
Hari pembagian rapor telah datang. Alin datang di dampingi oleh sang nenek seperti biasanya. Neneknya selalu puas dengan hasil belajar sang cucu.
Setelah keluar dari kelas, Alin mencoba mencari Elang di kelasnya. Akan tetapi dia tidak menemukan batang hidung lelaki itu.
"Kemana dia ya? apa masih belum sekolah?" tanya Alin.
Alin akhirnya mengikuti neneknya untuk pulang. Hati Alin agak kecewa karena tidak bisa menemukan Elang.
Alin juga sudah tau bahwa papa Elang sudah di kubur tadi malam.Dia sudah melihat tayangannya di televisi.
Ingin rasanya Alin mengunjungi elang ke rumahnya. Akan tetapi dia tidak punya alamat Elang. Lagian Jika dia punya alamat rumah lelaki itu dia pasti tidak akan punya keberanian untuk ke sana.
"Bodoh kenapa aku tidak punya nomor Elang sama sekali." ucapnya baru menyadari bahwa di ponselnya tidak punya nomor Elang.
Alin mencoba mencari media sosial Elang di ponselnya namun semua bersifat privasi.
Nenek Alin yang duduk di sebelah kursi pengemudi menoleh kebelakang. Ia heran melihat cucunya hanya sibuk melihat ponselnya sejak berada di mobil. Apalagi wajahnya gelisah sejak tadi.
"Kamu mikirin apa sih? kok gelisah begitu, macam mikirin anak di rumah belum makan." ucap Neneknya.
"Bisa jadi nek." ucap sang pengemudi yang merupakan cucu dari sepupunya nenek Alin.
"Apalah nenek ini." ucap Alin menggerutu tapi masih fokus dengan ponselnya.
Alin akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dia fokus menatap ke arah jalan. Akan tetapi pikirannya melayang entah kemana.
Libur telah datang, Alin sibuk seperti biasa mengikuti tambahan belajar. Setiap libur ia selalu di suruh neneknya mengikuti tambahan belajar.
Jika biasanya ia senang mengikuti tambahan belajar, berbeda dengan liburan kali ini. Dia sungguh bosan. Badannya ada di bimbingan belajar tapi hatinya ada di mana - mana.
Keberadaan Elang menghilang tanpa ada kabar. Apalagi Alin yang notabennya tidak pernah berkomunikasi dengan Elang memalui telpon atau sejenisnya.
"Apa aku minta Rima aja, pasti dia punya nomor Elang." ucap Alin dalam hatinya.
Alin bergegas mengambil ponselnya yang terletak di nakas dalam kamar. Dia mencoba mengirimkan pesan kepada Rima.
"Semoga aja dia mau memberikan." ucapnya penuh harap.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, tidak ada tampak tanda balasan dari Rima. Alin hanya menunggu sambil melihat ke arah ponselnya.
Alin tau bahwa temannya itu sudah membaca pesan yang ia kirim. Alin akhirnya pasrah karena tau bahwa wanita itu tidak akan membagikan.
"Apa aku minta Nori saja ya, aku yakin bahwa Nori punya nomor Elang." ucapnya.
Alin mencoba mencari nomor Nori di ponselnya. Dia mencoba mengirimkan pesan yang sama k pada Nori.
Baru saja terkirim, ponsel Alin berbunyi. Nampak nama Nori tertera di ponselnya. Alin segera duduk di ranjang miliknya. Dia memencet tombol setuju tanda bahwa telpon di jawab dengan segera.
"Halo assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, jadi karena perlu nomor Elang baru menghubungi aku." ucap Nori bercanda di seberang sana.
"Bukan begitu, aku hanya... hanya..."
"Hanya apa?" tanya Nori.
"Ya takut kamu marah sama aku karena kejadian itu."
"Tapi nggak mau minta maaf."
Alin hanya terdiam merasa bersalah. Dia memang tidak seharusnya mendiamkan Nori. Harusnya dia datang menemui Nori untuk meminta maaf. Akan tetapi setelah kepergian Naomi, tidak ada keinginan untuk dekat dengan keluarga itu.
"Apa kamu hanya mendekati aku karena sesuatu hal?"
"Mungkin kamu memanfaatkan aku untuk suatu hal."
"Mana ada begitu."
"Tapi aku sangat yakin seperti itu, sejak kapan kamu tau bahwa Naomi adikmu juga?"
Alin terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Nori. Alin tidak akan membiarkan Nori tau semuanya. Dia tau bahwa itu akan merusak kebahagiaan ibunya.
Alin sudah rela hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Dia tidak ingin merebut kebahagiaan itu dari keluarga Nori.
"Kenapa diam Alin? sejak kapan kamu tau bahwa mama adalah ibumu?"
"Nori, kamu ngomong apa?" tanya Alin mencoba untuk menghindar dari pertanyaan Nori.
"Papa sudah tau semuanya, bagi papa tidak akan sulit mencari informasi apapun."
"Nori...aku...."
"Kamu tidak salah apa - apa, tapi aku heran kenapa mama membohongi kami semua." ucap lelaki itu terdengar suaranya mengandung kesedihan.
"Aku menyadari pertama kali datang ke rumah kamu, sampai di rumah aku mencoba menyamakan dengan foto yang kami punya, wajah mama kamu persis seperti ibu kamu."
"Tapi kenapa kamu hanya diam?"
"Buat apa aku bicara? toh mama kamu sudah bahagia, aku tidak ingin ibu makin bersedih dengan masalah aku, karena aku tau bahwa keluarga ibu saat ini jauh lebih penting bagi ibu, ibu sudah menemukan kebahagiaannya."ucap Alin mencoba menahan air matanya jatuh. Saat mengatakan kata - kata itu hatinya terasa sakit.
"Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Aku sudah terbiasa hidup seperti ini bersama dengan nenek, sedangkan kalian sudah terbiasa hidup bahagia dengan mama kalian." jawab Alin lagi. Sekali lagi ia mencoba untuk membuang egonya. Hatinya sudah tidak ingin lagi mengemis kasih sayang terhadap ibunya itu.
"Nori, maafkan aku jika masalah aku hanya membuat keluarga kalian berantem, maafkan mama, mama tulis untuk keluarga kalian, aku hanya masa lalu mama kamu, bisa jadi aku ini adalah sebuah kesalahan yang terlahir dari rahim mama, jadi aku mohon tetaplah menyanyi mama seperti apa adanya." ucap Alin lagi.
"Alin..."
"Aku mohon jangan bahas apapun lagi, anggap kita belum tau apa - apa, jam sekarang tolong berikan aku nomor Elang."
"Hey untuk apa kamu meminta nomor lelaki itu, masih banyak lelaki lain yang lebih baik."
"Ini bukan masalah lebih baik, tapi dia lagi berduka."
"Tapi saat ini kamu adik aku, maka aku akan tetap mengawasi kamu dekat dengan siapapun."
"Udahlah RI, kita ini orang asing, sampai kapanpun akan menjadi orang asing, jangan pernah menganggap aku adik atau sebagainya." ucap Alin segan.
"Baiklah, aku akan mengirimkan nomor Elang."
"Satu hal lagi Nori, aku tidak akan ikut campur masalah keluarga kamu, tapi semoga papa kamu tidak akan membuang mama kamu karena hanya masa lalu yang tidak berarti, semoga kamu bisa melindungi keluarga kamu dari kehancuran, maaf saya tutup,terima kasih." ucap Alin lansung menutup teleponnya.
Alin meletakkan ponselnya dan lansung keluar air matanya begitu saja. Sekali lagi air matanya keluar.
Tiba - tiba sebuah notifikasi berbunyi. Ia melihat Nori mengirimkan nomor Elang.
Alin menghapus air matanya. Dia mencoba menyimpan nomor Elang di kontak ponselnya. Setelah itu barulah ia menelpon.
Tidak ada yang mengangkat telpon tersebut. Lalu Alin mencoba mengirimkan pesan kepada Elang.
[Assalamualaikum Lang, apa kabar? semoga semua baik - baik saja, aku turut berduka cita ya. By Alin]
Alin mengirimkan pesan tersebut kepada Elang. Namun ada yang membuat Alin kecewa karena tiba - tiba pesannya hanya centang satu.