
"Ayo turun." ajak Elang.
Alin turun dari mobil dengan bingung. Dia tidak tahu apa tujuan lelaki itu membawanya ke pusat pembelanjaan.
Sejak tadi Alin bertanya namun tidak mendapat jawaban apapun. Akhirnya dia hanya berjalan mengikuti langkah kaki Elang.
"Cepat dong." panggil Elang.
"Ini sudah paling cepat tau." jawab Alin dengan kesal.
Elang berjalan meninggalkan Alin sambil tersenyum. Membuat wanita itu kesal adalah hal yang menyenangkan bagi Elang.
Alin melihat Elang berhenti di depan bioskop. Dia tau bahwa lelaki ini membawanya nonton.
"Ngajak nonton aja gengsinya minta ampun." gumam Alin.
Dia berdiri di belakang Elang yang sedang membeli tiket. Alin bingung kenapa lelaki itu memilih film romantis.
"Bukannya lelaki sukanya film action? kenapa dia malah pilih film dia lelaki ku." ucap Alin bertanya dalam hatinya.
Elang menggenggam tangan Alin setelah mendapatkan tiketnya. Alin merasa canggung karena mereka berada di tempat umum. Apalagi mereka memakai rok atau celana sekolah dengan atasan jaket.
"Malu Lang di depan umum ini." jawab Alin.
"Jadi jika nggak didepan umum mau?" tanya Elang membuat Alin malu.
"Bukan gitu juga kali, udah ah lepas." jawab Alin mencoba melepaskan tangan elang dari tangannya.
"Kita duduk di sini nunggu." ucap Elang duduk di sebuah kursi dan menarik Alin agar duduk di sebelahnya.
Tiba-tiba ponsel Alin berbunyi. Dia mengeluarkan misalnya dari tasnya. Alin melihat nama Nori tertera di layar ponselnya.
"Nggak usah di angkat, ganggu aja dia." ucap Elang nampak tidak suka ketika melihat Nori menghubungi Alin.
"Mana tau penting." jawab Alin tetap mengangkat panggilan dari Nori.
"Halo RI, ada apa?"
"Kamu di mana? aku sudah di depan sekolah kamu, tapi udah sepi aja nih."
Alin baru ingat bahwa hari ini dia jadwal membimbing Naomi. Dia benar-benar lupa dengan jadwalnya.
"Aku... aku lagi..."
"Kamu tidak dah pulang?"
"Iya, aku lupa." jawab Alin dengan tidak enak hati.
"Apa aku jemput saja kamu kerumah? aku takut Naomi menunggu kamu di rumah." ucap Nori.
Elang yang mendengar pembicaraan mereka menjadi kesal sendiri. Dia merebut ponsel Alin dari tangannya.
"Alin lagi sama aku, kamu mau nonton, bisa nggak untuk tidak menggangu dengan menjual nama adikmu." ucap Elang membuat Alin dengan cepat merebut ponselnya lagi. Namun bukan Elang namanya jika dia tidak bisa mengendalikan Alin.
"Jika kamu nggak diam, aku cium kamu di sini." ancam Elang membuat Alin semakin kesal.
Elang mematikan ponselnya Alin lalu memasukkan kedalam sakunya.
"Hey jangan sesuka hatimu, aku ini sudah janji dengan Nori bahwa akan datang membantu adiknya."
"Bisa lain kali, kamu juga janji mau Nemani aku."
"Kapan aku janjinya?".tanya Alin merasa bingung. Perasaan dia hanya mengikuti Elang tanpa menjanjikan apa-apa.
"Kamu tidak bisa begitu Lang, aku harus kerumah Nori, aku tidak mau adiknya Nori kecewa,"
"Kenapa kamu begitu takut dia kecewa dengan kamu?" tanya Elang.
"Karena kamu tidak akan mengerti, aku tidak bisa menjelaskan kepada kamu sekarang, yang jelas itu bagian dari tanggung jawab aku yang telah bersedia membantunya." jawab Alin.
"Baik, tapi aku yang mengantarkan kamu ke sana."
"Buat apa? kamu jangan Ngada - Ngada seolah aku ini pacar kamu." jawab Alin tidak terima.
"Itu konsekuensinya karena kamu tidak jadi menemani aku nonton."
"Hari Minggu aku temani nonton, kan kita juga akan liburan." jawab Alin menyakinkan Elang.
"Aku juga mau membantu adiknya Nori demi kemanusiaan."
Elang tidak tahu lagi harus menjawab apa. Dia berdiri membawa Alin menuju keluar dari ruang depan bioskop.
"Ayo aku antar kamu."
"Kamu nggak usah ikut."
"Aku hanya mengantar kamu sampai sana, jangan lupa hari Minggu kamu harus temani aku sesuai janjimu." ucap Elang.
Elang mengantarkan Alin menuju rumah Nori. Setelah sampai Alin turun dari mobil Elang.
"Terima kasih."
"Masuk sana." usir Elang.
Ketika baru sampai di pintu gerbang, tiba - Alin kaget saat melihat Nori menggendong Naomi ke mobil. Di sana juga nampak mamanya Nori.
Mobil melaju melewati pagar rumah tanpa berhenti. Yang ada hanya kepanikan semua yang ada di mobil.
Alin berlari menuju mobil Elang. Dia masuk dengan cepat.
"Ikutin mereka." ucap Alin memerintah.
"Ada apa?" tanya Elang bingung.
"Sepertinya Naomi Kritis, ayo ikuti mereka, please." ucap Alin mencoba memohon kepada Elang.
Melihat Alin yang memohon membuat Elang memacu mobilnya untuk mengikuti mobil Nori.
"Kamu sepertinya perhatian sekali dengan adik Nori."
"Ada suatu hal yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun sekarang
" jawab Alin fokus pada mobil Nori didepan mereka.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dan mobil berbelok masuk ke rumah sakit terdekat.
Nori nampak menggendong adiknya menuju brankar yang ada menanti. Naomi dibawa ke ruang ICU.
"Dokter akan menangani pasien, kalian tidak boleh masuk." ucap Perawat.
"Tolong selamatkan anak saya dok." ucap mama Nori dengan menangis.
"Nori kenapa dengan Naomi?" tanya Alin yang baru saja sampai di depan ruang ICU.
Mama Nori nampak melihat Ali dengan wajah penuh emosi. Dia melihat wanita itu dengan penuh kebencian.
"Semua karena kamu, kamu telah membuat anak saya begini." ucap mamanya Nori sambil berusaha menyerang Alin.
"Ma sabar." ucap Nori mencoba menahan mamanya.
Sedangkan Elang sudah siap melindungi Alin dari serangan mama Nori.
"Jika terjadi apa-apa dengan Naomi saya akan membuat kamu menyesal, jangan pernah kamu bawa wanita ini kerumah lagi." ucap mamanya benar - benar emosi.
"Ma jangan salahkan Alin." ucap Nori.
"Kamu lebih membela dia daripada mama, jika bukan karena dia maka Naomi tidak Kenapa - Napa, semua karena dia tidak menepati janjinya kepada Naomi." ucap mamanya memberontak ingin lepas dari Nori dan ingin menjambak wanita itu.
"Elang tolong bawa Alin dari sini." ucap Nori.
Elang menarik tangan Alin meninggalkan Nori dan mamanya. Alin nampak menangis mengikuti langkah kaki Elang. Dia syok dengan ucapan wanita yang notabenenya mama Nori.
Mobil hanya diam di tempat karena Alin masih saja menangis. Dia tidak tega melihat wanita itu menangis apalagi di salahkan seperti tadi oleh mama Nori.
"Sudahlah, nanti aku di anggap orang menghamili kamu jika kamu tidak berhenti menangis." ucap Elang mendapatkan tatapan tajam dari Alin.
"Eh malah Mandang aku kayak gitu." ucap Elang mengusap wajah Alin dengan tangan kirinya.
"Kamu nggak tau rasanya bagaimana orang yang kita sayang membenci kita."
"Tau."
"Kamu itu terlahir sempurna, kamu tidak tau rasanya hanya hidup hanya dengan nenek."
"Siapa bilang? aku di besarkan oleh papaku, tapi papaku hanya sibuk berbisnis, aku selalu di tinggal dengan asisten rumah tangga, di saat anak-anak lain liburan dengan orang tuanya, aku hanya diam di rumah." ucap Elang membuat Alin tidak percaya.
Alin menganggap bahwa lelaki itu lahir dengan kesempurnaan. Ternyata di balik kesempurnaannya terselip cerita pedih.