Alinshy

Alinshy
Bab 6



Alin mencoba berbicara dengan Cahaya. Dia tidak sengaja melupakan uang study wisata.


"Ya bisa pinjam uangmu dulu nggak? aku yakin kamu masih ada uang pegangan." ucap Alin mencoba berbicara dengan Cahaya. Alin tau bahwa Cahaya mempunyai sisi yang baik yaitu hati yang lembut.


"Aku nggak punya."


"Ayolah cahaya, aku salah apa sama kamu?"


"Kamu tanyakan dirimu sendiri, tega kamu merebut kebahagiaan Rima, padahal kurang baik apa Rima terhadap kamu." ucap Cahaya.


"Aku salah apa coba?"


"Kamu juga suka dengan Elang kan? kamu tau Rima menyukai Elang sejak mereka masih SMP, kenapa kamu malah menyukai Elang? apa karena dia anak orang kaya?"


Alin terkejut mengetahui penyebab teman-temannya menjauhinya. Selama ini dia sudah menutup rapat agar teman-temannya tidak tahu bahwa dia juga menyukai Elang.


"Aku tidak..."


"Katakan padaku bahwa kamu tidak suka dengan Elang? kamu tidak suka Elang kan?" tanya Cahaya memotong pembicaraan Alin.


"Aku masih yakin bahwa kamu tidak menyukai Elang, kamu adalah sahabat terbaik, aku tau kamu malah suka Nori kan?" tanya Cahaya lagi.


Alin merasa tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Dia cahaya ataupun Rima memusuhinya Karena rasa sukanya. Alin akan mencoba membunuh perasaan itu.


"Kamu suka Nori?"


Alin hanya bukan kepalanya sebagai jawaban agar cahaya percaya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Cahaya.


"Alhamdulillah, syukurlah Rima hanya salah paham." ucap Cahaya lansung memeluk Alin.


"Kamu tau tidak, awalnya aku tidak percaya kamu akan mengkhianati Rima, tapi Rima bilang iya, jadi aku berpihak kepada Rima karena Aku pikir kamu benar-benar menghianati kepercayaan sahabatmu sendiri."


"Cahaya, Alin ngapain? dari tadi ngobrol aja, apa sudah siap tugas kalian?" tanya Bu guru di meja kekuasaannya.


"Iya Bu, ini hampir selesai." jawab Alin segera fokus kepada tugasnya.


Alin berjanji kepada dirinya sendiri Alan menghapus rasa cintanya kepada Elang. Dia tidak ingin menyakiti hati Rima.


"Aku hanya akan fokus ke sekolah, aku janji im akan menghapus cintaku untuk dia, lagian ini juga akan menggangu masa depanku, masa depanku masih panjang." ucap Alin di dalam hati.


Bel istirahat berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Guru di kelas Alin sudah keluar dari kelas. Alin memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Ayo Lin kita temui Rima, biar semua beres." ucap Cahaya.


Alin hanya tersenyum mengikuti apa kata Cahaya. Dia tidak ingin teman-temannya terlalu lama membencinya. Karena hanya mereka yang mau berteman dengan dengan dirinya. Di ganggu dan di musuhi Nadia saja sudah membuatnya pusing.


Cahaya dan Alin keluar dari kelas. Di depan kelas mereka Rima sudah menunggu. Rima memandang aneh ketika cahaya berbarengan dengan Alin.


"Tadi aku udah bicara dengan Alin, dan kamu tau kata Alin yang disukai adalah Nori." jawab Cahaya sambil tersenyum.


"Masa iya? banyak loh yang bilang bahwa kemaren Alin menatap Elang sambil senyam-senyum, bahkan berita itu juga sampai ke telinga elang, makanya Elang sangat tidak menyukai dia, karena bagi Elang standar wanitanya tinggi." ucap Rima tersenyum mengejek.


"Seperti mawar mungkin." ucap Cahaya.


"Iya seperti mawar dan aku."


"Kamu? masa iya? alasannya apa?" tanya Cahaya dengan polos.


"Karena kami sama-sama cantik,pintar."


"Alin juga cantik dan pintar." jawab Cahaya.


"Tapi dia tidak kaya raya seperti kamu, dia hanya tinggal dengan neneknya sedangkan orang tuanya bekerja diluar kota." jawab Rima tersenyum mengejek.


Mendengar jawaban Rima membuat hati Alin terluka. Dia tau bahwa Rima mempunyai mulut yang tajam akan tetapi dia tidak menyangka bahwa Rima akan menyakitinya seperti ini.


"Ohw jadi itu sebabnya Elang nampak sangat membenci Alin." ucap Cahaya menganalisis ucapan Rima.


"Iya karena Alin bukan selera dari Elang, apalagi Elang tau bahwa Alin dekat dengan Nori lelaki playboy itu, Nori mana pernah pacaran positif gitu, diakan auranya negatif." jawab Rima.


"Tapi yang di sukai Alin adalah Nori Im, kita harus bantu Alin agar tidak bersama lelaki itu." ucap Cahaya.


" Udahlah Cahaya, jika kamu mau bantu dia silahkan, aku tidak mau Elang membenci aku karena dekat dengan dia, kamu mau dikeluarkan oleh Elang dari sekolah ini? kamu taukan bahwa sekolah ini milik keluarga Elang." ucap Rima.


"Iya, maafkan aku Alin, saran aku jauhi Nori agar kamu tidak kenapa - Napa, jangan rusak masa depan kamu."


"Ia begitu demi duit juga kali, mana mau lelaki ngeluarin duit dengan mudah jika nggak dapat apa-apa." ucap Rima menarik tangan Cahaya untuk pergi meninggalkan Alin.


Alin hanya terdiam mendengar ucapan pedas dari Rima. Hampir dua tahun dia bersahabat dengan Rima namun hari ini adalah hal yang menyakitkan bagi Alin.


Jika biasa Alin akan memaklumi wanita itu. Namun hari ini hatinya telah terluka sekali.


Air mata mengenang di pelupuk matanya. Alin tidak ingin terlihat cengeng menangis di depan umum. Dia mencoba menenangkan hatinya dengan berjalan menuju perpustakaan.


Alin berjalan mencari buku bacaan. Di lorong perpustakaan nampak sepi tidak ada satupun siswa. Air mata Alin akhirnya menetes dengan deras.


"Harusnya aku ke toilet." ucapnya menghapus air matanya dengan cepat.


Alin menghapus air matanya. Dia melanjutkan mengambil buku yang akan dia baca. Dia tidak ingin menghabiskan waktunya menangisi hal yang akan mempengaruhi nilainya di sekolah.


Dia akan belajar dengan giat agar mendapatkan beasiswa di kuliah nanti. Dia tau bahwa nenek ataupun orang tuanya akan bangga jika ia bisa kuliah di kampus terbaik.


Walaupun tidak sekaya teman - temannya akan tetapi keluarga Alin masih keluarga mampu. Dia tidak semiskin apa yang mereka pikirkan. Keluarganya masih mampu untuk sekolah atau melanjutkan kuliah, akan tetapi Alin sangat ingin mencapai cita-citanya dengan dirinya sendiri.