Alinshy

Alinshy
Bab 22



Dirumah keluarga keluarga Aldi Bastian nampak semua berkumpul di ruang keluarga. Semua anak Aldi duduk di sana. Sedangkan Indri sang istri juga nampak duduk.


Indri bingung ketika suaminya menyuruh semua keluarga berkumpul. Semenjak kepergian Naomi, keluarga mereka jarang berkumpul. Mamanya masih bersedih dan sering menyendiri di kamar.


Sementara Aldi belakangan ini sibuk mencari tau latar belakang istrinya. Dia merasa ada yang janggal ketika melihat Indri mengusir Alin dan neneknya. Apalagi dengan wajah Alin yang sangat mirip dengan Indri.


Sebelum memberi tau Indri, Aldi sudah memberi tau anak - anaknya terlebih dahulu. Apalagi Kenzu yang merasakan keanehan yang sama dengan papa.


Aldi sengaja memberi tau anak - anaknya agar tidak syok. Dia juga tidak ingin anak - anaknya membenci ibunya. Apalagi Nori yang merupakan teman dekat Alin.


"Ada apa ini mas? kenapa kita di kumpulkan?" tanya Indri dengan lembut.


Aldi sangat menyesali sikap sang istri yang menyembunyikan masa lalunya. Dia sangat tau betapa baiknya sang istri selama menjadi istrinya. Baginya Indri adalah ibu yang baik untuk anak - anaknya.


"Apa ada yang mau kamu katakan kepada kami?" tanya Aldi.


Indri menggelengkan kepalanya karena hatinya masih belum sembuh sejak kehilangan sang anak bungsu.


"Kamu yakin tidak ingin memberi tau kami tentang Alin?"


Pertanyaan Aldi membuat Indri membelalakkan matanya. Dia tau apa yang tidak bisa di selidiki Aldi jika ia mencari tau tentang masa lalunya.


"Baiknya kita bicarakan di kamar mas." ucap Indri berdiri dari kursinya. Ia sangat tidak ingin membahas masa lalunya di depan anak - anaknya.


"Ma bahas di sini aja, kami sudah tau semua." ucap Kenzu sang anak.


"Iya ma, mama jujur aja." ucap Nori lansung m


berdiri dan merangkul mamanya agar duduk kembali.


"Mas kamu sengaja melakukan ini untuk mempermalukan aku di depan anak - anak?" tanya Indri.


"Aku mempermalukan kamu? kami hanya mau kejujuran dari mulut kamu, apa nggak cukup lama kamu menipu aku dan menipu anak - anak kamu." ucap Aldi agak kesal dengan jawaban suaminya.


Indri suaminya pasti akan marah padanya. Apalagi dia membohongi sang suami bertahun-tahun lama.Apalagi mengingat pernikahannya yang sudah 17 tahun lebih..


"Kamu jika mau marah sama aku jangan di depan anak - anak, atau kamu memang sengaja agar anak-anak membenciku." ucap Indri membuat Nori memeluk mamanya.


"Ma bukan seperti itu, sebenarnya Kenzu lebih dulu curiga daripada papa, Kenzu merasa ada yang janggal, mama tau sendiri bahwa Kenzu itu tipe anak yang pintar."


Indri mengakui bahwa anaknya Kenzu memang lebih pintar daripada Nori. Akan tetapi Nori sangat pandai dalam bersosial. Apalagi dalam menenangkan hatinya.


"Ma, mama jujur aja apa susahnya sih ma?" tanya Kenzu menatap mamanya nggak kesal.


Nah inilah kekurangan Kenzu anaknya. Indri terkadang berharap anaknya itu lebih baik diam daripada berbicara, karena jika kalian sudah bicara maka yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata pedas. Indri tidak bisa membayangkan bagaimana nasib wanita yang akan menjadi istri Kenzu nanti.


"Baiklah jika itu yang kalian mau, mama akan bercerita, tapi sebelumnya maafkan mama." ucapnya menatap anaknya satu persatu,lalu menatap suaminya.


"Sebelum menikah dengan papa kalian, mama memang pernah menikah dengan seorang lelaki, mama menikah saat itu masih muda dan masih labil, mama menikah karena cinta."


Indri terdiam sejenak sambil mencoba mengingat masa lalu yang kelam. Dia berharap tidak akan mengingat kejadian itu lagi. Namun semua prediksinya salah. Suaminya ternyata menemukan masa lalunya juga.


Indri menceritakan semuanya tentang masa lalunya tanpa ia tutupi lagi.


"Mungkin setelah ini kalian akan membenci mama, tidak apa-apa, ini resiko yang mama tempuh, mungkin ini hukuman untuk mama dari Allah, makanya Allah mengambil Naomi dari mama." ucap mamanya sambil menangis.


Dalam beberapa hari ini Indri memikirkan semuanya. Dia merasa bahwa ini hukuman untuknya.


Aldi hanya diam sambil kesal. Ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia sangat marah di bohongi oleh istrinya.


"Ma semua sudah berlalu,mama hanya perlu tidak untuk mengulangi." ucap Nori.


"Saya kecewa sama kamu Indri, maafkan papa anak - anak, papa sangat kecewa dengan mama kamu, 17 tahun papa di bohongin."


"Itu karena uang, mama kamu rela membuang anaknya demi uang, lalu bagaimana jika suatu saat bisnis papa ada masalah, pasti mama kamu akan meninggalkan kita, sama dengan sebelumnya." ucap Aldi dengan nada kecewa.


Indri melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya kecewa terhadap dirinya. Dia memaklumi semua itu karena semua memang salahnya.


"Kenapa mama mengatakan bahwa mama janda tanpa anak karena syarat yang di ajukan papa kalian waktu itu adalah seperti itu, mungkin jika mama katakan bahwa mama juga ada seorang bayi, papa kalian akan menolak mama waktu itu, di pikiran mama waktu itu bagaimana menikah dengan orang kaya, karena mama capek hidup pas - pasan."


"Orang tua kamu bukan orang miskin."


"Tapi dibandingkan dengan hidup mama yang sekarang, itu tidak apa - apa, kami hanya punya sebuah mobil di rumah, itupun hanya harga ratusan juta, dan itu nggak ada apa-apanya jika menjadi nyonya Aldo Bastian." jawab Indri.


Nori merasa bahwa mamanya saja dengan wanita - wanita yang mengejarnya selama ini. Wanita yang rela menukar apapun yang di punya demi bisa bersamanya. Entah kenapa Nori merasa agak kecewa mendengar kata terakhir mamanya.


"Ternyata semau wanita sama ya ma, harta mengalahkan semua.". ucap Nori dengan nada kecewa.


"Tentu, mama realistis karena mama pernah hidup dengan lelaki berdasarkan cinta, lalu pada akhirnya mama juga ikut bekerja, sepulang kerja capek lalu mengurus rumah dan anak, semua melelahkan, sudah lelah tenaga di tambah lelah tidak punya apa-apa." Indri terdiam sejenak.


"Ketika kamu sudah bekerja keras, namun masih susah, dan hidup tanpa uang itu lebih melelahkan, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, nenek Alin memang punya penghasilan yang sebenarnya cukup untuk kami, tapi sampai kapan mama akan meminta terus." ucap Indri lagi.


"Mama minta maaf sama kalian semua, tapi jika kalian tidak bisa memaafkan mama tidak apa-apa, mama tau mama salah." ucapnya memandang kedua anaknya.


Setelah memandang anaknya dia menoleh kearah suaminya.


"Maafkan aku mas, aku tau ini tidak mudah untuk kamu memaafkan kamu, jika kamu sudah tidak mau menerima aku, aku nggak apa-apa, mungkin ini sudah jalan hidup aku."


"Ya sudah pilihlah jalan hidup kamu sendiri." ucap Aldi membuang mukanya.


"Sekali lagi maafkan aku mas, tapi jika mas tidak suka melihat aku lagi disini, ya sudah aku akan ninggalin rumah ini." ucap Indri telah pasrah.


Dia tau karakter suaminya yang tidak bisa di bohongi. Dia sudah pasrah jika harus menjanda kedua kalinya.


Indri berdiri dari tempat duduknya. Air matanya masih mengalir deras tanpa bisa ia cegah. Setelah kehilangan Naomi, maka hari ini dia harus kehilangan semuanya.


"Jika kamu pergi, jangan bawa apapun dari sini, karena bagaimanapun itu semua hasil jerih payahku, tinggal semua kartu kredit dan yang lainnya."


Nori dan Kenzu nampak kaget mendengar ucapan papanya. Di saat begini keluarlah karakter papanya.


"Baik." ucap Indri berjalan menuju kamar tanpa membantah.


"Apa seperti ini karakter papa? jika papa meminta apa yang sudah papa berikan kepada mama, maka aku adalah milik mama, karena jika papa mau Aku, papa harus bayar sewa rahim mama, main sama PSK aja nggak ada yang minta duitnya kembali." ucap Kenzu membuat Aldi kaget.


Dia tau bahwa anak keduanya pendiam.Dan dia berpikir anaknya itu akan memihak kepadanya. Akan tetapi dia ternyata memihak mamanya.


"Mama punya alasan kuat, lelaki yang hebat akan memberikan hartanya untuk wanitanya."


"Kamu tidak usah mengajarkan papa untuk hal ini." ucap Nori kepada Kenzu.


"Baik, tapi aku tanya memperingatkan kamu, apa kamu menganggap mama ibu tiri gBv jahat, mama meninggalkan anaknya demi merawat kamu bang, bahkan apakah kamu tau, kamu dan mama sangat dekat, mama selalu bangga dengan kamu, padahal prestasi kamu hanya pandai memainkan perasaan wanita." ucap Kenzu lalu meninggalkan papa dan abngnya.


Nori sempat marah kepada Kenzu karena ucapan adiknya itu. Akan tetapi dia merasa bahwa ucapan adiknya ada benarnya.


"Pa jika mama pergi dari rumah ini, maka aku juga akan ikut, jika papa mau mengambil mobil dan kartu kreditku, sorry aku tidak akan mengembalikan karena semua itu adalah hal aku sebagai anak papa." ucap Nori berdiri daru kursinya.


Bulannya marah, Aldi malah tersenyum mendengar ucapan anaknya. Bisa - bisanya Nori berkata seperti itu.


"Kok papa malah tersenyum? aneh." ucap Nori menggaruk kepalanya sambil berjalan.


Aldi merasa ia keterlaluan jika membiarkan anak dan istrinya pergi dari rumahnya.


Aldi tidak mau keluarganya hancur karena egonya. Aldi segera berjalan ke kamar untuk mencegah semua kekacauan yang ada di rumahnya.