
Elang dan Alin menikah secepatnya karena permintaan nenek Alin. Nenek Alin ingin cepat - cepat dia cucunya menikah.
Pesta pernikahan di gelar dengan semegah - megahnya. Kedua pihak keluarga sangat kompak menjalin kekeluargaan.
Awalnya papa Aldi dan mama Indri ingin Nori dan Nadia juga menikah di hari yang sama. Akan tetapi Nori masih belum siap untuk menikah.
Nori meminta waktu kepada orang tuanya. Dia masih belum siap berkomitmen sama sekali.
Alin nampak cantik sekali mengenakan baju adat lintau. Baju ini sudah baju ke tiga kalinya yang di pakai dalam satu hari ini.
Elang nampak sangat senang karena akhirnya bisa menikahi Alin. Sementara Nori sejak tadi nampak murung.
Sudah beberapa hari ini Nadia menghindari dirinya. Dia sama sekali tidak pernah tau apa salahnya.
Nori menghampiri Nadia yang tengah duduk dan berbincang dengan beberapa temannya. Nori duduk di sebelah Nadia yang kebetulan sedang kosong.
"Eh Nori, apa kabar?" tanya teman Nadia yang berjenis kelamin perempuan.
"Baik, kamu apa kabarnya?" tanya balik Nori.
"Alhamdulillah juga baik, jadi kapan nih kalian menyusul Elang dan Alin?" tanya wanita yang bernama Mawar.
Yah wanita itu adalah Mawar. Walaupun dulunya Nadia pernah tidak bersapaan dengan mawar karena kasus ibu dan papanya Mawar. Namun berjalannya waktu mereka saling memahami karena semua bukan kehendak mereka. Orang tua merekalah yang salah.
Mawar di temani oleh Langit yang merupakan suaminya. Langit, Elang, Nadia dan Mawar memang sudah berteman sejak lama.
"Doakan saja yang terbaik, lagian kami masih ingin pacaran dulu, masih tidak ingin terburu-buru." jawab Nori.
"Tapi pacaran setelah menikah itu lebih mengasyikkan loh." jawab Mawar sambil tersenyum.
"Iya bro, di coba aja kalau nggak percaya." Langit membetulkan ucapan istrinya.
"Eh kalian udah makan kan?." tanya Nadia ingin mengalihkan pembicaraan.
Dia malas membahas pernikahan
karena jawaban Nori akan sama.
"Sudah tadi, ini masih kenyang, nanti jika lapar kami pandai lah cari makan." ucap Mawar.
Nadia lalu berdiri karena melihat teman - teman Elang dan dirinya datang. Mereka adalah Gio,Bobi dan Dafa.
"Hai kalian baru datang?" sambut Nadia kepada mereka bertiga.
Nadia lansung menyalami ketiganya. Lalu mereka cipika-cipiki satu sama lain.
Nadia juga mengajak mereka berbincang - bincang. Nori merasa di abaikan. Bahkan Nadia sengaja menyuruh pelayan yang m membatu pesta untuk menghidangkan makanan mereka.
"Istimewa kali tamu ini, sampai di hidangkan." gumam Nori dengan kesal.
Sejak tadi dia di abaikan oleh wanita itu. Bahkan Nadia ketawa dengan mereka. Mereka nampak bernostalgia dengan masa sekolah mereka dulu.
"Kamu tau nggak yang, dulu ini Gio ini sangat suka sama Nadia, tapi sayang Nadia selalu cuek." ucap Mawar sengaja memanasi Nori.
Ia kesal karena Nori sebagai lelaki tidak paham keinginan wanita.
"Ah masa? trus?" tanya Langit mengikuti alur drama si istri.
"Ya, Nadia nggak mau makanya sampai sekarang sepertinya Gio masih jomblo, masih nungguin Nadia kali." ucap Mawar tersenyum kepada Gio.
Lelaki yang bernama Gio itu nampak salah tingkah. Nori semakin kesal melihat itu semua.
"Mimpi aja loe dapatin Nadia." ucap Nori dalam hati.
"Bahas apa sih, Cahaya loh suka sama Gio sejak dulu kala sampai saat ini." ucap Nadia masih ingin menjaga hati Nori.
"Hahahah Cahaya, itu bukan tipe Gio loh." jawab Bobi.
Percakapan mereka tidak habis - habisnya. Setelah mereka bertiga, Nadia masih juga cuek terhadapnya.
"Yang tolong ambilkan aku nasi dong, lapar." ucap Nori mencoba cari topik pembicaraan.
"Ambil aja sendiri yang, lagi mau ke toilet dulu." jawab Nadia sedang tidak mood.
"Kamu kenapa?" tanya Nori ketika sudah berjalan di lorong hotel menuju toilet.
"Apaan sih, lagi mau ke toilet loh."
"Kamu menghindari aku yang." ucap Nori.
"Terserah kamu aja lah, pusing aku menanggapi kamu." ucap Nadia meninggalkan Nori.
"Jika ada yang salah sama aku, kamu tinggal bilang, jangan diam." ucap Nori.
"Aku nggak ada apa-apa dengan kamu, udah ah aku mau ke toilet." jawab Nadia menghindari Nori secepatnya.
Da bisa berteriak nanti di depan Nori jika terlalu lama berdebat. Dan debat mereka tidak akan menghasilkan apa-apa.
Nadia berjalan dengan kesal menuju toilet. Sedangkan Nori berjalan menuju kamar yang di sediakan untuk pihak keluarga dan tempat hias kedua mempelai.
"Kenapa kamu manyun begitu?" tanya Alin melihat Nori masuk dalam keadaan manyun.
Nori melihat kedua mempelai sedang di siapkan makan oleh mamanya.
"Aku loh di cuekin Nadia sejak tadi, trus gimana nggak kesal, dia malah sibuk melayani Gio itu sejak tadi."
" Ya iyalah kamu di cuekin sama Nadia, kamu nggak peka terhadap perasaannya." jawab mamanya.
"Perasaan apa lagi ma? aku sudah lakukan apa - apa untuk dia." jawab Nori.
"Wanita itu butuh kepastian." jawab Nenek Alin juga ada di sana.
"Iya, benar juga, kepastian akan kalah dengan orang yang mencintai tapi tidak pasti." jawab Alin.
"Apa - apaan bahas ini semua." protes Nori.
"Wanita butuh kepastian, ingat lagi ada band karena wanita ingin di mengerti." ejek Alin senang kepada Nori.
"Iya bro, kalau kamu masih gak jelas, maka aku akan carikan pasangan." kali ini Elang yang bicara.
Mama Indri memberikan nasihat kepada anaknya Nori. Begitu juga dengan neneknya. Telinga Nori panas karena semua menasehatinya.
"Cepat lamar Nadia sebelum terlambat." ucap Neneknya.
"Apakah mama punya cincin untuk calon menantu?" tanya Nori.
"Ada, jika kamu mau pakai, ya pakailah." ucap mama Indri membuka cincin di jarinya.
"Pakai aja ini untuk simbol jika kamu mau melamar."
"Ma jangan di kasih ma, biar dia usaha." ucap Alin mengompori mamanya.
"Jangan begitu, sebagai saudara harus saling dukung, ya kan ma." jawab Nori membela diri.
Setelah mendapatkan cincin, Nori langsung berjalan keluar mencari Nadia. Dia bertekad untuk melamar Nadia.
Nori membiarkan Nadia duduk sendirian. Dia hanya fokus kepada ponselnya untuk mengatur strategi kepada bersama Elang dan Alin.
Alin yang baru saja kembali ke panggung. Alin memanggil Nadia agar mau naik ke atas panggung.
Setelah Nadia berdiri di panggung, Nori lansung naik juga ke atas panggung. Dia lansung menghampiri Nadia ketika Nadia masih belum sampai di samping Alin.
Nadia kaget ketika Nori jongkok di depannya. Nori juga membuka sebuah kotak cincin.
"Wahai pujaan hatiku, maukah kamu menikah dengan ku?"
Nadia lansung kaget dan tersenyum senang mendengar Nori melamarnya. Ini adalah momen yang ia tunggu - tunggu.
Semua bertepuk tangan saat Nadia menganggukkan kepalanya. Nori juga senang karena akhirnya dia berhasil melamar wanita pujaan hatinya.
"Maaf semua, numpang lamaran." ucap Nori dengan nyengir kepada tamu undangan
Alin dan Elang serta keluarga lainnya sangat senang melihat keduanya senang. Bagi mereka kesenangan keluarga adalah kesenangan bersama.