
Alin hanya terdiam mendengar cerita Elang. Dia tidak menyangka bahwa hidup Elang lebih menderita daripada hidupnya.
"Setelah mawar pergi, kami tidak pernah lagi bertemu, sampai akhirnya kami bertemu kembali setelah dia menikah dengan Langit." cerita Elang.
"Jadi mawar nggak ada bilang maaf?" tanya Alin penasaran.
"dia, mawar meminta maaf sebelum dia pergi keluar kota."
"Trus apakah kamu menyesal karena tidak berjodoh dengan mawar?" tanya Alin pengen tau perasaan elang yang sebenarnya
"Kenapa aku menyesal?" tanya orang sambil tersenyum.
"karena kamu sangat mencintainya."
"Kata siapa Aku mencintainya?" tanya Elang lagi.
"Ya kan kalian selalu dekat."
"Dekat bukan berarti cinta."
Alin tidak menjawab lagi setelah mendengar jawaban dari Elang. Dia juga tidak punya alasan lagi.
"Kemapa diam?" tanya Elang milirik Alin.
"Pengen diam aja."
"Baik, artinya saatnya kamu yang bercerita."
"Nggak ada yang istimewa dari cerita aku."
"Jika ceritamu nggak istimewah maka kamunya yang istimewah sehingga aku ingin tau tentang kamu." jawab Elang sambil tersenyum.
Mendengar jawaban dari Elang membuat Alin menjadi salah tingkah. Pipinya lansung memerah.
"Muka kamu kenapa? kok merah gitu?" tanya Elang membuat Alin semakin salah tingkah.
"Mana ada, emang wajahku memang seperti itu." jawab Alin.
"Ayo cerita."
"Awalnya papa Aldi datang untuk meminta maaf kepada nenek agar memaafkan mama."
"Tunggu - tunggu, sepertinya ada perkembangan dari ibu memanggil mama." ucap Elang tersenyum senang.
"Di paksa mama dan lainnya, mereka maunya panggilannya sama tanpa adanya perbedaan."
"Bagus, ayo lanjut."
"Setelah papa Aldi datang barulah mama juga datang meminta maaf, mama merasa bersalah banget, dab akhirnya nenek memaafkan mama, jadi setelah itu kami sering bepergian, dan kami di boyong mama tinggal di rumah papa Aldi." cerita Alin.
"Papa kamu apa kabarnya?".
"Papa marah ketika mendengar aku tinggal bersama mama, tapi mau gimana toh papa juga nggak pernah peduli selama ini." jawab Alin.
"Apakah setelah sekian lama kita nggak bertemu, kamu sudah punya pacar?" tanya Elang.
"Tentunya udah dong." jawab Alin dengan cepat. Ia tidak ingin terlihat menunggu lelaki itu.
Mendengar jawaban Alin membuat Elang agak kecewa.
"Apakah masih berlanjut sampai saat ini?"
"Kenapa memang?"
"Jika belum ada maka fiks kamu tergila - gila dengan aku." jawab Elang sambil tersenyum.
"Masih, aku masih pacaran."
"Baik, aku tunggu undangannya secepatnya, oke udah sampai." ucap Elang mengingatkan Alin bahwa mereka sudah sampai di rumah wanita itu.
"Baik terima kasih." jawab Alin membuka pintu mobil.
"Alinshy." panggil elang dengan suara yang lembut membuat Alin semakin grogi.
"Hm." jawab Alin mendehem.
Keduanya nampak sama - sama grogi. Elang menatap manik mata Alin. Di matanya wanita itu semakin cantik setelah dewasa.
"Aduh, ayo Alin si Elang mau ngapain ya?" teriak Alin dalam hati.
"Kamu cantik sekali." ucap Elang membuat wajah Alin semakin memerah.
Melihat wajah Alin memerah membuat Elang yakin bahwa wanita itu juga menyukainya. Elang memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya kepada wajah Alin.
"Haduww Elang mau ngapain?" tanyanya dalam hati.
Alin memejamkan matanya saat wajah Elang semakin dekat. Nafas Elang yang segar membuai Alin semakin dalam.
"Yok tok tok."
Keduanya lansung kaget ketika mendengar ada yang mengetuk pintu mobil. Nampak Nori yang sudah berdiri di sana.
"Ganggu aja sih." gerutu Elang membuka pintu mobil lalu keluar.
"Ngapain kalian kok lama kali turunnya?" tanya Nori mengintrogasi keduanya.
"Kepo kali kamu, macam nggak pernah muda aja." jawab Elang.
"Justru karena aku sudah melewati semua maka aku tidak mau adikku ini rusak karena kamu." jawab Nori.
"Hei aku tidak pernah merusak adikmu."
"Udah ah, ngapain sih malah berantem." ucap Alin merasa malu dengan pembahasan kedua lelaki itu.
"Ayok masuk Lin, jangan terlalu lama - lama dekat lelaki ini, bahaya." ucap Nori.
"Hey bagaimanapun aku ini sepupu Nadia, aku bisa aja menjauhkan kamu dari Nadia."
"Coba aja, lagian nggak ngaruh sama aku, toh Nadia yang tergila-gila sama aku." jawab Nori merasa menang di atas angin dengan Elang.
Nori tidak menyadari bahwa Nadia mendengar ucapannya. Nadia menjadi murung setelah mendengar jawaban lelaki itu. Selama ini dia mengakui bahwa dirinya yang mengejar lelaki itu sampai akhirnya lelaki itu menerima dirinya.
"Kamu di sini Nad? belum pulang?" tanya Elang kaget melihat sepupunya tidak jauh berdiri di belakang Nori.
Nori menyadari bahwa Nadia memang masih di rumahnya. Saat mau mengantarkan Nadia pulang, tiba-tiba Nadia ingin pulang bareng Elang. Makanya mereka menunggu Elang di rumah saja.
Nori agak tertegun melihat Nadia berjalan mendekat sambil tersenyum.
"Iya, aku nunggu kalian, karena sudah sampai ayok pulang." ajak Nadia.
"Ya sudah karena sudah malam, kami pulang dulu." pamit Elang.
"Pamit dulu ya." ucap Nadia bersifat netral.
Nadia lansung masuk kedalam mobil Elang dengan cepat. Saat ini dia ingin segera pergi dari rumah itu. Air makanya sidha hampir tidak terbendung.
"Tok tok tok." Nori mengetuk pintu mobil Elang lagi.
"Apaan lagi sih?" tanya Elang kesal dengan sikap Nori.
"Aku hanya ingin ngobrol dengan Nadia pacarku." jawab Nori.
"Nad, sampai rumah jangan lupa kabarin aku ya." nasehatnya Nori.
"Hhhhmmm." jawab Nadia hanya dengan deheman.
Setelah itu Nadia menutup kaca mobil sehingga Nori tidak bisa melihatnya lagi. Nadia lansung menyandarkan kepalanya ke kursi.
"Nanti jika udah sampai tolong bangunkan, aku ngantuk banget." ucap Nadia berpura-pura tertidur.
"Baiklah." jawab Elang.
Elang tidak ingin terlalu banyak bertanya kepada wanita yang nulis sampingnya. Dia tahu bahwa wanita itu sedang bersedih. Dia juga tahu bahwa sang sepupu sedang ingin menangis.
Elang membawa mobil dengan kecepatan sedang. Tidak sampai 20 menit, akhirnya mereka telah sampai.
"Nad, kita udah sampai." ucap Elang kepada wanita itu.
Nadia tidak lansung bangun, dia tidak ingin sandiwara tidurnya ketahuan oleh Elang.
"Nad sudah, akhiri kepura-puraan kamu, aku tau bahwa kamu sedang bersedih, menangis lah,jika kamu butuh pundak, ini pundak masih bisa menahan." ucap Elang.
Nadia lansung menangis memeluk sepupunya. Air matanya turun dengan derasnya.
Sedangkan di tempat lain, Nori merasa bersalah. Di tidak sadar bahwa Nadia akan berdiri di belakangnya.
"Kira - kira Nadia marah nggak ya?" tanya Nori bolak balik berjalan di kamarnya. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Ini sudah lebih 25 menit, tapi kenapa dia nggak kasih kabar?" tanya Nori semakin kuatir.
Nori mencoba menghubungi wanita yang mempunyai hubungan spesial dengannya. Namun nomor wanita itu sedang tidak dalam jangkauan.
"Kemana ini Nadia?" tanya Nori.
Nori mencoba menghubungi Elang, namun sama saja bahwa lelaki itu juga tidak mengangkat teleponnya.