil Alinshy.
Alin segera merapikan rambutnya ketika sadar bahwa Elang lah yang membangunkannya.
"Ada iler tuh." ucap Elang menunjuk wajah Alin.
Alin yang mendengar ada iler lansung panik. Dia dengan segera mengelap wajahnya dengan tangannya.
Elang tertawa karena berhasil mengerjai wanita itu. Alin yang melihat Elang tertawa jadi bingung.
"Apanya yang lucu?" tanya Alin cemberut.
"Nggak ada." jawab Elang.
Alin terpesona melihat lelaki itu tertawa. Karena selama ini lelaki itu sangat jarang tersenyum atau tertawa.
"Manis." gumamnya.
"Sudah tau." jawab Elang.
Alin kaget ternyata ucapannya terdengar oleh lelaki itu.
"Karena kamu aku pulang terlambat, kamu harus bertanggung jawab." ucap Elang.
"Kenapa karena aku? aku tidak meminta kamu ke sini."
"Aku di suruh ibu penjaga, lagian ketua kamu tadi lapor ke aku, sebagai ketua OSIS aku bertanggung jawab dong atas tidak lengkapnya siswa dikelas kalian, jadi jangan GR."
"Siapa juga yang GR." jawab Alin tidak mau kalah.
"Kamu harus ikut aku sebagai hukuman atau aku akan sebar foto kamu lagi tidur yang sedang ileran." ancam Elang.
"Ah sukanya ngancam." ucap Alin dengan Bete.
Elang membawa Alin dengan menggenggam tangan wanita itu. Alin yang di genggam hanya diam melihat tangannya dan Elang menyatu.
Setelah membukakan pintu untuk Alin, Alin masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau ambil tas dulu di ruangan OSIS." ucap Elang memberikan perintah.
Entah kenapa untuk kali ini Alin tidak memberontak. Dia tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia senang bisa berduaan dengan Elang.
Elang berjalan menuju ruang OSIS. Ketika membuka pintu ruang OSIS dia agak kaget karena masih melihat mawar di sana.
"Elang kamu darimana saja?" tanya Mawar Ketika baru saja melihat Elang masuk.
"Aku ada urusan, kenapa?"
"Aku tidak bawa mobil, aku nebeng ya." ucap Mawar.
"Haduh maaf war, aku nggak lansung pulang, ada urusan."
"Urusan apa? aku ikut kemana kamu aja deh." jawab Mawar yang tidak ingin pulang sendiri.
"Kamu lebih baik telpon supir kamu aja, aku ada urusan penting yang. nggak bisa aku ceritakan sekarang, aku duluan ya, takut papa malah marah." ucap Elang berlalu setelah mengambil tas kecilnya.
Elang melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia tidak ingin mawar membuntuti dirinya.
"Kok kayak ada yang aneh dengan Elang." gumam Mawar melihat ada keganjilan dengan sikap Elang.
Mawar hendak mengejar Elang, namun ia tidak bisa karena harus mengambil tas dan mengunci ruangan OSIS.
Alin melihat Elang nampak terburu-buru menuju mobil.
"Kayak di kejar setan aja." ucap Alin ketika Elang baru masuk ke dalam mobil.
"Anggap aja seperti itu." jawab Elang lansung memacu mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Alin.
"Ikutin aja." jawab Elang.
Elang nampak serius membawa mobil. Sedangkan Alin sesekali melirik ke arah Elang. Dia menyadari bahwa lelaki ini makin tampan di liat dari dekat.
"Aku tau bahwa aku tampan." ucap Elang melirik ke arah Alin. Dia ingin sekali melihat wajah kesal wanita itu.
"Tau, jika kamu nggak tampan nggak mungkin semua cewek di sekolah kita tergila-gila dengan kamu." jawab Alin di luar dugaannya.
Elang memang mengakui bahwa gadis itu memang pintar dalam bicara. Sayang dia tidak perna percaya diri untuk bergabung dengan OSIS.
"Kamu pandai bicara, kenapa tidak daftar jadi OSIS waktu itu?" tanya Elang.
"Bagaimana mau daftar OSIS, teman aja aku nggak punya, siapa yang mau memilih aku jika bersaing dengan Elang Maheswara yang membuat para wanita tergila-gila."
"Kamu bisa menarik perhatian yang putra."
"Sudah ada mawar yang mereka idolakan, bukannya wanita pintar akan kalah dengan yang cantik?"
"Nggak, justru lelaki akan memilih wanita yang pintar di banding wanita cantik."
"Itu hanya omdo, faktanya lelaki akan memandang fisik dulu ketika pandangan pertama." jawab Alin.
Elang membuang muka dari Alin ketika tersenyum. Dia selalu puas dengan jawaban yang di berikan oleh wanita itu. Selama ini Elang selalu unggul dalam berdebat, tapi tidak jika ia berdebat dengan wanita ini.
"Boleh nanya nggak?"
"Bukannya kamu sudah bertanya dari tadi?" tanya balik Alin membuat Elang tersenyum nyengir.
"Kenapa hubungan kamu dengan Rima dan Cahaya merenggang?" tanya Elang ingin tau dari mulut wanita itu.
"Gara - gara kamulah."
"Kok gara - gara aku?" tanya Elang dengan kening mengerut.
"Kamu Nanya? kamu bertanya - tanya kenapa mereka menjauhi aku." ucap Alin menirukan iklan - iklan yang ia tonton.
"Iya aku bertanya, jawab aja tuan putri." ucap Elang kesal karena gadis itu ikut - ikutan tren yang menjijikkan baginya.
"Karena Rima menyukai kamu, dia marah karena......" Alin tidak jadi melanjutkan kata - katanya karena tidak mungkin ia berbicara jujur pada Elang tentang perasaannya.
"Karena apa?"tanya Elang.
"Karena mereka anggap aku suka kamu, padahal tidak." jawab Alin.
Elang kesal dengan jawaban terakhir Alin. Dia akan lebih senang jika kata akhir itu di hilangkan.