
"Aku memergoki mamaku membawa lelaki ke rumah." ucap Elang membuat Alin lansung menghadap Elang.
Dia kaget saat mendengar pengakuan Elang. Dia merasa hidup Elang di kelilingi oleh cinta. Akan tetapi hidup lelaki ini hampir sama dengannya. Setidaknya dia lebih beruntung mendapatkan kasih sayang penuh dari seorang neneknya.
"Aku ikut prihatin." ucap Alin.
Elang sebenarnya tidak suka dikasihani. Namun untuk kali ini dia lupa untuk hal itu. Pikirannya hanya fokus kepada masalah Alin.
"Kamu dan mama Nori ada kemiripan." ucap Elang membuat Alin makin kaget dengan analisis lelaki itu.
"Kamu kenapa berpikir seperti itu?"
"Entahlah, namun feeling aku mengatakan bahwa wanita itu ibu kamu, tapi itu tidak akan mungkin, anggap saja pemikiranku ngawur."
"Tapi kamu benar." alin nampak membuka tasnya.
"Kamu liat foto ini." ucap Alin menyerah sebuah foto yang di ambil dari dalam tasnya.
"Aku juga kaget awal kerumah Nori, sampai di rumah aku memastikan lagi bahwa wanita itu sama dengan yang di foto itu, namun hasilnya sama, itulah salah satu alasan aku mau membantu Naomi, Naomi adik aku." ucap Alin tiba - tiba menangis.
"Sudah aku prediksi." ucap Elang.
Alin hanya diam mendengarkan ungkapan Elang. Pikirannya melayang kepada Naomi yang sedang kritis.
"Apakah aku masih punya kesempatan untuk bertemu Naomi? aku takut tidak bisa bertemu Naomi lagi." ucap Alin.
"Tenang, kamu pasti akan bertemu Naomi, dan Naomi akan tau bahwa kamu juga kakaknya." ucap Elang menghibur Alin.
"Elang apakah aku begitu menyedihkan?" tanya Alin menatap Elang.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Elang.
"Aku ini tidak punya teman, semua orang menjauhi aku, ibuku juga meninggalkan aku, lalu papaku menikah lagi dengan seorang wanita dan tinggal di luar kota juga meninggalkan aku, tidak ada yang tulus untuk aku Elang." ucap Alin tidak ia sadari air matanya menetes lagi.
Entah kenapa baru kali ini Elang melihat gadis itu begitu rapuh. Biasa ia selalu tegar menghadapi masalah yang di sekolah. Termasuk melawan dirinya.
"Tidak ada satupun yang mau bersama aku kecuali Naomi, tapi dia lagi kritis, aku menyedihkan bukan?"
"Semua orang mempunyai ujian masing-masing, tidak ada yang sama, lalu apa bedanya dengan aku yang juga hampir sama dengan kamu?"
"Setidaknya kamu masih ada papa kamu yang masih sendiri, dia begitu peduli dengan kamu sampai mau menyendiri, dan kamu juga punya banyak fans."
"Apa gunanya fans? mereka hanya mau karena aku kata raya saja, jika tidak siapalah aku." ucap Elang dengan wajah jengah.
"Tapi...."
"Nggak ada tapi - tapinya, tetap saja mereka tidak mengidolakan aku apa adanya, tapi ada apanya..."
"Kriuk kriuk." Elang lansung terdiam saat mendengar ada suara yang tidak aneh dari anggota tubuh Alin.
"Nampaknya mereka kelaparan." ucap Alin dengan wajah nyengir.
Elang menyadari bahwa setelah pulang sekolah dia lupa mengajak Alin untuk makan siang.
"Maaf harusnya sebelum nonton kita makan siang dulu tadi." ucap Elang baru menyadari bahwa ia pun belum makan siang.
"Mari kita mencari makan dan hapus air matamu itu, aku tidak mau di tuduh orang lelaki yang menghamili kamu."
"Kenapa selalu kesitu arah pembicaraannya?" tanya Alin sewot dengan Elang.
"Kan biasa gitu, wanita datang nangis - nangis karena dihamili oleh lelaki itu." ucap Elang.
Elang melajukan mobilnya sambil tersenyum. Alin terpesona dengan senyum lelaki itu. Dalam beberapa jam ini dia lebih sering melihat Elang tersenyum.
"Kamu manis tersenyum, kenapa harus memasang wajah dingin terus."
Elang memang suka jika di puji begitu oleh Alin. Akan tetapi dia hanya tidak ingin wanita itu memujinya terlebih dahulu.
"Wajah dingin aja banyak yang naksir apalagi senyum, ribet nanti." ucap Elang fokus menyetir.
"Kenapa dia jadi sok begini." gumam Alin kesal sendiri telah memuji lelaki itu.
Mobil Elang berhenti disebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Elang turun dan di ikuti oleh Alin.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keduanya. Dia adalah Giska mamanya Elang.
"Siapa wanita itu? bukannya Elang pacaran sama Mawar?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Wanita itu mengikuti Elang masuk kedalam restoran. Dia duduk tidak jauh dari meja Elang.
Mama Elang juga memotret Mereka diam - diam. Dia agak kesal ketika melihat kebersamaan anaknya dengan wanita yang tidak tau asal - usulnya.
Giska mengirimkan foto yang tadi di ambilnya. Lalu mengirimkan kepada Mawar. Giska dan Mawar memang sudah dekat.
[Mawar apakah kamu kenal wanita yang bersama Elang? Tante melihatnya sedang makan siang]
Tidak perlu lama menunggu, pesan Giska sudah di balas oleh Mawar.
[Kok bisa Elang sama wanita itu Tan? dia gadis miskin yang memanfaatkan kekayaan lelaki Tan, takutnya dia memanfaatkan Elang Tante]
Giska kesal setelah membaca balasan dari Mawar. Dia berjanji tidak akan membiarkan anaknya jatuh ke dalam pelukan gadis seperti itu.
...****************...
Nori nampak memeluk mamanya. Dia tau bahwa mamanya sedang lemas. Nori merasa wajar jika mamanya menyalahkan Alin. Naomi begini karena kecewa Alin tidak datang menepati janjinya.
Nori juga kaget ketika pertama kali Naomi bisa dekat dengan Alin. Padahal Naomi adalah tipe yang susah dekat dengan orang lain.
"Gimana Naomi ma?" mama Nori langsung menoleh ketika mendengar suara suaminya.
"Pa." ucap wanita itu langsung memeluk suaminya sambil menangis.
"Tante yang tenang, Naomi pasti akan baik - baik saja Tan." terdengar suara Nadia yang berdiri di samping kanan papa Nori.
Nadia memang datang berbarengan dengan papa Nori dan adik kedua Nori. Mereka bertemu karena papanya Nori sedang berkunjung ke kantor papanya. Nadia yang baru pulang sekolah lansung pergi kekantor papanya untuk meminta uang belanja karena kartu kreditnya di bekukan oleh papanya.
Dan saat mendengar berita sakitnya Naomi membuat Nadia merasa punya kesempatan untuk ikut ke rumah sakit. Dia yakin pasti Nori ada di sana.
"Kamu yang sabar ya Nori." ucap Nadia memegang pundak Nori.
Jika tidak ada papa dan mamanya maka Nori akan menghempaskan tangan wanita itu. Wanita yang membuatnya muak melihatnya. Dia lebih memilih wanita yang pernah menjadi mantan - mantannya.
"Ini sebenarnya ada apa? kenapa bisa sakitnya kambuh lagi Tan?" tanya Nadia duduk di sebelah mama Nori.
"Semua karena gadis bernama Alin itu, pokoknya mama nggak mau kamu dekat dengan gadis itu lagi." ucap mama Nori.
"Ma jangan menyalahkan orang lain, Naomi begitu karena dia memang sedang sakit, ada atau tidaknya Alin tetap Naomi akan mengalami hal seperti ini."
"Tapi pas akhir - akhir ini Naomi lebih bugar, wanita itu memang Sial pa, pokoknya mama nggak mau dia kerumah lagi dan kamu Nori jauhi gadis seperti itu." ucap mamanya.
"Iya ma." Nori tidak mau mendebat mamanya saat seperti ini. Dia tau bahwa mamanya belum stabil ketika melihat adiknya kritis. Dia tau bahwa mamanya adalah tipe wanita yang baik dan lembut.