Alinshy

Alinshy
bab 29



"Direktur rumah sakit mau datang hari ini, katanya hari ini direktur baru mau bergabung." ucap salah teman Alin yang satu profesi.


Alin hanya diam tanpa ikut berbicara. Baginya mau siapa saja direkturnya tetap akan sama. Dia hanya ingin bekerja dengan baik tanpa harus mencari tahu siapa direktur mereka selanjutnya.


Bagi Alin ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya. Baginya mau direktur baru atau lama tetap saja posisinya sama.


"Katanya direktur kali ini sangat tampan loh, ah coba aja dia mau sama aku nanti."


"Iya, kan pernah datang ke rumah sakit bawa anaknya, lebih tampan dari dokter Gibran."


"Udah punya anak ya? yah patah hati berjemaah." ucap para gadis.


Alin hanya tersenyum mendengar ucapan teman - temanya. Dia memang sudah tau siapa direktur rumah sakit ini. Dan dia juga sudah tau bahwa anak itu bukan anak kandung Elang Maheswara.


"Alin, kamu kan yang melayani direktur Waktu itu, menurut kamu dia tipe yang cerewet nggak?" tanya dokter Isma.


"Dia sangat perfeksionis, bekerjalah dengan baik." ucap Alin yang memang tau bahwa Elang emang perfeksionis sejak dulu.


"Kamu kenal dia?" tanya yang lain.


"Dulu pernah satu sekolah, tapi hanya kenal."


"Pastinya waktu sekolah kamu tergila - gila dengannya kan?"


"Betul banget." jawab Alin tentu saja dalam hatinya.


"Nggak kok, mana mungkin saya berani suka sama lelaki kaya raya seperti dia." jawab Alin merendah.


"Lin, kenapa kamu menolak dokter Gibran?"


Alin sangat tidak ingin menjawab pertanyaan ini. Hatinya tidak nyaman membahas tentang Gibran. Baginya dokter Gibran memang baik, namun hatinya tetap tidak bisa menerima lelaki itu sebagai pasangannya.


"Ini bisa - bisanya jam kerja bergosip."


Mereka kaget dan berlari ke bagian masing-masing setelah melihat sosok lelaki berdiri dengan jas hitam. Dia tidak lain adalah Elang Maheswara yang merupakan direktur baru di rumah sakit.


"Kamu, ikut ke ruang saya, kamu yang mengajak mereka menggosip kan?" ucap Elang menunjuk Alin.


Semua lansung kaget saat lelaki itu nampak marah kepada Alin. Alin hanya mengikuti lelaki itu dengan wajah tidak terima. Dia tau bahwa lelaki itu akan menindasnya seenaknya.


"Aduh, kenapa Alin yang kena? kasihan dia jika kena tegur."


"Ih bisa - bisa Alin kena pecat." jawab yang lain.


"Ayo kerja, nanti malah kita pula yang kena marah."


Elang sudah duduk di meja kebesarannya. Sedangkan Alin masih berdiri di depan meja Elang.


"Kamu kerja atau pacaran?"


Alin bingung dengan pertanyaan direkturnya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan ini.


"Apa hubungannya masalah pribadi saya dengan bapak?" tanya Alin.


"Karena ini tempat bekerja, bukan tempat pacaran, jika saya mendengar kamu masih dekat dengan dokter itu maka saya akan memindahkan dokter itu ke Afrika sana." ucap Elang sangat begitu cemburu.


Alin heran dengan lelaki yang baru saja menjadi bosnya. Namun dia malas meladeni bosnya itu saat ini.


"Apakah masih ada? karena saya mau bekerja." ucap Alin membuat Elang makin kesal.


"Kamu nanti malam, aku mau datang ke rumah." ucap Elang dengan cepat. Elang menurunkan egonya karena tidak sanggup untuk seperti ini terus menerus.


"Tidak menerima tamu malam - malam, lagian ngapain bapak kerumah karyawan bapak?" tanya Alin.


"Saya datang bukan sebagai bos, tapi datang sebagai teman lama."


"Tidak menerima teman lama datang malam - malam."


Alin kaget dengan jawaban lelaki itu. Karena dia tidak pernah berhubungan asmara dengan lelaki itu.


"Sejak kapan kita pacaran? bapak jangan mimpi pak."


"Sejak hari ini." ucap Elang lansung berdiri di depan Alin.


Elang lansung memegang bahu Alin dan menatap mata wanita itu. Di matanya wanita itu tetap cantik seperti dulu.


Alin lansung grogi ketika Elang meletakkan tangannya di bahunya. Apalagi lelaki itu sedang menatapnya dengan inten.


"Kamu sangat cantik di mataku sejak dulu Alinshy, aku sudah sangat menyukai kamu sejak lama, dan aku takut untuk kehilangan kamu, maka aku ingin kamu cepat - cepat jadi milik aku." ucap Elang meyakinkan Alin.


Aku sangat senang karena dia pun juga masih menyukai Elang. Namun dia tidak memperlihatkan kesenangannya.


"Ini rumah sakit tempat membahas kerja, bukan tempat menyatakan cinta." ucap Alin membuat Elang sedikit malu.


Dia sadar bahwa dia telah lupa teman karena kecemburuan dirinya saat mendengar bahwa ada dokter yang menyukai Alin.


"Jika begitu, temani aku makan siang, maka aku akan menembak kamu di temani romantis." ucap Elang.


"Tapi udah nggak suprise lagi." ucap Alin sengaja memperlihatkan wajah tidak senang.


"Alinshy, aku tidak peduli di manapun berada, bagiku di manapun itu aku tidak bisa menahan diri, aku mencintaimu, maukah kamu jadi istri aku?" tanya Elang.


Alin menggelengkan kepalanya membuat Elang semakin frustasi.


"Kenapa? apa kamu sudah punya lelaki lain?" tanya Elang.


Alin menganggukkan kepalanya membuat Elang kecewa. Dia tidak tau bahwa wanita itu sudah ada yang di sukainya.


"Siapa?"


"Kamu sangat kenal banget dengan lelaki ini." ucap Alin.


"Baik, jika sudah tidak ada lagi, aku permisi." ucap Alin mau pergi dari ruangan Elang.


"Pokoknya nanti malam aku tetap datang kerumah mu, mau kamu sudah punya pacar atau tidak, aku akan melamar kamu kepada orang tua kamu lansung." ucap Elang tidak mau kalah.


"Silahkan di coba." jawab Alin berjalan keluar dari ruangan Elang


Dia sangat berbahagia keluar dari ruangan Elang. Karena dia sudah tau bagaimana perasaan Elang kepadanya.


...****************...


Benar seperti ucapan Elang, dia datang bersama dengan keluarganya. Alin hanya diam mendengar penjelasan tujuan kedatangan Elang.


"Jadi begini om Tante, saya ini sejak datang ke sini untuk melamar putri om Tante, aku sudah menyukai Alin sejak zaman sekolah, namun kami waktu itu masih fokus menuntut ilmu, apalagi aku yang notabenenya jadi tulang punggung keluarga setelah kepergian papa." ucap Elang menjelaskan sedetail mungkin.


"Kami serahkan semua kepada Alin, kami nggak bisa memutuskan Elang." jawab Aldi.


"Bagaimana Alin, apakah kamu mau menerima lamaran Elang?" tanya Indri mamanya Alin.


Nadia juga ikut ke sana. Dia dan papanya sebagai keluarga Elang. Namun hatinya merasa kecewa sedikit karena keduluan Elang.


Dia menatap Nori yang juga ada di antara mereka. Namun lelaki itu masih juga tidak peka terhadap keinginan Nadia. Bahkan percakapan keduanya sudah dari seminggu yang lalu namun Nori masih saja belum melamarnya.


"Bagaimana Alin?" tanya Aldi lagi.


Alin menganggukkan kepalanya karena ia juga sudah lama menunggu momen ini.


"Allamdulillah." ucap Elang senang.


"Kamu bersyukur Lin, tidak di pacari tapi lansung dihalalkan."menyindir ucapan dia menyindir sang kekasih.


"Kode itu Nori, kamu kapan melamar Nadia? nanti di ambil orang loh." ucap mama Indri membuat yang lain tertawa. Sedangkan Nori hanya menggaruk kepalanya.