
Alin semakin terpesona melihat ketampanan lelaki itu. Dia hanya bisa mengagumi lelaki itu didalam hati.
Alin duduk di sebelahnya Nadia. Di meja bundar itu terdapat banyak teman yang lain. Mereka nampak sedang bercerita masa sekolah sambil meminum minuman yang di sediakan.
Entah kenapa Alin tidak berani menatap Elang. Sedangkan Elang hanya menatap Alin dari kursinya tanpa mendengar ucapan sahabatnya yang lain.
Nadia hanya tersenyum saja melihat Elang menatap Alin. Entah kenapa mulutnya sangat enggan untuk memberikan informasi penting untuk Alin.
Karena jam telah menunjukkan pukul 10 malam, maka sudah banyak di antara mereka yang sudah mau pulang. Nadia juga bersiap pulang karena Nori sudah menjemputnya.
"Yok pulang Lin." ajak Nadia.
Alin berjalan beriringan dengan Nadia. Dia memang berjanji untuk pulang berbarengan Nori.
Semua pandangan tertuju kepada Alin dan Nadia. Apalagi ke keakraban yang terjalin di antara keduanya.
"Kalian bertanya kenapa Alin bisa barengan dengan Alin?" tanya Nadia setelah membalikkan badannya lalu bertanya.
"Iya coba kasih tau."
"Karena abangnya Nori adalah pacar ku, jadi asal kalian tau semua bahwa Alin bukan wanita miskin." ucap Nadia tersenyum mengejek Rima.
Semua yang berdiri di sana lansung tercengang. Sedangkan Alin hanya malas mendengar semua itu hanya berjalan menuju parkir.
"Lin barengan." panggil Nadia.
"Cepat, kamu bikin aku malu saja." ucap Alin mengomel kepada Nadia.
Ketika mereka pergi, Elang hanya diam menatap Alin. Dia sendiri tidak tau kenapa hanya berani menatap wanita hanya dari jauh.
"Kamu nggak mau nyusul dia?"tanya mawar kepada Elang.
"Buat apa?"
"Harusnya pertanyaan itu kamu sendiri yang jawab, udah tau suka tapi masih saja di simpan."
"Tapi dia taunya aku sudah menikah dengan kamu." jawab Elang.
"Hahahaha, ada - ada aja." ucap Mawar sambil ngakak.
"Nggak ada yang lucu " jawab Elang langsung melangkah kaki menuju parkiran mobil.
"Ikut....." ucap Mawar mengejar langkah kaki elang.
"Sampai di sana kamu ajak sekalian Alin, apa kamu nggak kasihan, udah lama loh dia nunggu kamu."
"Aku malas berusahan dengan Nori ."
"Hey jangan Cemen seperti itu, jika kamu memang mau adiknya ya dekati abangnya, ah siap gitu aja kamu payah." ejek Mawar.
Elang melihat Alin mau naik kedalam mobil. Dia segera mengejarnya Alin karena sudah tidak mau menunggu lagi.
Ketika dia mengejar Alin, Langit juga muncul di sana.
"Ada apa?" tanya Langit kepada mawar.
"Ada drama terbaru, kamu nonton aja." jawab Mawar.
"Alin." teriak Elang.
Alin tertegun ketika Elang memanggilnya. Dia tidak menyangka lelaki itu akan memanggilnya di depan umum.
"Ada apaan?" tangan Alin bingung.
"Maaf Lin ganggu, aku mau bicara dengan kamu."
"Tapi aku mau pulang."
"Aku antar."
"Nggak , biar aku saja yang antar kamu pulang."
"Nggak bisa begitu, Alin adalah tanggung jawab aku." ucap Nori keluar dari mobil.
"Tapi aku butuh bicara dengan dia."
"Bicara di sini saja." ucap Nori.
"Tolong berikan kamu waktu 10 menit."
"Tidak bisa, bicara saja di sini." ucap Nori.
Alin menatap wajah Nori dengan wajah kesal. melihat wajah alim kesel membuat Nori akhirnya mengizinkannya.Dia tahu bahwa ini sangat berarti untuk Alin.
" Oke, kali ini kamu menang, kamu boleh antar dia pulang tapi tidak boleh lebih dari jam 11.00 malam." ucap Nori membuat Alin kaget.
"Kami hanya sebentar." jawab Alin.
"Tapi Ini kesempatan kamu untuk bicara dengan dia, agar semua pertanyaan dalam benakmu bisa terjawab malam ini."ucap Nori berjalan mengingkari mobilnya lalu masuk kedalam mobil.
Alin hanya terdiam ketika Nori meninggalkannya. Begitu juga dengan Elang. Tiba-tiba dia merasa grogi sendiri.
"Ayok."
"Itu lagi sama suaminya." ucap Elang menunjuk Mawar dan Langit.
Alin semakin tidak mengerti apa maksud ucapan dari Elang.
"Bukannya kamu sudah menikah dengan Mawar?"
"Siapa bilang? kamu baca gosip murahan?"
"Tapi kata yang lain kamu....."
"Mawar meninggalkan aku demi lelaki itu." ucap Elang memasang wajah sedih.
"Hey bukan seperti itu ceritanya, dia yang nggak bisa membuka hatinya untuk aku, jangan memutar fakta." jawab Mawar tidak terima.
"Untung saja ada lelaki yang tulus menerima aku." ucap Mawar lagi.
Alin hanya diam tanpa tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Dalam hatinya tentulah ini berita sangat bahagia.Akan tetapi dia hanya diam berdiri tanpa ekspresi.
"Sudah ayo kemobil agar aku jelasin semuanya." ucap Elang menarik tangan Alin.
Mereka akhirnya masuk kedalam mobil Elang. Setelah melajukan mobilnya barulah Elang tersenyum menatap Alin. Senyum Elang membuat Alin melayang.
"Kamu masih berhutang cerita sama aku." ucap Elang tersenyum melirik gadis yang duduk di sebelahnya.
"Cerita apa?" tangan Alin masih kurang paham.
"Cerita bagaimana akhirnya mama Nori mengakui kamu sebagai ibunya."
"Tapi aku tidak pernah menjanjikan untuk bercerita sama kamu baik di masa lalu atau di masa depan.
"Cerita saja dulu, aku penasaran."
"Tentang kamu saja dulu."
Elang mulai bercerita tentang masa lalunya. Sedangkan Alin hanya mendengarkan dengan serius.
Flashback
Elang kecewa karena Alin tidak ada di waktu hari yang paling bersedih untuknya. Di mana ia kehilangan papanya. Sedangkan ia di tuntut untuk belajar menjadi pemimpin muda.
Waktu Elang sudah habis untuk belajar dan bekerja. Elang menghabiskan waktu mudanya untuk bekerja. Dia bahkan tidak pernah berjumpa dengan teman - temannya.
Elang juga tidak pernah memakai media sosial. Baginya menjadi pemimpin perusahaan papanya adalah penting. Karena dari sana ia bisa mencari dalang pembunuh keji papanya.
Elang hidup di dalam tekanan. Dia telah meyakinkan om Jefri bahwa itu pembunuhan. Akan tetapi pamannya itu tidak percaya. Sehingga Elang yakin bahwa pembunuhnya adalah om Jefri.
Akan tetapi Elang tidak punya bukti. Dia juga tidak tau apa motif om Jefri melakukan ini kepada kakak kandungnya sendiri.
Setelah berumur 21 tahun, Elang sudah bisa mengembangkan salah satu proyeknya. Dia sudah bisa mendirikan bisnis kecilnya bersama Nadia. Nadia merasa kasihan terhadap Elang akhirnya membantu sepupunya.
Dia selalu menjadi orang yang berada di sisi Elang dalam situasi apapun. Sampai akhirnya dia di percaya untuk menjawab CEO perusahaan papa dan sahabatnya itu.
Setelah menjabat menjadi CEO, Elang mulai menyelidiki kejadian beberapa tahun yang lalu. Ternyata ini bukan kasus mudah.
Elang meminta bantuan Nadia lagi. Butuh waktu 3 tahun bagi mereka dalam menemukan dalang di balik semuanya.
Nadia dan Elang syok dengan semua. Karena pada mulanya Nadia menemukan bahwa pembunuh papa Elang adalah mamanya sendiri.
Nadia sangat marah kepada mamanya. Dia sangat marah kepada mamanya sehingga mamanya memberikan pengakuan.
"Yang bunuh papa Elang adalah mama, mama bekerja sama dengan papa Mawar."
"Papa Mawar?"tanya Nadia.
"Iya, dan mama kamu itu sudah lama berselingkuh dengan papa Mawar, sehingga mama kamu bisa membocorkan rahasia perusahaan dari dokumen penting yang dia liat di kantor papa." ucap Papa Nadia.
"Mama selingkuh? kenapa mama melakukan ini mama?" tanya Nadia dengan sangat marah.
"Papa kamu sangat tidak bisa diandalkan, dia hanya bergantung kepada kakaknya, sementara kita harus berkembang,mas Andi memberikan mama banyak kemewahan, dia bukan tipe seperti papa kamu." jawab mamanya.
Elang hanya terdiam mendengar ucapan tantenya. Dia merasa hatinya hancur melihat pamannya. Bagaimana hatinya baik - baik saja karena papa dan paman telah di khianati oleh istrinya sendiri.
"Elang maafkan om, om tau pembunuh papa kamu, tapi om tidak bisa memberi tau sebenarnya, karena om tidak ingin keluarga ini hancur berbarengan, om ingin memberi tau semua ketika kamu sudah memegang semuanya, karena waktu itu Nadia masih butuh mamanya." ucap Om Jefri menangis didepan keponakannya.
Jefri tidak bisa membongkar pembunuhan kakak kandungnya sendiri karena sudah di ancam oleh Andi. Dia juga di jaga oleh bodyguard Andi kemana - mana. Maka untuk itu dia hanya butuh hidup untuk melindungi anak dan keponakannya agar mereka sendiri yang menjebol Andi serta istrinya kepenjara.
"Apakah ini takdir keluarga kita untuk dikhianati om?" tanya Elang dengan tangis.
"Itu mungkin nasib om dan kakak om menyedihkan, tapi om tidak akan patah semangat kehilangan wanita yang tampak seperti dia." ucap Om Jefri.
"Elang, aku sudah lapor polisi, aku mohon maaf kepada kamu Elang, karena telah menghancurkan senyum kebahagiaan kamu." ucap Nadia menangis.
Elang memeluk Sepupunya itu. Dia merasa iba dengan sepelupunya. Karena nasib Nadia sama dengan dirinya.
"Biarkan mereka membusuk, kamu pasti kuat Nadia, kamu wanita hebat, bahkan kamu bisa membuat aku seperti ini." ucap Elang bangga dengan sepupunya itu. Dia mengusap sepupunya agar bisa tenang.
Tidak lama kemudian, polisi datang menangkap mama Nadia. Polisi juga menangkap papa Mawar di rumahnya. Papa Mawar tidak menyangka bahwa rahasianya bisa di bongkar oleh Elang. Dia begitu kesal kepada selingkuhannya.
Setelah papa mawar di tahan,mama Mawar meminta cerai kepada papanya. Dia tidak menyangka suaminya mengkhianati dirinya. Mama Mawar pergi menghilang membawa Mawar untuk pergi jauh.