Alinshy

Alinshy
Bab 24



Alin hanya diam berdiam diri sejak kedatangannya di acara pertemuan alumni. Sejak lulus sekolah dia tidak pernah menghadiri apapun acara alumni.


Hari ini Alin terpaksa ikut karena rasa penasarannya.


Sudah lama ia tidak bertemu dengan Elang. Dia hanya ingin melihat lelaki itu walaupun lelaki itu sudah menjadi suami orang lain.


Alin duduk sendiri karena tidak ada yang menyapanya. Tidak ada bedanya hari ini dengan yang lalu, walaupun ia sudah menjadi orang sukses, akan tetapi di mata teman - temanya ia tetaplah Alin yang miskin.


Rima melihat kedatangan Alin bersama dengan cahaya. Rima sampai saat ini sangat membenci Alin. Walaupun Alin tidak berhasil mendapatkan Elang, tapi rasa benci itu tetap ada. Sedangkan Cahaya hanya ikut - ikutan Rima.


"Liat deh ya, si Alin tumben - tumbenan dia datang ke acara alumni." ucap Rima dengan nada mengejek.


"Mungkin karena dia merasa udah jadi dokter trus merasa selevel dengan kita semua." ucap Cahaya.


"Sampai kapanpun dia akan tetap kampungan."


"Im bisa jadi dia datang karena tau info Elang pulang dan akan ikut bergabung acara ini." ucap Cahaya memanasi Rima.


"Memang nggak tau diri itu anak, lagian mana bisa dia menggatal lagi, secara Elang pasti berbarengan dengan si mawar itu." ucap Rima.


"Kamu nggak mau coba gitu menarik perhatian Elang? mawar itu sama aja dengan Alin, kegatelan, dia mentang - mentang sahabat kecilnya Elang aja."


"Iya, sebaiknya aku singkirkan si Mawar itu dari Elang, tapi bagaimana caranya?" tanya Rima bingung.


Tiba-tiba Cahaya membisikkan sesuatu ke telinga Rima. Rima tersenyum mendengar bisikan dari cahaya.


"Ide kamu bagus, kamu memang sahabat terbaik aku." ucap Rima memeluk Cahaya.


Setelah berpelukan mereka tidak ingin membuang kesempatan semenit pun. Mereka berjalan menghampiri meja Alin untuk maksud mempermalukannya.


"Hey teman lama, apa kabar?" ucap Rima dengan senyuman ramah.


"Baik, kalian apa kabar?" jawab Alin juga tersenyum. Alin juga agak kaget ketika Rima dan Cahaya menegurnya.


"Mungkin mereka sudah berubah, toh mereka juga tau Elang sudah menikah." ucap Alin dalam hatinya.


"Baik dong, jadi apa tujuannya kamu datang ke sini? apakah hanya untuk melihat Elang Maheswara?" tanya Cahaya tersenyum mengejek.


"Tidak seperti itu, aku hanya kangen dengan teman-teman." jawab Alin berusaha bersikap tenang.


"Teman yang mana? memang sewaktu sekolah ada yang mau berteman dengan kamu?" tanya Rima tersenyum mengejek.


"Teman - Teman sini semua, ada yang mengenal wanita yang duduk di sini?" tanya Cahaya sambil berteriak.


Banyak dari mereka yang menggelengkan kepalanya. Ada juga yang menertawakannya.


"Ternyata walaupun sukses tetap aja dia katro ya." ucap seseorang wanita.


"Iya, produk wanita miskin itu mau sukses tetap aja Alan jadi katro."


"Tapi tumben dia ikut ke sini ya?"


"Biasa cari muka sama Elang." jawab Rima tertawa.


Yang lain juga ikut tertawa karena mendengar ucapan Rima. Sedangkan Alin hanya diam seperti biasa karena perkataan mereka hanya biasa bagi Alin.


"Wanita macam kamu mau Elang? bahkan jika aku saja tidak selera melihat kamu." ucap salah seorang lelaki.


Jika di bandingkan dengan wanita yang ada di sana, pakaian Alin memang biasa. Tidak seperti gaun yang di gunakan wanita pada umumnya.


"Alin kalau kamu nggak mampu beli kaca, besok aku kasih kado khusus untuk kamu, agar kamu bisa berkaca." ucap Cahaya.


"Udah?" tanya Alin.


"Jika belum memang kenapa?" tanya Rima.


"Nggak ada sih, aku mau muntah aja dengan kalian bicara di sini, solnya nafasnya bau semua." ucap Alin menutup lubang hidungnya.


Melihat Alin yang menutupi hidungnya membuat semua yang berada di sekelilingnya menjadi emosi. Mereka lansung mendorong Alin bersama - sama. Sedangkan Rima dan Cahaya hanya tersenyum melihat semua itu.


"Ada apa ini?" terdengar suara seorang wanita di balik kerumunan itu.


Mereka menoleh kebelakang.Mereka malah tersenyum ketika melihat Nadia berdiri tidak jauh dari mereka bersama dengan gengnya.Semua siswa - siswi di sekolah mereka tau bahwa dulu Nadia sangat membenci Alin.


"Nad untung kamu datang, kamu liat Nad si Alin, dia sudah berani datang ke acara reuni hanya untuk mencari perhatian." jawab Rima menghampiri Nadia.


"Emang kenapa jika dia datang?" tanya Nadia dengan wajah tidak bersahabat menatap Rima.


"Kan biasa dia tidak pernah datang, tapi tiba-tiba aja datang karena Elang juga datang, aneh kan?"


"Tidak ada yang aneh, bahkan ada di antara kalian yang datang ke sini karena Elang juga, jadi kenapa begitu di hebohkan,bukan begitu nona Rima?" tanya Nadia kepada Rima.


Rima kaget kepalang karena Nadia bertanya begitu. Dia kaget melihat perubahan sikapnya Nadia kepada Alin.


"Saya harap malam ini tidak ada yang membuat masalah dengan Alin, karena Alin adalah teman saya ." ucapkan Nadia dengan suara lantang.


Semua pada heboh mendengar ucapan Nadia.


"Sejak kapan Nadia berteman dengan Alin? itu kayak nggak mungkin banget." ucap salah satu dari mereka.


"Nadia kan sangat membenci Alin sejak dulu,sejak kapan pula dia baik sama Alin?" bisik dari yang lain.


"Apa Nadia memang sudah berubah?"


Pusing mendengar ucapan orang lain, sehingga Nadia membawa Alin untuk bergabung dengannya. Akan tetapi Alin tetap saja ingin sendiri.


"Kamu ikut aku atau aku yang akan duduk di sini." bisik Nadia di telinga Alin.


"Aku disini aja, kamu sana gih."


"Aku di tugaskan Nori untuk menjaga adiknya yang satu ini, nggak mungkin aku membiarkan calon iparku di ejek mereka." bisik Nadia.


"Tapi....."


"Kamu nggak mau melihat Elang dari dekat? dia duduk di meja sebelah sana." tunjuk Nadia.


"Ah malas, toh dia sama istrinya pun."


"Istri?"


"Iya mawar."


"Ohw Mawar, biarin sajalah ada Mawar, toh dia juga nggak akan macam-macam." jawab Nadia.


Alin akhirnya mau ikut bersama dengan Nadia. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Elang. Semakin dekat dengan Elang semakin kencang debaran yang ada di dadanya.