
Nori tidak bisa tidur karena Nadia belum juga memberi kabar kepadanya. Dia sangat cemas karena Elang juga tidak mengangkat teleponnya.
"Kemana sih Nadia ini? kenapa nggak ada kabar?" tanya Nori mondar - mandir di dalam kamarnya.
Nori mencoba lagi menelpon Elang. Hatinya tidak tenang sebelum dapat dari Nadia. Elang akhirnya mengangkat telepon Nori setelah beberapa kali menelponnya.
"Kamu kenapa baru angkat sih?" tanya Nori sebelum Elang berbicara.
"Apaan sih? pacarku aja nggak kayak gini amat." ucap Elang membuat Nori makin kesal.
"Nadia sudah sampai rumah belum?"
"Mana aku tau? emang aku Asistennya Nadia." jawab Elang.
"Kan tadi bareng kamu, emang dia kemana lagi?"
"Tadi aku antar sampai depan gerbang rumahnya, tapi kan aku nggak masuk, aku hanya liat dia masuk gerbang, setelah itu aku pergi pulang."
"Artinya sampai rumah kan? lagian tetangga masa nggak liat."
"Hei aku bukan asisten Nadia."
"Kan kamu sepupunya."
"Trus apa urusannya dengan kamu."
"Tentu aja ada, udahlah kamu mana ngerti." ucap Nori semakin kesal.
"Siap - siap aja kamu di tinggal Nadia, tapi kan kamu bilang nggak masalah."
"Kamu menghasut Nadia?"
"Ya nggak lah, nggak guna juga buat aku, tadi itu Nadia kayaknya dengar ucapan kamu, bagaimanapun perasaan kamu sama dia, stop menyakiti perasaan dia, jika kamu memang tidak ada rasa sama dia, mending jangan memberi harapan sama dia,Nadia sepupu dan sahabat yang baik bagi aku."
"Ah banyak omong kamu ya, udahlah aku matiin dulu." ucap Nori.
Setelah memutuskan telpon dengan Elang, Nori terdiam duduk di atas kasur.
Dia menyadari bahwa tidak biasanya Nadia tidak mengabarinya. Apalagi wanita itu mematikan sambungan teleponnya. Biasa wanita itu paling agresif dalam menghubungi dirinya.
"Apa benar dia dengar?" tanya Nori.
"Ah tapi nggak mungkin Nadia berani minta putus, dia dari dulu mengejar aku, jika dia minta putus, ya udah toh masih banyak wanita yang mau sama aku." ucap Nori mencoba menenangkan pikirannya. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Nori mencoba memejamkan matanya.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita sedang menangis di dalam kamarnya. Dia merasa sakit hati mendengar ucapan Nori tadi. Apalagi Nori seakan merendahkannya di hadapan Elang. Dia yakin seratus persen bahwa Nori juga menjelekan ya seperti itu kepada teman yang lain.
"Cintaku bertepuk sebelah tangan, apa mungkin aku bertahan seolah aku ini wanita yang nggak ada harganya, yang tidak berarti apa-apa, kalau di buang Nori masih mengemis cintanya." ucap Nadia menghapus air matanya.
"Maaf Nori sepertinya kita memang tidak bisa bersama, cinta itu tidak pernah bisa di paksakan." ucapnya mencoba untuk memejamkan matanya.
Bayangan dari masa lalu mulai memenuhi benaknya. Bayangan saat dirinya mengejar cinta Nori sampai ia memusuhi Alin karena kedekatan mereka.
Nadia mencoba memejamkan matanya. Agak susah untuk tidur nyenyak malam ini. Namun ia mencoba untuk memejamkan matanya karena ia harus hadir di rapat besok.
...****************...
Nori baru terbangun dari tidurnya. Dia lansung mengecek ponselnya. Dia agak kecewa ketika tidak menemukan panggilan atau kabar dari Nadia.
Nori mencoba menghubungi Nadia. Akan tetapi dia Nadia tidak mengangkat teleponnya. Dia akhirnya mengirimkan sebuah pesan. Namun wanita itu juga tidak mengangkatnya.
Nori bergegas menuju kamar mandi. Setelah hampir satu jam, dia turun ke lantai satu untuk sarapan pagi.
Dia melihat Alin dan Kenzu yang sudah ada di meja makan. Sedangkan mamanya nampak masih di dapur membantu asisten rumah tangga dalam menyiapkan sarapan pagi. Papanya belum juga nampak.
"Ayo sarapan." ucap mamanya membawa nasi goreng.
"Masih di kamar, bentar mama panggil."
Belum sempat Indri berdiri, sang papa sudah sampai di meja makan.
"Pagi semua."
"Pagi juga pa." jawab mereka bersama - sama.
"Nenek mana Lin?" tanya papa mereka menyadari bahwa neneknya tidak ada di sana.
"Nenek sedang tidak enak badan pa."
"Kenzu telpon dokter keluarga." ucap papa Aldi kepada Kenzu.
"Iya pa."
"Tadi udah aku cek pa, nenek hanya nggak enak badan, tadi mama udah siapin sarapan dan minum obat, setelah istirahat nenek akan pulih lagi." jawab Alin.
"Syukurlah, ma jika nenek kenapa-kenapa nanti hubungi aja kami." ucap Nori.
"Kalian jenguk nenek dulu sebelum pergi." ucap papanya.
"Nggak usah pa, nenek lagi tidur, nanti pas buka pintu nenek pasti kebangun, kasihan." jawab Indri istrinya Aldi.
"Iya pa, mama benar, nenek sangat sensitif mendengar suara jika lagi tidur." jawab Alin.
"Ya sudah, ayo sarapan." ajak papa Aldi.
Mereka mengambil sarapan masing-masing. Nori hanya mengambil sepotong roti. Sedangkan Alin hanya memakan salad sayur.
"Kamu kenapa kok sarapannya lesu banget?" tanya mamanya memperhatikan Nori setelah mengambilkan suaminya nasi goreng ke piring.
"Lagi nggak napsu ma."
"Kenapa? ada masalah apa?"
"Nggak ada ma, cuma lagi nggak selera aja."
"Paling lagi berantem sama Nadia ma." jawab papanya sambil tersenyum.
"Nggak pa." jawab Nori.
"Ini kakak lebih parah ma, masa sarapan udah makan salad sayur, apa enaknya coba." ucap Kenzu.
"Bagus untuk kesehatan tau." jawab Alin tersenyum mengejek adiknya.
"Selera aneh, bang hari ini Abang sibuk?" tanya Kenzu kepada abangnya.
"Nggak juga, kenapa?"
"Bisa Abang membantu aku untuk hadir di rapat, ada agenda dengan perusahaan klien."
"Kapan ?"
"Siang nanti."
"Kamu kemana? siang Abang sepertinya nggak bisa karena mau menjemput Nadia."
"Nah kebetulan,kan rapatnya di kantor Nadia."
"Perusahaan kita bekerja sama dengan mereka?" tangan Nori kurang tau perkembangan perusahaan karena ia sibuk dengan usaha yang ia rintis di bidang olahraga.
Nori akhirnya setuju karena ia akhirnya punya alasan bertemu dengan Nadia.