
Mama Nori sedang menangis histeris mendengar kabar kepergian Naomi. Wanita itu tidak menyangka bahwa anak bungsunya akan pergi secepat itu.
Sedangkan papa Nori mencoba menenangkan istrinya. Dia sudah tau bahwa ini akan terjadi. Dokter sudah pernah mengatakan bahwa umur Naomi tidak akan lama lagi. Dokter hanya bisa mengecilkan tumor yang ada di otaknya karena sudah stadium akhir.
"Pa, Kenapa Naomi begitu cepat meninggalkan kita." tangis mama Nori semakin menjadi.
"Tenang ma, Naomi udah tenang ma, dia udah nggak merasakan sakit lagi." ucap papanya.
Berita kepergian Naomi tersebar dengan cepat. Berita ini juga sampai ke telinga Alin.
Alin yang baru saja sampai di rumah lansung kaget. Dia mendapatkan berita itu dari Elang.
Wanita itu langsung terduduk di lantai sambil menangis histeris. Dia sudah tidak bisa bertemu dengan adiknya lagi.
Neneknya yang mendengar Alin menangis lansung menghampiri wanita itu. Neneknya bingung kenapa cucunya menangis.
"Kamu kenapa Alin?" tanya neneknya.
"Kenapa semua meninggalkan Alin nek?" tanya Alin sambil menangis kepada neneknya.
"Ada apa ini?" tanya neneknya makin bingung.
Alin mengambil foto yang ada di dalam tasnya. Dia memperlihatkan kepada neneknya.
"Aku sudah menemukannya nek." ucap Alin menunjuk wanita yang ada di foto itu.
Nenek Alin kaget ketika cucunya memperlihatkan sebuah foto. Dia adalah anaknya yang telah menghilang beberapa tahun yang lalu.
"Kamu nggak salah orang?" tanya neneknya.
"Tidak nek, tapi ibu sudah bahagia nek, hidupnya berkecukupan." jawab Alin.
"Barusan Alin dapat info bahwa Naomi adik Alin meninggal nek." ucap Alin lagi.
"Ayuk kita ke sana." ucap Nenek Alin dengan semangat.
Alin awalnya ragu untuk ke sana. namun melihat semangat neneknya dia mencoba menghilangkan keraguan itu.
"Jika bukan sekarang, kapan lagi, ini waktu terakhir bisa melihat Naomi.' ucap Alin bersiap - siap untuk pergi.
Alin dan neneknya pergi naik taksi yang di pesan memakai aplikasi online.
Setelah menempuh waktu selama 45 menit akhirnya mereka sampai. Nampak banyak karangan bunga yang tersusun di depan rumah. Nampak banyak pelayat yang datang menghampiri.
"Ibumu kaya raya." ucap neneknya senang melihat anaknya sudah hidup mapan.
Mereka berjalan menuju gerbang rumah Nori. Alin sudah sampai di pintu utama rumah Nori.
Nadia kaget saat melihat Alin berada di tengah kerumunan orang yang melayat. Dia segera menghampiri Alin dengan wajah Gahar.
"Aku perlu bicara dengan kamu." Nadia menarik tangan Alin.
"Apa maksudnya kamu datang kesini ha? kamu mau di usir sama Tante Indri."
"Aku hanya ingin melihat Naomi untuk terakhir kalinya."
"Jangan sok akrab kamu dengan keluarga ini, Tante Indri baik sama kamu karena Naomi saja, dan kamu yang telah membuat Anomi seperti ini, Tante Indri tidak akan memaafkan kamu." ucap Nadia.
"Mati itu takdir Allah nad, Naomi pergi karena kehendak Allah."
"Jangan banyak bicara kamu, pergi kamu dari sini." ucap Nadia mengusir Alin.
"Aku tidak akan pergi, aku akan tetap melihat Nadia, Nori dan keluarganya tidak akan keberatan." jawab Alin.
"Pergi kamu atau...."
"Nadia biarkan Alin di sini, dia bersama aku." tiba-tiba Elang berdiri diantara mereka.
"Tapi Lang..."
"Kamu nggak punya hak mengusir dia, biarkan dia seperti pelayat lain." ucap Elang menarik tangan Alin.
Nadia kesal melihat Elang membela gadis itu. Dia tidak habis pikir dengan sepupunya itu.
Nadia berjalan mendekati mama Nori. Dia membisikkan sesuatu ke mama Nori. Wanita yang bernama Indri itu nampak kaget mendengar bisikan dari Nadia.
Dia mengedarkan pandangannya. Dia semakin kaget ketika melihat wanita tua di sebelah Alin.
"Kenapa mereka ada di sini? ini bisa bahaya untuk masa depanku." ucapnya dalam hati.
Indri semakin membulatkan matanya saat melihat Alin dan neneknya berjalan menghampirinya. Dia tau apa yang akab terjadi.
Indri berjalan dengan cepat mencari petugas keamanan rumahnya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Indri membalikkan badannya. Dia berubah pikiran. Dia tidak ingin mereka berbicara dengan suami atau anaknya.
"Jika aku terlambat, bisa jadi nenek tua itu bicara dengan mas Aldi." ucap Indri menyadari sesuatu hal.
Ketika sudah berada di hadapan sang nenek dan Alin, Indri lansung menarik tangan keduanya.
Nenek tampak bahagia sekali ketika melihat anaknya menghampiri mereka. Apalagi anaknya nampak semakin cantik.
"Indri, Alhamdulillah kamu masih hidup, ini..."
"Jangan banyak bicara di sini." ucap Indri.
"Ma, mau kemana?" tangan Kenzu anak kedua Indri.
"Kamu temani papa dan Abang dulu, mama mau menyelesaikan sesuatu." jawab Indri mengusir anaknya.
Kenzu bingung dengan sikap mamanya. Dia segera berjalan menuju papanya.
"Kalian berdua ikut saya, kalian tidak boleh menginjakkan kami kerumah saya." ucapnya menarik nenek Alin.
"Indri aku ibumu, kamu tidak mungkin lupa dengan ibu." jawab mamanya.
"Orang tua saya sudah mati semua, saya tidak mempunyai keluarga yang miskin seperti kalian, pergi jangan membuat keluarga saya berantakan." ucap Indri.
"Kami hanya ingin melihat Naomi Tante." ucap Alin.
"Tidak perlu, Naomi tidak butuh kehadiran kamu dan nenek kamu, pergi kalian dari rumah saya." usir Indri.
Indri mengedarkan pandangannyan. Dia memanggil petugas keamanan yang kebetulan lewat.
"Pak tolong blacklist mereka dari tamu di rumah ini." ucap Indri dengan lantang.
"Ada apa ma?"
Indri kaget saat melihat suaminya dan Nori menghampirinya.
"Tidak apa-apa pa, mama hanya minta mereka untuk tidak datang dulu, mama sedang berduka dan tidak ingin bantahan siapapun." ucap mamanya segera menarik tangan suaminya.
"Indri, kamu tidak bisa melupakan anak kamu, dia terlalu lama menunggu kamu, aku sudah tua
" ucap Nenek Alin dengan lantang.
"Apa maksudnya ma?" tanya suaminya semakin bingung.
"Dia itu....."
"Mereka mengada - ada pa, udah pa nggak usah di hiraukan karena tamu kita banyak, pak petugas bawa mereka keluar dari sini." ucap Indri.
"Apa begitu cara Tante menyambut tamu yang sedang melayat?" tanya Elang berdiri di antara mereka.
"Elang kamu tidak mengerti apa-apa, pergilah jangan ikut campur."
"Saya sangat tidak suka teman saya diperlakukan seperti ini." ucap Elang.
"Sudahlah ma, biarkan saja mereka di sini, lagian ini Naomi mau di antar ke peristirahatan terakhirnya." ucap Nori.
"Iya ma, ayo kita kembali ma." ajak suaminya.
"Tapi...."
"Ini bukan waktu yang tepat nek." ucap Elang memotong pembicaraan nenek Alin.
"Iya nek, lain kali aja, lagian di sini banyak tamu." ucap Alin menenangkan neneknya.
Neneknya kecewa dengan sikap anaknya. Dia akhirnya tau kenapa anaknya menghilang sekian tahun.
"Mari aku antar pulang, sepertinya mereka tidak ingin kamu di sini Lin
" ajak Elang.
"Iya nek, mungkin lebih baik kita pulang, nggak apa-apa nek, Naomi pasti liat kita udah datang ke sini." ucap Alin ingin menghibur neneknya.
Neneknya terpaksa ikut ucapan cucunya. Beliau nampak mengelus dadanya yang terasa agak sakit.
"Elang kamu mau kemana?" terdengar panggilan mawar.
Elang menghembuskan nafas kasar karena ada satu penggagu lagi.
"Aku ada urusan."
"Aku pulang bareng siapa nanti?" tanyanya dengan memelas.
"Kamu bisa pulang bareng papa aku atau keluarga kamu, atau dengan Nadia." jawab Elang lalu berjalan meninggalkan wanita itu.
Wanita itu nampak menggempalkan kepala tinjunya karena kesal melihat Elang lebih memilih bersama Alin.
"Awas saja kamu Alin."