
"Papa kamu mengalami kebangkrutan, dan ada karyawan yang menggelapkan dana yang besar termasuk uang investasi, dan banyak klien yang menuntut papa kamu, papa kamu memang di jalan buntu." ucap papa Mawar bercerita.
"Bahkan dia pernah bicara malu dan mau bunuh diri saja, Tante pikir bahwa papa kamu tidak serius dengan ucapannya." cerita mama Mawar.
"Kalau om tau papa kamu sering melamun, tapi ketika om tanya papa kamu selalu bilang tidak ada masalah." cerita papa Langit.
"Masalah ini memang merugikan papa kamu termasuk kamu berdua juga, akan tetapi kami tidak terlalu besar pengaruhnya seperti papa kamu." penjelasan papa Mawar.
Karena mendengar cerita dari teman papanya, akhirnya Elang memutuskan untuk tidak di otopsi.
Elang merasa gagal menjadi seorang anak karena dia tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan papanya.
Berita kematian tentang papa Elang Maheswara lansung menjadi topik utama di televisi. Bagaimana tidak, pengusaha kaya raya itu memang terkenal di kalangan masyarakat. Apalagi juga terkenal dermawan.
Alin yang menonton berita tentang kematian papanya Elang langsung mencoba menghubungi Elang. Namun Elang tidak kunjung mengangkat telponnya.
"Kapan di kubur ya?" tanya Alin.
"Sepertinya besok, jika besok maka melayatnya besok aja." ucap Alin pada dirinya sendiri.
Namun prediksi Alin salah. Elang dan keluarga sepakat bahwa papanya akan di kuburkan malam itu juga.
Elang merasa dunianya hancur saat ini. Dia merasa tidak punya siapa-siapa yang ia percaya. Dia masih merasa bahwa kematian papanya masih ganjil.
Elang mengedarkan pandangannya berharap ada Alin di sana. Dia hanya membutuhkan gadis itu untuk mengobati hatinya yang hancur.
"Elang yang sabar ya." ucap Mawar menghibur Elang.
"Makasih war." ucap Elang.
"Sama - sama, Jika kamu butuh bantuan katakan saja kepadaku, aku pasti akan membantumu." ucap Mawar.
Elang hanya diam untuk sementara. Saat ini dia tidak ingin berdebat dengan Mawar atau siapapun.
Elang berpikir bagaimana hidupnya ke depan bersama Eidlan. Sampai saat ini dia masih tidak percaya bahwa papanya bunuh diri.
Elang masih yakin bahwa di balik kematian papanya ada sebuah konspirasi. Tapi dia tidak tau siapa dalangnya.
Banyak yang datang melayat malam itu juga. Dan malam itu juga papa Elang di kuburkan.
Di situasi seperti itu,Mama Elang juga nampak datang menghadiri proses pemakaman mantan suaminya.
Setelah pulang dari pemakaman elang pergi menyendiri. Hidupnya berubah dalam satu hari. Jika siangnya ia sangat bahagia maka malamnya hanya kesedihan yang menghampirinya.
"Elang mama ikut berduka cita,kamu ngapain di sini sendirian, ingat kamu nggak sendirian, masih ada mama di sini." ucap Giska merangkul anaknya.
Bagi Giska ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekati anaknya. Akan tetapi Elang malah melepaskan rangkulannya.
Setelah lepas dari rangkulan mamanya, Elang malah pergi masuk ke kamar. Baginya ini sungguh berat dan susah ia terima.
Dia sangat yakin, sekali lagi Elang berkeyakinan bahwa ada yang membunuh papanya.
"Apa om Jefri pelakunya?" tanya Elang berpikir sambil duduk di kursi yang tersedia di kamarnya.
"Tapi masa iya om Jefri, selama ini om Jefri dan papa baik - baik saja, tapi aku akan tetap akan cari tau siapa pelakunya pa, aku tidak akan membiarkan pembunuh Ayah hidup dengan baik.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Selain bertemu pengacara, hari ini akan ada papanya Mawar dan Langit untuk membicarakan kelanjutan bisnis.
Semua sudah hadir di sana. Pengacara papanya Elang membacanya surat wasiat terakhir.
Papanya Nadia om Jefri nampak kaget ketika pengacara membacakan wasiat dari kakaknya. Dia tidak percaya bahwa kakaknya akan mewariskan kepada anaknya yang masih bau kencur. Begitu juga dengan papa Mawar. Dia tidak terima jika Elang yang memimpin perusahaan yang telah besar itu.
"Apa itu tidak salah?mana bisa Elang mengurus perusahaan sebesar ini? ini bukan main - main." ucap pak Andi papa Mawar.
"Lalu bagaimana dengan asuransi jiwa Kakak saya?."
"Asuransi akan di gunakan untuk pembayar utang - utang, dan selain itu rumah ini juga akan di sita oleh bank untuk melunasi hutang yang masih ada di bank." jawab Pengacara.
"Untuk rumah saya tidak masalah, lalu dengan semua uang asuransi, bagaimana dengan nasib keuangan perusahaan?" tanya Om Jefri kepada papa mawar.
"Belum stabil sepenuhnya, tapi saya akan membantu perusahaan ini bangkit lagi dengan catatan Elang bersedia menikahi mawar seperti keringinan papanya dulu." ucap papa Mawar.
"Apakah itu sebuah solusi? bagaimana jika mereka tidak saling mencintai?" tanya papa Langit yang sejak tadi diam saja.
"Mereka sudah kenal sejak kecil, dan mereka juga sudah tau sejak kecil, ini semua demi kebaikan perusahaan ini, jika tidak saya bisa menarik modal saya agar perusahaan ini benar-benar bangkrut." ucap
Semua tau bahwa selain papa Elang, papa Mawar juga memiliki prioritas di perusahaan ini. Papa Mawar menjabat sebagai wakil CEO.
"Jika memang baiknya begitu tidak masalah sih, saya rasa Elang tidak di rugikan di sini." ucap Om Jefri.
"Tapi masa yang asuransi hanya di gunakan untuk bayar hutang? bukankah semua adalah tanggung jawab kita semua?" tanya Om Jefri lagi.
"Tapi masalah ini terjadi karena kesalahan papa Elang." jawab papa Mawar.
"Tapi perusahaan itu di bangun oleh sana bersama, dan dana yang besar adalah kakak saya, kakak saya juga yang mengembangkan perusahaannya agar besar seperti itu, saya akan lebih setuju jika utang piutang perusahaan di bayar secara bersama - sama oleh pemegang saham, di sini pemilik saham ada tiga orang, kenapa pembayaran hutang itu tidak diambil sesuai dengan persentase saham, jangan ketika keuntungan saja yang di bagi sesuai persentase." ucap Om Jefri.
"Saya setuju dengan pendapat Jefri, kita susah dan senang bersama - sama." jawab papa Langit bernama Rahmat.
"Saya menolak karena ini kesalahan CEO kita terdahulu, insyaallah di tangan saya perusahaan kita akan lebih baik."
"Kamu tidak bisa memutuskan sendiri, semua harus di rapatkan dengan pemilik saham." ucap Rahmat.
"Ini yang duduk di sini adalah semua pemilik saham kecuali Jefri." ucap papa Mawar.
"Kamu akan mendukung anak yang baru bau kencur ini memimpin perusahaan kita? ingat ini perusahaan pribadi tapi milik kita bertiga." ucap Pak Andi.
"Akan tetapi tetap saja Abang saya yang membesarkan perusahaan ini, dan Abang saya pemilik saham terbesar." jawab om Jefri.
"Kamu itu hanya seorang adik yang tidak tau apa-apa, udahlah jangan banyak protes, kamu siapkan saja keponakan kamu itu menjadi CEO dengan syarat menikahi anak saya." jawab pak Andi.
Elang yang dari tadi duduk di sana hanya diam menyaksikan perdebatan di antara kedua orang tua. Sedangkan Nadia dan Eidlan hanya menatap Elang dengan penuh kasihan. Mereka tau bahwa babak baru kehidupan Elang akan di mulai, dan itu akan menyakitkannya karena beban itu berat.
"Apa masih ada lagi? jika sudah tidak ada maka saya permisi." ucap Elang berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja.
"Anak ini semakin lama semakin tidak sopan." gerutu papa mawar.
"Sudahlah, biar saja dia menenangkan diri, kita sebaiknya juga bubar."
"Tapi saya tidak setuju rumah ini di sita pak Rahmat, karena rumah itu bukan hanya hutang Abang saya."
"Tapi Abang kamu yang menjaminkan kepada bank, masa kami yang harus bayar." ucap pak Andi emosi lama lama melihat om Jefri.