
Alin masuk ke dalam rumah Nori. Alin melihat betapa megahnya beberapa ruangan yang ia lewati.
Di beberapa tempat ada beberapa foto keluarga yang di pasang. Di sana nampak sebuah keluarga yang sangat harmonis.
Nori membawanya masuk ke dalam kamar adiknya. Adiknya di rawat dalam rumah beberapa saat. Keluarga juga menyediakan beberapa perawat untuk jaga-jaga.
"Naomi." panggil Nori sambil tersenyum melihat adiknya yang sedang menggambar di kamar bersama seorang perawatnya.
"Kakak sudah pulang." ucap anak berumur 10 tahun itu dengan senang.
"Coba liat kakak bawa siapa? kakak bawa kak Alin yang akan membantu kamu belajar di rumah." ucap Nori dengan senang.
"Benaran kak?" tanya Naomi merasa tidak percaya.
"Iya sayang, mana mungkin kakak akan membohongi kamu." jawab Nori duduk di sebelah kanan Naomi. Sedangkan Alin duduk tidak jauh dari mereka.
"Asyik akhirnya ada yang membantu Omi belajar." ucap Naomi dengan senang.
"Tetapi Naomi janji akan lebih sering beristirahat, Naomi nggak boleh terlalu lelah." ucap Nori memberi nasihat.
"Iya kakak."
"Mama kemana?" tanya Nori kepada adiknya itu.
"Mama ada di kamarnya, omi senang hati ini kak karena papa akan pulang hari ini dari perjalan bisnis."
"Bagus, semangat untuk sembuh ya sayang."
"Kak belajarnya kapan - kapan aja ya, Omi rasanya ngantuk banget, pengen tidur." ucap Naomi merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, kak Alin bisa kapan saja datang ke sini untuk membantu Naomi mengerjakan tugas, benarkan kak Alin?" tanya Nori kepada Alin.
"Iya sayang, jika ngantuk tidur saja biar banyak istirahat." jawab Alin sambil tersenyum.
"Kak Alin baik banget, makasih kak Alin." ucap Naomi.
"Sama - sama sayang."
"Jika begitu Naomi tidur dulu ya, biar kakak usap." ucap Nori membantu adiknya untuk tidur.
Hati Alin terenyuh melihat sikap Nori kepada adiknya. Sejelek apapun lelaki itu di mata orang akan tetapi Alin melihat sisi baik dari lelaki itu.
Tidak sampai 15 menit akhirnya Naomi tertidur. Nori akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Dia berpikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengantar Alin pulang.
"Sus tolong jaga adik saya, bentar lagi pasti mama saya bakalan datang." ucap Nori.
"Iya tuan, ini memang tugas saya."
Nori beranjak dari tempatnya lalu keluar dari kamar Naomi bersama Alin. Kamar Naomi berada di lantai satu bersebelahan dengan kamar orang tua mereka.
"Kamu sudah pulang sayang?" tanya wanita cantik ketika berpapasan dengan mereka.
"Iya ma, kenalin ini Alin ma, teman aku yang akan membantu Naomi belajar." ucap Nori memperkenalkan Alin kepada mamanya.
Wanita cantik itu nampak sedikit tertegun melihat Alin. Namun dengan cepat ia tersenyum kembali.
"Makasih ya telah mau membantu Naomi." ucap wanita itu dengan tersenyum ramah.
"Sama - sama Tan, saya tidak akan sanggup menolak permintaan Nori karena dia juga begitu baik sama saya Tan." jawab Alin membuat Nori nampak malu.
"Kamu bisa aja Lin mujinya." jawab Nori.
"Memang kamu juga baik."
"Bagus jika ada yang memujinya, biasa dia selalu jelek aja citranya di luar sana." jawab mamanya sambil tersenyum.
"Maaaa jangan mempermalukan aku seperti ini." ucap Nori memeluk mamanya.
Alin tersenyum melihat kedekatan Nori dengan mamanya. Lelaki itu nampak sangat menyayangi keluarganya.
"Ma aku antar Alin dulu ya."
"Iya, lansung antar pulang, jangan di bawa kemana-mana." nasehat mamanya.
"Enggak ma."
Mereka meninggalkan mamanya yang masih terdiam mematung. Mamanya Nori nampak menatap punggung Alin dari jauh.
"Kenapa wajah anak itu seperti mengingatkan aku kepada seseorang, ah tapi nggak mungkin." ucap mamanya mencoba menenangkan hati pikirannya.
Mama Nori berjalan menuju kamar Naomi untuk menemani sang anak. Dia hampir 24 jam bersama dengan anak ketiganya itu.
Anak keduanya sudah duduk di bangku SMP. Saat ini dipastikan bahwa anaknya sedang les sepulang sekolah.
Ketika Nori dan Alin sedang berada di halaman rumah, tiba - tiba sebuah mobil masuk. Nori dan Alin termangu melihat mobil masuk. Nori tau bahwa itu adalah papanya.
Nori berjalan mendekati mobil papanya. Dia berniat menyapa papanya. Ketika papanya turun Nori langsung menyalami lelaki yang baru saja turun dari mobilnya.
Sekali lagi Nori berhasil membuat hati Alin terenyuh. Nori ternyata memang begitu menghormati keluarganya.
"Selamat datang pa, aku sekalian mau pamit antar teman." ucap Nori berpamitan.
"Teman apa teman?"
"Teman pa, dia Alin yang akan membantu Naomi belajar di rumah." ucap Nori.
"Terima kasih Alin, Naomi memang susah dekat dengan orang baru, semoga dia bisa dekat dengan kamu." ucap papanya.
Papa Nori tidak pernah menuntut prestasi anak bungsunya itu. Melihat anaknya tidak kesakitan saja sudah membuat aku hanya senang. Akan tetapi anaknya Naomi sangat menyukai belajar. Papanya juga sudah mencarikan guru les. Akan tetapi Naomi tidak pernah menyukai pilihan papanya.
Ketika Nori dan Alin naik mobil, Papanya Nori tertegun sebentar. Dia merasa pernah melihat Alin, namun ia tidak ingat di mana.
"Wajahnya seperti sangat familiar." ucap papanya lalu melangkah kaki masuk kedalam rumah.
Alin sesekali melihat ke arah Nori. Benar kata orang, seburuk-buruk manusia pasti ada sisi baiknya.
Nori menyadari bahwa Alin meliriknya.
"Kenapa kamu melirik aku? hati - hati biasa yang melirik aku diam - diam akan timbul rasa suka."
"Nggak mungkin."
"Liat aja nanti, pesonaku ini berbahaya, makanya para wanita pada mengantri menyerahkan dirinya kepadaku."
"Trus kamu bangga dengan semua itu?"
"nggak juga sih, namun itu faktanya."
"Saran aku mending kamu berubah."
"Kenapa? apa kamu tertarik menjadi pacar aku, sehingga aku akan berubah."
"Berubah bukan karena orang lain, tapi karena diri sendiri."
"Aku belum siap melepaskan masa mudaku, aku hanya ingin menikmati masa muda."
"Kamu harusnya fokus kepada kesembuhan adik kamu ri."
"Aku sama mereka memang main - main aja, jadi jangan bawa - bawa adik aku Lin."Nori agak tersinggung dengan ucapan Alin yang membawa adiknya.
"Adikku tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka sendiri yang mau jadi pacar aku, aku ini lelaki normal, kecuali aku jatuh hati kepada wanita seperti kamu, maka aku yakin akan berubah."
"Bukannya kamu jatuh hati kepadamu?" tanya Alin dengan percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri, hahahha." ucap Nori tertawa.
"Iya aku jatuh hati kepada kamu, coba aku bertemu kamu lebih dulu, maka aku tidak akan playboy, tapi aku tau aku tidak layak untuk kamu." ucap Nori dalam hatinya.
"Tapi orang bilang kamu nampak seperti menyukai aku."
"Kan kata orang, kenapa harus di percaya, aku juga tau bahwa kamu menyukai si Elang yang dingin itu."
"Mana ada." jawab Alin dengan cepat.
"Kamu bisa membohongi yang lain tapi tidak dengan aku." ucap Nori tersenyum.
"Apa yang kamu suka dari Elang yang arogan itu? perasaan jauh lebih baik aku kemana - mana."
"Memuji diri sendiri." cibir Alin.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang berlantai dua. Walaupun rumah itu berlantai dua namun nampak biasa bagi Nori. Rumah itu tidak sepadan dengan rumahnya.
"Makasih ya Lin sudah membantu Naomi, Naomi di vonis dokter hidupnya tidak lama lagi, makanya apapun yang dia mau akan aku kabulkan." ucap Nori.
"Semoga ada keajaiban,apapun kata dokter tetap Allah lah yang menentukan, semangat Nori." ucap Alin menyemangati Nori.
"Besok aku kabari kapan aja kerumah, sepertinya dua kali seminggu aja biar Naomi juga nggak kecapean." ucap Nori.
"Siap bos." ucap Ali sambil tersenyum mengejek.
"Baik, bekerjalah dengan baik, maka aku akan memberikan gaji yang sesuai." ucap Nori sambil tertawa lucu.
"Gaji aku dengan uang yang banyak, awas aja tanggung-tanggung, dan harus memakai uang kamu sendiri." ucap Alin mencoba mengejek Nori yang ia yakin hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya.