Alinshy

Alinshy
Bab 23



Aldi sudah mengalahkan egonya demi keutuhan keluarganya. Dia akhirnya memaafkan Indri dengan syarat Indri harus meminta maaf kepada orangtuanya dan anaknya. Dan Indri menyetujui permintaan suaminya.


Nori dan Kenzu senang melihat mama dan papanya tidak jadi berpisah. Mereka bangga dengan kedua orang tuanya yang tidak mementingkan ego masing-masing.


Sedangkan Alin semenjak masuk sekolah semester baru,ia sudah tidak menemukan keberadaan Elang. Dia sudah tidak melihat Elang di sekolah.


Sudah beberapa Minggu Alin tidak juga melihat Elang. Alin tidak enak untuk bertanya kepada siapapun.


Hari berlalu demi hari. Elang juga belum juga menampakkan batang hidungnya di sekolah.


"Cari Elang?" Terdengar suara wanita di belakang Alin.


Alin menoleh ke belakang dan dia menemukan Nadia di belakangnya. Alin tidak menjawab pertanyaan Nadia. Dia malas meladeni Nadia saat ini.


"Kamu tidak akan menemukan Elang lagi, Karena dia sudah tidak sekolah lagi di sini." ucap Nadia.


Alin kaget mendengar ucapan dari Nadia. Dia benar-benar kehilangan teman yang peduli dengannya.


"Terima kasih atas infonya." ucapnya Alin kepada Nadia.


"Apa ada pesan?"


"Tidak ada." jawab Alin.


Alin kembali berjalan menuju kelasnya.


Semenjak tidak ada Elang di sekolah,mawar juga tidak pernah nampak. Menurut rumor yang beredar, mereka akan bertunangan. Menurut rumor yang beredar mereka memang mengikuti home schooling sesuai keinginan Elang.


Dan semenjak itu juga Alin juga tidak punya teman. Dia sering menghabiskan waktunya sendiri.


...****************...


7 tahun kemudian.


Alin baru saja sampai di sebuah rumah sakit. Alin sudah menjadi seorang dokter seperti apa yang ia cita - citakan. Alin sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta terkenal di kotanya.


"Selamat pagi dokter Alin." ucap dokter Gibran menegur Alin di parkiran rumah sakit.


"Pagi dok."


"Makin cantik aja nampaknya." ucap dokter Gibran sambil tersenyum kepada Alin.


"Makasih dok, tapi saya nggak ada uang kecil." jawab Alin.


Alin dan dokter Gibran memang sudah dekat sejak mereka bekerja bersama.


Alin adalah seorang dokter anak sedangkan Gibran adalah dokter THT. Alin tau bahwa dokter Gibran menyukainya. Akan tetapi di hati Alin hanya ada lelaki yang bahkan ia tidak tau dimana keberadaannya.


"Duh pagi - pagi udah barengan aja, memang pertanda jodoh."ucap Dinda yang merupakan juga dokter anak.


"Ngomong apaan sih Din." ucap Alin kesal dengan Dinda yang tiba - tiba celetuk tidak jelas di pagi hari.


Gibran tau bahwa ia tidak ada di hati Alin. Namun ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hati Alin.


"Saya duluan ya." ucap Gibran berjalan berbeda arah dengan dua wanita itu.


Gibran merasa senang pagi ini namun berbeda dengan yang tidak menyimpan rasa kepada Gibran. Banyak yang mendoakan mereka agar berjodoh karena di nilai serasi.


"Lin katanya pagi ini ada anak direktur kita yang akan mengadakan pemeriksaan, kamu aja yang memeriksanya ya."


"Anak direktur? masa dia nggak punya dokter pribadi."


"Mungkin untuk menguji kita aja kali, untuk meyakinkan bahwa dia tidak salah membeli rumah sakit ini."


"Tentulah, malah untung dia membeli rumah sakit ini, orang terkenal dan ternama di kota ini.." jawab Alin.


"Akan tetapi bos kita yang baru itu sebenarnya kaya raya banget, kabarnya dia itu pemilik bisnis terbesar." ucap Dinda.


"Ohw biasa aja, orang kaya mana pernah puas, jika bisa semua di bisniskan." jawab Alin.


"Kamu yang memeriksa anaknya ya Lin." ucap Dinda memohon.


"Iya."


Alin mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar terlihat berkompeten. Dia tidak ingin terkesan bekerja asal - asalan.


"Tok tok, dok mereka sudah sampai." ucap perawat membuka pintu setelah selesai bicara.


Alin segera berlari dari kursinya untuk menyambut bosnya. Saat melihat seseorang sedang menggendong anak dengan gagahnya membuat Alin tampak kaget. Ia nampak syok ketika pertama kali bertemu dengan lelaki itu.


"Mana dokter yang akan menangani Eiden?" tanya lelaki itu dengan suara maskulinnya.


"Ini dokter Alin." jawab Perawat.


Keduanya nampak saling kaget. Alin melihat bagaimana menegangkannya wajah Elang yang berdiri di depannya.


"Ternyata dia udah punya anak, percuma menunggu dia." ucap Alin dalam hatinya.


"Baik, silahkan periksa Eiden, awas saja jika kamu melakukan kesalahan." ucap Lelaki itu untuk mengatasi semua kecanggungannya.


"Baik pak." jawab Alin.


"Hay anak tampan, kenalkan namaku dokter Alin, kalau boleh tau nama kamu siapa" tanya mengulurkan tangannya kepada Eiden.


Awalnya Eiden hanya diam tidak menanggapi ucapan dokter wanita yang berada tidak jauh darinya.


"Tidak mau berteman dengan aku" tanya Alin.


"Baik, karena kamu cantik." jawab Eiden tersenyum menyambut uluran tangan Alin.


"Baik, bolehkan saya memeriksa anda terlebih dahulu jagoan?"


"Kenapa saya harus di periksa? saya kan sehat." jawab Eiden yang sudah duduk di ranjang yang ad ada di ruang Alin


"Pemerikasaan bukan hanya sedang sakit, pernah mendengar pepatah," sedia payung sebelum hujan."


"Iya, guru juga sering menyebutkan." jawab Eiden.


"Bagus kesehatan kamu."


"Tentu saja Tante." jawab Eiden tersenyum.


Elang hanya berdiam berdiri bersama pengawalnya. Dia melihat betapa keakraban yang di bangun oleh Eiden dan Alin.


"Sudah, semua baik - baik saja pak." ucap Alin berbaha formal kepada Elang.


"Baik terima kasih, setiap bulan kamu harus datang kerumah untuk memeriksa Eiden."


"Saya?"


"Iya kamu Alinshy."


Tiba-tiba jantung Alin berdebar kencang mendengar namanya di panggil seperti itu oleh Elang.


"Ternyata kamu masih ingat saya." ucap Alin tersenyum.


"Tentu saja, siswa yang paling legent pada Zamannya." ucap Elang.


"Maksudnya apa?" tanya Alin.


"Hanya kamu siswa yang tidak punya teman di sekolah." ucap Elang tersenyum mengejek.


"Ohw ternyata masih ada yang unik dari saya sehingga kamu gampang dalam mengingat saya


" balas Alin yang tidak kalah sengit.


"Minggu depan ada undangan reuni, datang ya." ucap Elang.


"Jika saya punya waktu, karena saya sibuk bekerja." jawab Alin malas.


Sudah tujuh tahun ia meninggalkan sekolah. Alin sama sekali tidak ingin kembali bertemu dengan teman - teman satu angkatannya.


"Kamu bisa datang dengan saya dan mawar jika kamu tidak punya teman, dan saya rasa mawar tidak akan keberatan."


Mendengar nama Mawar di sebutkan membuat Alin semakin malas untuk pergi ke acara reuni itu. Acara yang pastinya akan menjadi ajang pamer.