Alinshy

Alinshy
Bab 28



Nori berjalan masuk ke area lobi kantor. Dia sudah diarahkan oleh resepsionis menuju ruang meeting.Namun Nori ingin di antarkan ke ruang Nadia sebelum ke ruang rapat. Karena dia sangat ingin berbincang dengan wanita itu.


"Maaf mbak, saya mau ke ruang Bu Nadia dulu,mungkin mbak tunggu yang lainnya saja." ucap Nori kepada resepsionis yang mengantarkannya.


"Ohw baik pak." ucap resepsionis yang tidak mengantarkannya lagi karena dia sudah tau bahwa Nori sudah sering ke ruang Nadia.


Nori berjalan ke ruang Nadia. Dia tidak melihat sang sekretaris duduk di mejanya.


Nori lansung membuka pintu ruangan Nadia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Nori melihat Nadia sedang sibuk bersama dengan sekretarisnya menyiapkan berkas yang akan di bahas ketika rapat.


Kantor ini di bangun oleh Nadia dengan Elang bersama. Di karenakan Elang sangat sibuk mengurus perusahaan Peninggalan papanya. Perusahaan itu hampir 80 persen sudah menjadi milik keluarga Maheswara. Maka untuk itu Nadia yang bekerja sebagai CEO di sana.


"Bu, ada pak Nori." lapor sang sekretaris karena Nadia berpura-pura tidak melihat lelaki itu.


Nadia sebenarnya kaget saat Nori membuka pintu tanpa di ketuk terlebih dahulu. Akan tetapi dia berhasil menyembunyikan kekagetannya.


"Bisa tinggalkan kami berdua Nov?" tanya Nori kepada Novi.


"Kamu lagi sibuk, saya sangat butuh bantuan Novi, ada apa?" tanya Nadia tanpa melihat Nori karena matanya tertuju ke berkas yang ada di tangannya.


"Buk biar saya siapkan di ruang meeting, ini hampir selesai."


"Selesaikan dulu Nov." perintah Nadia.


"Pak Nori apakah ini masalah pribadi? jika masalah pribadi maka sepertinya kita bisa bahas nanti saja." ucap Nadia.


"Baiklah." ucap Nori mengalah.


Nori merasakan ada atmosfer lain di ruangan ini. Dia melihat perbedaan Nadia hari ini dengan biasanya. Jika biasanya tanpa di minta waktu, Nadia akan senang hati meluangkan waktunya untuknya.


"Nadia benar - benar berubah, mungkin karena sibuk." ucapnya dalam hati.


Nori duduk di sofa yang ada di ruang Nadia. Dia merasa aneh ketika di cuekin pertama kali oleh Nadia.


"Kenapa rasanya aneh, hati gua rasanya nggak jelas di cuekin Nadia." gumamnya.


"Pak Nori, saya akan keruangan meeting, apakah bapak akan menunggu di sini?" tanya Nadia.


"Aku ikut dong, aku mewakili Kenzu." jawab Nori membuat Nadia semakin kaget.


"Ohw, ya udah mari pak." ucap Nadia.


"Jika dia berada di sisiku terus, bagaimana aku bisa move on dari dia." ucap Nadia dalam hati.


Niat ingin menghindar dari Nori malah membuat dia harus membahas masalah kontrak kerja.


Mereka sudah sampai di ruang meeting. Di sana sudah ada Jefri Maheswara yang merupakan papa Nadia. Elang meminta bantuan pamannya untuk mengecek pekerjaan Nadia karena dia sedang sibuk.


Semenjak berpisah dari mama Nadia, papa Nadia memang hanya fokus membantu anak dan keponakannya dalam membangun usaha mereka dari nol.


Dan untuk saat ini Jefri Maheswara menjadia penasehat di perusahaan yang pimpin Elang maupun Nadia.


Dan selain itu juga sudah ada sekretaris Kenzu di sana untuk membantu Nori.


Meeting pun di mulai, Nadia mempresentasikan proposal yang ia rancang dengan sang sekretaris. Sedangkan Nori malah memperhatikan wajah Nadia. Dia tidak memperhatikan isi materi yang di sampaikan oleh Nadia.


"Kenapa matanya kayak sembab? apa dia menangis?" gumamnya Nori.


Semua menoleh kepada Nori karena mendengar walaupun tidak jelas.


"Pak Nori apakah ada yang ingin bapak sampaikan?" tanya Nadia menegur Nori yang sejak tadi memperhatikannya dengan mata tidak berkedip.


"Pak NORI." panggil Nadia lagi.


Nori lansung kaget saat Nadia memanggilnya ke dua kalinya.


"Eh iya."


"Kamu cantik."


Semua tertawa mendengar Nori memuji Nadia. Akan tetapi tidak dengan Nadia.


"Apakah bapak memperhatikan meeting kali ini?"


"Pastinya, saya malah mau tanda tangan kontrak lansung, proposalnya menarik." jawab Nori.


"Novi mana berkasnya, sini aku tanda tangani." ucap Nori kepada Novi.


Sekretaris Kenzu kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut kakak abangnya. Jika bosnya tau, ia yakin bosnya akan marah kepada abangnya ini yang di anggap ceroboh.


Novi menyerahkan surat kontraknya. Tanpa membaca dan berpikir panjang, Nori lansung menanda tangani surat kontrak tersebut.


"Pak apakah bapak yakin nggak baca dulu?" tanya sekretaris Kenzu.


"Ah tidak usah, toh Nadia itu pacarku, jadi tidak mungkin dia mau menjebak aku." jawab Nori.


"Karena meeting udah selesai, mari kamu ikut aku." ucap Nori lagi kepada Nadia.


Nadia berpamitan kepada papanya dan yang lainnya untuk kembali ke ruangannya.


"Mau ngapain?" tanya Nadia ketika baru menutup pintu ruangannya.


"kamu nggak kangen aku?"tanya Nori kepada Nadia.


"Sudah bertemu masakannya juga, apa hanya ini yang mau kamu bicarakan?" tanya Nadia merasa malas melayani Nori. Nadia duduk di kursi kebesarannya.


"Kenapa kamu tidak memberi kabar aku tadi malam?" tanya Nori juga duduk di hadapan Nadia.


"Aku lupa dan lansung tertidur sampai rumah." jawab Nadia.


"Trus kenapa ponsel kamu tidak bisa di hubungi sampai tadi pagi?"


"Ya aku nggak tau kalau ponsel aku mati." jawab Nadia.


"Baiklah, lain kali jangan begini lagi, kamu membuat aku kuatir."


"Hmmmm."


"Ya udah ayok kita cari makan siang, aku lapar."


"Kamu makan sendiri aja ya, aku ada janji sama yang lain." jawab Nadia ingin menghindar.


"Aku ikut kemana pun kamu pergi."


Nadia mencoba mencari alasan namun Nori bisa membaca apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu.


"Jangan pernah berpikir untuk menghindari aku karena kamu mendengar ucapan aku tadi malam."


"Omongan kamu tadi malam? emang ngomong apa?" tanya Nadia berpura-pura.


"Stop sandiwara kamu, aku bukan baru kenal setahun sama kamu, maafkan aku karena aku tidak pernah memikirkan perasaan kamu, selama ini aku memang egois, ternyata sehari kamu ngambekan sudah membuat kepalaku pusing." ucap Nori memegang tangan Nadia yang ada di atas meja.


"Tapi mungkin kita memang harus selesai, karena masih banyak wanita yang mengejar kamu, aku juga tidak mau harus mencintai terus tanpa harus di cintai."


"Kata siapa kamu tidak di cintai, aku menyayangimu sayang, jangan berujar seperti itu lagi." ucap Nori semakin memperat menggenggam tangan Nadia.


"Jangan banyak bicara aja, kamu tidak akan pernah bisa membuktikan."


"Kamu mau apa yang aku lakukan?"


"Aku ingin kamu melamar aku." ucap Nadia dalam hatinya. Dia sangat ingin di lamar oleh lelaki itu. Karena dia juga sudah lama berpacaran dengan Nori.


"Mau apa Nad?"


"Aku tidak mau apa - apa, jika kamu memang sayang dengan aku maka kamu akan melakukan sesuatu yang di senangi oleh aku tanpa harus bertanya." ucap Nadia.